Ibu menangis
Siang tadi Miko lebih bersemangat dari biasanya. Saking semangatnya dia bercerita sampai serak seperti kehabisan suara.
Aku dan Miko—yang antusias dengan ceritanya—menuju dapur menemui ibu. Miko ingin berbagi cerita pada ibu juga. Raut ibu seperti ber-hadeh karena merasa waktu membaca artikelnya direnggut oleh celoteh kami. Tapi ibu tetap mau mendengarkan.
Ibu berkali-kali tidak paham tentang apa yang kami bicarakan. Berkali-kali pula kami berulang menjelaskan. Ibu tetap tidak paham.
Geram. Karena ibu harusnya paham.
Kuambil gawai, kutunjukkan apa maksudku.
"Ini bu, ibu pasti familiar. Ingat-ingat lagi, ibu pasti paham benar. Aku yakin."
Aku dan Miko terduduk lelah setelah berbusa menjelaskan tentang apa yang ibu lupa.
Ibu berkutat pada layar gawai yang kutunjukkan. Seperti mulai mengingat sesuatu.
Gilir aku yang ber-hadeh terhadap Miko. Kenapa kita gagal mendapatkan impresi ibu. Aku pikir cerita kita sudah baik sekali.
Ibu bangkit dengan bercucuran air mata. Kemudian memelukku.
Aku tertawa.
"Ibu juga membayangkan kamu wisuda di sana, sebagaimana gagahnya."
Aku menangis.
Miko sialan, ini kan bukan maksud ceritanya.
Saburai, 28 Maret 2021















