Pak, aku tetap ditempat yang sama. Belum ada kemajuan apa-apa. Rasa dendam masih terawat cuman tidak lagi terlalu menggangguku. Lelah juga untuk menangisi sesuatu yang telah berlalu.
Aku dikelilingi oleh banyak orang hebat, ambisi. Aku sibuk mendukung mereka, ikut berpesta atas pencapaian mereka, sedikitpun aku tidak merasa harus berkompetisi dengan takdir mereka. Entah aku bodoh atau aku tidak peka dengan kode yang Allah kasih.
Aku tetap jadi orang paling santai, diam dikamar berlama-lama. Bermain sosial media, sesekali mencari pekerjaan paruh waktu diinternet. Sampingan agar aku punya kesibukan lebih.
Pak, kemarin sore aku keliling bersama senja untuk membeli beberapa keperluan dia selama magang di pare-pare. Aku sedikit bercerita tentang apa yang selama ini menjadi kebingungkan aku, susah percaya diri, labil, tidak pernah punya keberanian mengambil langkah baru. Senja bilang "pada akhirnya ann, kita akan hidup dengan diri sendiri, pada akhirnya kita harus mandiri dan tidak dapat bergantung pada siapapun. Pilih apapun yang kamu mau lakukan, jalani tidak perlu takut disalahkan lagi atas pilihan kamu. Mau akhirnya benar ataupun tidak". Aku mendengar setiap apa yang senja bilang, sambil menghabiskan thai tea yang tinggal setengah gelas itu. Tapi...















