Maaf, Aku Tidak Mencintaimu
Dari awal kamu ingin mengenalku, aku sudah cukup ramah memperkenalkan diri. Aku melihat pandangan berbeda di matamu. Kutepis agar tak bercabang pemikiranku. Sebenarnya pertemuan ini adalah sebuah keterpaksaan. Aku tidak suka berkenalan dengan cara yang sudah direncanakan. Aku lebih senang jika perkenalan itu terjadi dengan begitu saja. Terbiasa dan mengalir karena waktu, tempat, dan keadaan. Kalau bukan karena sahabatku yang memaksa, jujur aku tak ingin mengenal pria yang sama sekali asing bagiku.
Kita bertemu di tempat keramaian. Tapi aku merasakan kesunyian. Aku tipe wanita yang tidak banyak bicara dengan orang asing. Aku hanya bicara ketika kamu bertanya saja. Itupun aku jawab dengan singkat. Maaf, bukan karena sombong hanya saja aku belum terbiasa dengan kehadiranmu. Tak ingin berlama-lama, akhirnya setelah 30 menit berlalu aku memutuskan untuk pergi dengan alasan ada acara yang tak bisa aku tinggalkan. Nampaknya kamu mengerti bahwa aku tidak tertarik kepada dirimu. Aku berharap seperti itu.
Beberapa hari kemudian, ponselku seringkali bergetar. Pesan darimu selalu kuacuhkan. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Akhirnya aku membalas pesan singkatmu. Kutulis segala keluhan. Kamu harus mengerti bahwa aku belum siap dekat dengan lelaki yang bermain dengan sebuah rasa. Masa laluku begitu pahit. Aku tak ingin hal itu terjadi lagi. Terlepas dari alasanku tadi, aku memang benar-benar tak ingin dekat denganmu. Maaf, aku terlalu jujur dengan perasaanku. Tapi aku lakukan semua ini agar kamu tak kecewa di lain hari. Sebelum melangkah lebih tajam, kuharap kamu mundur dari pandanganku. Banyak wanita yang lebih baik dariku. Aku hanya wanita yang tak punya pesona. Tak ada yang dibanggakan dari rupa maupun perilaku. Sekali lagi aku minta maaf karena terlalu tegas dalam bertindak. Maaf, aku tak memikirkan perasaanmu. Ini semua demi kebaikanmu.
Semakin mempertegas ucapan, ternyata kamu lebih liar dari pemikiranku. Bagaimana bisa kamu berkata cinta sedang kita bertemu hanya sekali.