Murad V: Sultan 93 Hari
Murad V (berkuasa 30 Mei 1876 sampai 31 Agustus 1876) naik tahta usai pamannya, Abdul Aziz, diturunkan dari tampuk kesultanan.
Sultan Murad V adalah orang yang sangat cerdas, memiliki pengetahuan yang baik sekali tentang Turki dan Arab, juga amat menaruh perhatian kepada sastra. Ia juga pernah bertandang ke Eropa dan bertemu dengan orang-orang Eropa. Namun, ia terjebak dalam jaring Freemasonry. Adalah Namik Kemal, penulis sekaligus anggota Gerakan Turki Muda, yang memengaruhinya dengan sangat, juga dengan rekan-rekannya yang lain di Gerakan Turki Muda. Sultan menjadi orang yang sangat cenderung pada undang-undang positif buatan manusia yang liberal dan sekular.
Di tengah-tengah kekuasaannya, ia menderita stres dan kerusakan otak. Ia sering dihantui rasa takut yang berlebihan ketika bangun malam usai terbunuhnya Abdul Aziz. Penyakit otak dan akalnya ini sampai turun ke pencernaannya, sehingga kesehatannya terus memburuk. Di saat seperti ini, Midhat Pasha terus mematangkan undang-undang positif yang ia adopsi dari Barat dan mempelajarinya. Disebutkan bahwa sakit akalnya begitu jelas di mata orang banyak, sehingga tak ada jalan lain selain ia harus dicopot dari jabatannya, hanya 93 hari setelah ia diangkat sebagai sultan.
Usai dicopot dari jabatannya, ia pun sembuh dari penyakitnya. Ia tinggal di Istana Jaraghan hingga wafatnya di usia 63 tahun pada tahun 1904. Para pemuda yang tergabung dalam Gerakan Persatuan dan Pembangunan (nama lain dari Gerakan Turki Muda) telah memberikan pengaruh besar pada diri Murad, hingga ia tak bisa mengelak dari jeratan Freemasonry. Ia menjadi pecandu minuman keras dan filsafat Barat.
Usai dicopotnya Murad V, Abdul Hamid II naik sebagai sultan.
(Sumber; Wikipedia: Murad V, Midhat Pasha, Namik Kemal; Artikel Republika: Murad V; Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah, dengan pengubahan)










