Abdurrahman I: Pendiri Emirat Bani Umayyah di Cordoba
Namanya Abdurrahman ibn Mu'awiyah ibn Hisyam ibn Abdil Malik. Ketika fitnah ketiga mencapai puncaknya di tahun 750, hampir seluruh keluarga Bani Umayyah dijatuhi hukuman mati oleh Panglima Abdullah ibn Ali. Hanya segelintir yang mampu selamat, termasuk Abdurrahman yang ketika itu masih berusia 19 tahun.
Ia lari dari Irak, kemudian singgah di Raqqah selama lima tahun. Setelah itu, ia pergi ke Afrika Utara, kemudian mengutus Badr, salah satu loyalis Bani Umayyah, untuk menjadi mata-mata. Ia berkata kepada Bani Mudhar, "Bagaimana jika ada seorang dari istana khalifah, apa kalian mau membaiatnya?"
Bani Mudhar menjawab, "Bagaimana bisa?"
"Ini Abdurrahman ibn Mu'awiyah, (maka baiatlah ia)!" jawab Badr.
Selanjutnya, Abdurrahman berlayar menuju Almunecar, daerah timur Malaga, dan mendarat di sana. Ia langsung disambut oleh pasukan Syam yang loyal pada Bani Umayyah.
Dengan pasukan yang ada itu, ia berniat menyerang Andalusia yang kala itu dikuasai oleh Yusuf ibn Abdirrahman Al Fihri. Abdurrahman berhasil menang dan menjadikan Cordoba sebagai pusat pemerintahannya.
Ia dan anak-anaknya tidak bergelar khalifah, melainkan emir, hingga saatnya ketika Abbasiyah di Baghdad mulai melemah, Emirat Cordoba berubah menjadi Khilafah Cordoba di bawah pimpinan Abdurrahman An Nashir.
Ia berkuasa selama 32 tahun. Masa-masanya diwarnai kegemilangan. Ia mampu meredam gejolak yang ditimbulkan oleh kaum Yamaniyyun (Arab Selatan) dan kaum Barbar. Ia juga mampu mengusir pasukan kiriman Abu Ja'far Al Manshur yang berniat merebut Andalusia dan mengembalikannya ke tangan Bani Abbas.
Ketika Harun Ar Rasyid berkuasa di Baghdad, ia tidak sempat berpikir untuk menyerang Emirat Cordoba, karena selain jaraknya yang jauh, Byzantium yang berada di dekat mereka juga mulai berulah. Karena Ar Rasyid sibuk memerangi Byzantium, Charlemagne merasa punya peluang untuk menyerang Emirat Cordoba. Namun gejolak dalam negerinya membuatnya urung untuk pergi.
Abdurrahman terus memperkuat basis negaranya itu dari berbagai sisi. Dari sisi militer, ia berhasil membentuk armada bersenjata yang jumlahnya tak kurang dari 40 ribu pasukan. Ia juga memperkuat pertahanan negerinya dengan membentuk armada laut. Armada laut inilah yang nantinya di zaman Abdurrahman III An Nashir menjadi armada laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.
Ia juga mengembangkan peradaban di sana. Dengan tangan dinginnya, Cordoba menjadi salah satu kota terbaik di dunia setelah Baghdad dan Konstantinopel. Cordoba juga tidak kalah dengan Baghdad dalam hal keilmuan. Bila Baghdad terkenal dengan sebutan "Negeri 1001 Malam", maka Cordoba terkenal sebagai "Pengantin Andalusia" karena keindahan dan kemegahannya.
Tiga tahun sebelum wafatnya, ia memugari Masjid Jami' Cordoba. Atapnya disangga oleh 1293 tiang. Hingga hari ini, masjid itu masih gagah berdiri dan menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan selain Istana Alhambra, istananya para emir Granada.
Abdurrahman juga dikenal sebagai orator ulung dan seseorang berkepribadian tangguh. Itu terbukti dari bagaimana ia bisa mendirikan Daulah Umawiyyah II di Cordoba setelah sebelumnya ia lari dari eksekusi Bani Abbas dalam keadaan nyaris tidak punya teman.
Cukuplah menjadi bukti ketangguhannya ketika seterunya, Abu Ja'far Al Manshur, memujinya dan menjulukinya dengan "Rajawali Quraisy" dalam sebuah pembicaraannya dengan teman-temannya.
Abdurrahman wafat di tahun 788 dalam usianya yang ke-57 di Cordoba. Anaknya yang bernama Hisyam melanjutkan kepemimpinannya.
(Sumber: Abdurrahman Ad Dakhil; Siyar A'lam An Nubala'; Tarikh Al Khulafa'; Wikipedia: Abd al Rahman I)











