[Jalan-jalan] Jambi: Kedai kopi Ahok yang multi etnis (5)
Inilah bagian paling akhir dari cerita jalan-jalan Jambi. Meski masih merasa kurang, tapi mau gimana? Esok harus pulang. Jadi dua hari terakhir, culinary tour!
Day 6: Kedai kopi
Pagi. Kami menuju Jl. Panglima Polim (nama jalan di sini mirip di Jakarta) untuk menikmati Mie Akheng. Mi yang bikin saya penasaran dan sampai nyasar! Baca bagian pertama. Saya pesan mi pangsit, suami nasi tim. Review singkat: tekstur mi pangsit (mi khas Jambi itu mi-nya langsing) agak padat dan sedikit lebih tebal dibanding mi Alex; kuah kurang gurih dikit; irisan daging sama, seiprit; tempatnya rame banget, mungkin karena tempat ini terkenal dan cukup tua kali ya.
Kalau nasi tim, kata suami sih enak, manis-gurihnya itu pas. Porsi nasi cocok buat mereka yang punya usus sampai jempol. Potongan daging ayam dan pangsit babi (atau apalah itu, yang dipotong kotak-kota) juga melimpah, ditambah ada telur bacem dan acar plus kuah. Di sini ada juga roti panggang dan cakue! Sepertinya di sini nggak buka sampai malam. Kalau malam, persis samping Mie Akheng, ada Kwetiau Sunheng yang nggak kalah lezat.
Setelah itu, kami lanjut ke Kedai Kopi Ahok, Jl. Hayam Wuruk, persis di (perempatan) Simpang Jelutung. Jangan berpikir kedai ini punya Basuki T. Purnama aka Ahok, Gubernur Jakarta (2012/2014-2017). Bukan, karena nggak ada hubungannya. Kebetulan saja, nama mereka sama. Kedai ini nggak cuma jual kopi, tapi ada mi celor, gado-gado, soto, dan kudapan agar-agar singkong, pempek, plus cakue yang tersaji di meja. Namanya sih kudapan, tapi saya nyebutnya makanan berat.
Kami ke sini langsung pesan es kopi susu. Saya kan nggak gitu suka kopi, tapi pas minum es kopi susu di sini kok suka ya? Bisa oks gitu racikannya, nancep di hati. Soalnya lebih terasa susu, tapi rasa fruity dari kopi juga muncul loh. Kata suami, “Kalau tugas ke Jambi, aku mau tiap pagi ngopi di situ”. Mungkin kedai ini pakai kopi Jambi: AAA. Ini analisis sok tahu, karena di rumah ada kopi itu tapi saya nggak pernah minum.
Buat mi celor, saya nggak gitu suka sama kuah santan (udah dikasih perasan jeruk limau) dan tekstur mi yang tebal. Mungkin ini efek kekenyangan mi Akheng & es kopsus. Padahal irisan ayamnya gurih manis gitu, makin enak kalau ditambah sambal. Untuk tempat, di sini rame banget. Kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak, multi etnis, multi profesi, multi kepercayaan, tetap akur duduk berdampingan. Inilah Indonesia. Kedainya nggak begitu besar, cuma ada beberapa set meja, satu meja buat duduk dua-empat orang. Tapi, lantai agak kotor dengan tisu dan plastik makanan berserakan.
Kalau baca tulisan food blogger dan media lokal, kedua tempat di atas menjadi rujukan culinary tour. Keduanya dianggap kuliner legendaris, yang patut dinikmati ketika Anda ke Jambi. Keduanya juga usaha kuliner yang dijalankan keluarga secara turun temurun. Malam. Saya nonton Passengers di Mal WTC Batanghari --lagi-lagi nonton--, suami dan teman-temannya karaoke.
Oiya, sebelum nonton, kami makan di restoran yang menjual Chinese food. Nah, saya pesan kwetiau pedas manis. Rasanya enak loh! Tekstur kwetiau-nya beda dibanding kwetiau Jakarta. Menurut saya sih, itu kwetiau berbahan dasar tepung beras, mirip kwetiau Semarang. Kalau kwetiau di Jakarta kan kenyal kayak permen Yuppie. Kayak kebanyakan pati kanji gitu.
Setelah beberapa kali lewat Simpang Jelutung, saya sadar kalau jarak cafe --tempat saya neduh-- ke Jl. Hayam Wuruk itu lumayan. Ya sekitar 700 meter lah. Lumayan lah buat orang yang sok-sokan jadi petualang. By the way, di sini ada layanan ojek online loh. GrabMe. Saya belum pernah menggunakan layanannya, tapi sudah unduh aplikasinya. Kalau ke Jambi lagi, saya bakal gunain GrabMe plus nyicip mi pangsit sekitar Jl. Hayam Wuruk. Oiya saya juga mau mencicipi ragam boga di Jl. Orang Kayo Hitam plus city tour yang belum terlaksana.
Day 7: Pulang!
Karena siang ini pulang, jadi kami beli oleh-oleh di rumah makan pempek Selamat. Ada sebagian oleh-oleh saya titip ke suami, karena saya ke Semarang, dia ke Jakarta.
Buat teman-teman terkasih yang belum sempat membaca bagian pertama-keempat, bisa di baca di sini. Monggo:
[Jalan-jalan] Jambi: Nyasar ke hotel remang-remang (1)
[Jalan-jalan] Jambi: Sarolangun-Merangin (2)
[Jalan-jalan] Jambi: Merangin Geopark, kondangan, dan durian (3)