Our world is often overwhelming--it can feel impossible to find a few minutes for yourself, but an easy self care practice is to find five minutes in your day to decompress and practice some mindful breathing.
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from Indonesia
seen from Singapore

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from France
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from Czechia
Our world is often overwhelming--it can feel impossible to find a few minutes for yourself, but an easy self care practice is to find five minutes in your day to decompress and practice some mindful breathing.
Sama-Sama Belajar
Beberapa hari ini saya melihat ibu berlatih mengelola emosinya. Menghadapi situasi yang terkadang tidak sesuai dengan inginnya kemudian belajar berkompromi dengan keterbatasan energi. Meskipun dengan banyak omelan yang ia keluarkan, tapi saya tau beliau terus belajar. Ada kalanya beliau ingat dan mulai berhenti berbicara. Disini sayapun juga belajar. Belajar menyuguhkan media berlatih dengan memberikan respon yang baik dan menciptakan suasana yang tepat juga menyenangkan. Meski terkadang masih sedikit terpancing suasana, namun cepat-cepat kembali ingat, menyadari emosi, dan hadir penuh saat itu juga.
Sebenarnya akhir-akhir ini saya sedang tertarik parah dengan konsep mindfullness. Konsep yang beberapa tahun lalu saya pelajari, namun baru saya dalami beberapa pekan ini. Konsep ini boleh dibilang sangat sederhana, namun sangat tidak mudah dalam prakteknya. Bagi saya mindfullness ini salah satu skill mengolah pikiran yang berarti hadir utuh dan sadar akan apa yang kita sedang lakukan. Karena sesuai dengan penuturan mbah Freud, pikiran kita seperti sebuah gundukan es di lautan. Sedikit sekali es yang terlihat dipermukaan, namun begitu besar yang tersimpan dibawah laut. Artinya ketidaksadaran kita jauh lebih banyak daripada hal-hal yang kita lakukan secara sadar. Seringkali kita sedang makan, tetapi tangan dan pikiran kita berfokus pada gadget atau ketika solat namun pikiran kita loncat-loncat pada urusan yang belum selesai. Mindfullness berarti hadir secara utuh menyadari pikiran dan fokus satu persatu akan hal yang sedang dilakukan. Mindfullness cukup banyak macamnya, salah satunya adalah mindfull breathing. Apa? menyadari nafas? Halah bernafas aja kok pake teori? Sebenarnya ini adalah salah satu ikhtiar saya dalam rangka belajar menjadi manusia yang humanis, mencoba mengistirahatkan diri setelah seharian penuh memforsir tubuh dan organ saya untuk bekerja. Pernahkan kita tegang ketika menyetir motor dan jantung berdegup kencang karena takut terlambat ke kantor? Atau ketika kita berada dalam kondisi menegangkan hingga lupa mengambil nafas untuk beberapa detik? Dan banyak kejadian lain yang menjadi stresor dan membuat pikiran tidak tenang. Coba hitung berapa kejadian dalam sehari yang menimbulkan emosi takut, cemas, marah? Mungkin kondisi semacam itu sangat lekat dalam keseharian kita. Padahal amigdala (pusat pengendali emosi) ketika terus distimulus dengan ketegangan ia bisa mengalami kelelahan hingga akhirnya tidak berfungsi untuk menjaga ketenangan, dan terjadilah panik atau overwhelming tanpa disadarai. Amigdala juga butuh relaks, neurotransmiter kita juga butuh hormon senang dan bahagia. Cara mengatasi ketegangan-ketegangan tersebut salah satunya dengan merelaksasi amigdala. Mindfull breathing dan meditasi merupakan salah satu cara yang bisa diterapkan dalam melatih merelaksasi amigdala. Menyadari nafas, mengambil jeda untuk melenturkan otot-otot ketegangan sehingga kinerja organ bisa lebih teratur dan tidak ngos-ngosan. Caranya cukup mudah, duduk bersila dan pejamkan mata, kemudian tarik nafas dan hembuskan. Cukup sadari saja bahwa kita sedang bernafas saat itu, menyadari dan merasakan keluar masuknya udara. Mungkin tidak jarang pikiran kita akan loncat-loncat pada hal lain. Tapi kembali ingat dan sadari nafas. Kuncinya fokus menyadari nafas. Lakukan selama 5-10 menit dan bisa juga di iringi musik instrumental tenang dan menyejukkan.
Nah, akan lebih baik lagi jika mindfull breathing tersebut didukung dengan sikap aware kita pada kondisi emosi diri. Tau dan mampu mengenali emosi yang sedang dirasakan. "Ooo saya sedang marah", "Ooo saya sedang cemas". Hal itu akan memudahkan kita untuk mengetahui penyebab munculnya emosi-emosi tersebut kemudian menentukan langkah yang tepat untuk mengatasinya (problem solve). Tentunya dengan melatih mengenal emosi dan juga mindfull breathing akan membantu untuk mengontrol respon kita terhadap suatu kejadian. Tidak buru-buru menghakimi orang lain dan mampu tetap santuy menghadapi situasi tak terduga.
Mari melatih diri :)
Dan selamat hari kartini 💕
*note: hari ini saya belajar bahwa proses belajar itu butuh tahapan dan juga social support. Proses adalah guru terbaik.
Malang | 21 April 2020