Penghujung September
Di akhir bulan, hujan mengetuk jendela, kopi yang dingin menatapku bisu, seakan ikut menyimpan segala percakapan yang tak pernah selesai dengan diriku sendiri.
September ini riuh dan hampa sekaligus, ramai tawa di luar, tapi sunyi di dada, aku tertawa sambil mengantongi lara, belajar mensyukuri meski hati masih meraba.
Hari-hari berjalan seperti barisan pasukan, berangkat pagi, pulang malam, upah singgah sejenak di rekening, lalu pergi entah ke mana seperti hidup orang dewasa yang sering lupa bermimpi.
Aku menghitung detik dengan hati yang resah, bertanya pada waktu, berapa lama lagi aku harus begini menjadi mesin di siang hari, lalu penyair kesepian di malam yang lengang.
Namun aku percaya, ada janji yang sedang ditenun Tuhan di atas langit, semoga ia segera jatuh tepat di pangkuanku, agar kelak aku bisa berkata: “lihat, semua penantian ini ternyata tidak sia-sia.”











