Sedikit anak muda yang menaruh perhatian terhadap kesehatan. Pada umumnya pemuda – pemudi di Indonesia tidak peduli terhadap isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat. Sebagian besa anak muda, terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan, terkesan acuh terhadap hal-hal seperti itu dan terlalu larut dengan gemerlapnya perkotaan. Berbeda dengan Mesty Ariotedjo (24), perempuan cantik yang selama satu tahun terakhir ini menjalani kerja praktek sebagai Dokter PTT (pegawai tidak tetap) di Ruteng, NTT ini mengaku sangat peduli dengan kesehatan. Gemerlapnya kehidupan perkotaan tidak membuatnya menutup mata tentang kesehatan, terutama kesehatan anak. Mesty mengatakan bahwa, menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil. “Dari kecil saya sangat senang menolong orang. Dan, pekerjaan kongkrit yang berhubungan dengan menolong orang lain adalah menjadi dokter,” tutur perempuan cantik ini. Mesty mengaku sangat meminati ilmu kesehatan anak. Dan ia berniat untuk mendalami minatnya tersebut dan berkeinginan untuk menjadi Dokter Anak. Saat ini ia sudah menjadi asisten salah satu dokter anak di RSCM. Dan Mesty menambahkan, bahwa ia ingin segera meneruskan S2 nya dalam waktu dekat, setelah ia menyelesaikan kerja prakteknya sebagai Dokter PTT nya bulan ini. Sejak Oktober tahun lalu, model yang juga mahir bermain Harpa ini menjalani kerja praktek sebagai Dokter PTT di RSUD Ruteng, yang merupakan Rumah Sakit Pemerintah satu-satunya yang melayani tiga Kabupaten di daerah tersebut. Hal itu dilakukannya untuk mendapatkan izin praktek di Jakarta. Selama satu tahun, Mesty menjalani praktek di NTT. Selama delapan bulan pertama, dirinya ditempatkan di Rumah Sakit, menangani Poliklinik, Bangsal, IGD, dan lain sebagainya. Setelah itu, selama empat bulan terakhir dirinya melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang perilaku hidup sehat ke Puskesmas, Rutan, Sekolah, serta ke rumah Tokoh Masyarakat. Dan, selama empat bulan terakhir tersebut, Mesty dan tim melakukan riset kecil tentang Gizi anak di daerah tersebut. Mesty mengaku memilih melakukan praktek di NTT karena dirinya mengaku sangat tertarik dengan ilmu kesehatan anak, dan NTT adalah daerah dengan angka tertinggi untuk kasus kematian anak dan bayi. Sehingga dirinya merasa tertarik untuk melakukan praktek di daerah tersebut. Mesty menambahkan, bahwa dirinya memilih praktek disana agar bisa lebih mengetahui dan memahami kondisi nyata yang dialami masyarakat Indonesia yang sebenarnya, terlebih karena NTT adalah daerah dengan pendapatan terkecil per-kapita. Sehingga, ia bisa belajar dan mendapat banyak masukan lebih luas tentang bagaimana menangani pasien dengan berbagai macam kondisi. dan dia mengatakan pengalaman tersebut tidak akan bisa ia dapatkan jika menjalani praktek di daerah di Jabodetabek. Mesty mengatakan, banyak pengalaman yang tidak terduga yang ia dapatkan selama menjalani praktek di Ruteng, seperti ketika ia terpaksa harus berjaga selama satu malam penuh karena satu satu Rumah Sakit, hanya dilayani oleh satu Dokter praktek, sementara Rumah Sakit tersebut melayani banyak pasien, yaitu masyarakat dari tiga Kabupaten. Dalam satu hari jaga, hanya satu orang Dokter, dan ada sekitar 10-15 pasien datang ke IGD untuk dilayani. Tidak pernah terbayang sebelumnya, ketika pada suatu saat, terdapat tiga pasien dengan keluhan berat yang berbeda. Sakit jantung, perdarahan kepala, dan penurunan kesadaran. Mesty mengaku bingung menentukan pasien mana yang harus ditangani terlebih dahulu. “Itu pengalaman sangat berharga, melatih saya untuk bagaimana bekerja menyelamatkan nyawa pasien secara efisien dan cepat,” ucapnya. Karena padatnya aktivitas Rumah Sakit yang tidak dibarengi dengan tenaga medis yang memadai, selama ia menjalani kerja praktek, Mesty mengaku tidak memiliki waktu libur. Ia hanya mendapat waktu luang hanya pada saat dirinya lepas dinas malam. Waktu lepas dinas malam adalah dari jam tujuh pagi, dan dirinya dapat beristirahat sampai waktu dinas malam kembali tiba, jam Sembilan malam. Waktu tersebut dimanfaatkan Mesty untuk tidur. “Tidak seperti di Jakarta, Disini tidak ada yang bisa dilakukan selain tidur,” ucapnya. Dirinya mengaku tidak bisa melakukan kegitannya ketika di Jakarta. dan dirinya mengaku bahwa ia mengalami proses pendewasaan diri menjadi pribadi yang lebih sabar selama menjalani praktek disana. Karena menurutnya, “terkadang kita tidak selalu bisa melakukan semua yang kita inginkan,” ujarnya ketika ditemui SP disela-sela dirinya menghadiri sebuah acara di Senayan, Jakarta, (23/10). Bercerita tentang pasien anak-anak, Mesty mengatakan, dua pertiga kasus penyakit anak di Ruteng adalah Diare. Dan Mesty mengatakan bahwa kebanyakan pasien yang datang sudah dalam keadaan dehidrasi ringan sampai dehidrasi berat. Dan dirinya mengaku sangat sedih, karena dari kasus tersebut, penyebabnya adalah kurangnya awareness dari orang tua, mengingat diare adalah penyakit berbahaya, karena diare adalah penyebab kematian anak tertinggi. “Karena banyaknya kasus diare, saya sampai khatam,” ucapnya. Lalu, Mesty menambahkan, dirinya juga menyayangkan kurangnya perhatian Pemerintah. Karena, factor kedua dari kasus diare anak tersebut adalah, kurangnya akses warga untuk menempuh perjalanan ke Rumah Sakit. Masyarakat harus menempuh jarak sekitar 4 jam dalam keadaan sakit, untuk sampai di Rumah Sakit. Itu sangat membuat Mesty merasa miris. Terlepas dari rasa prihatinnya atas kondisi tersebut, Mesty mengaku ada beberapa pengalaman berkesan, yang dapat dibanggakan olehnya ketika berada di Ruteng. Diantaranya adalah, masyarakat yang sangat terbuka dan sangat antusias dengan apa yang diedukasikan kepada warga tentang perilaku hidup sehat, dan warga cepat menyerap pengetahuan tersebut. terlihat dari banyaknya warga yang melakukan semua arahan yang diberikan oleh Mesty dan tim Dokter lainnya pada saat penyuluhan, sehingga meningkatkan kepedulian warga. Mesty berharap, Pemerintah dapat turut serta dalam membantu meningkatkan pelayanan kesehatan kepada warga, terutama di NTT, agar warga dapat mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai. “Walaupun sangat banyak tenaga medis handal di Indonesia, kalau fasilitasnya dan persediaan obat minim, dokter tidak akan bisa berbuat banyak,” ucapnya. Dirinya berharap, Pemerintah dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat, dan tingkatkan akses transportasi masyarakat untuk mencapai ke rumah sakit.