Ini tentang bagaimana orang lain menilai diri kita. Tentang apa yang kita ingin orang lain lihat tentang kita. Tentang self marketing. Tentang pencitraan.
Anda ingin terlihat bahagia di mata orang lain. Tapi anda sendiri tidak bahagia. Seberapa bahagiakah anda jika orang lain menganggap anda bahagia? Kurang lebih circumtances tentang pencitraan berputar di situ-situ aja.
Apakah anda terlalu jujur mengenai diri anda kepada orang lain, mempertontonkan dengan polos kebaikan dan keburukan anda secara terbuka dan blak-blakan? Atau anda termasuk cerdik untuk menyembunyikan bagian buruk anda, dan mempertontonkan bagian baiknya saja? Atau anda memalsukan citra diri anda?
Seberapa penting penilaian orang lain terhadap kita? Itu yang jadi pertanyaan besarnya.
Saya percaya ketika orang lain menilai kita...itu seperti kisah orang buta yang memegang gajah lalu mencoba mendeskripsikannya. Tidak ada orang lain yang benar-benar bisa menilai kita dengan utuh. Selalu ada bagian yang tersembunyi, selalu ada sudut pandang yang berbeda yang dilihat dan dinilai orang, selalu ada penilaian yang berbeda dari masing-masing orang lain.
Menurut pendapat saya sih pencitraan itu alamiah adanya. Tidak bisa dipaksakan. Sejago-jagonya kita meneyembunyikan kebusukan kita, di dunia yang dipenuhi orang lain nan kepo ini, pastilah kebusukan kita tersebut akan tercium jua. Begitu pula dengan pencitraan palsu. Pasti akan ketahuan jua aslinya, akhirnya.
Lalu, apakah lantas kita akan membiarkan polos kebaikan dan keburukan kita terekspos begitu saja? Menjadi bulan-bulanan pikiran orang lain? Tentu saja tidak.
Kita masih punya banyak pilihan cerdas.
Pertama, kenali diri kita sendiri. Kenali apa nilai kita. Kalau kita sendiri belum bisa mengenali nilai kita, bagaimana bisa kita berharap orang lain akan menilai nilai kita dengan baik dan benar.
Kedua, berkompromilah dengan keburukan dan kebaikan anda sendiri. Ketika kita bisa menerima bahwa keburukan kita yang sudah tidak bisa diubah lagi adalah bagian dari diri kita dengan baik. Maka kita pun bisa membujuk dan mengarahkan orang lain jua untuk berkompromi dengan hal tersebut.
Ketiga, terimalah kenyataan bahwa pikiran orang lain itu hanya bisa kita arahkan, tidak bisa dipaksakan. Jika memang kita sudah mengarahkan dengan baik, namun memang orang lain tersebut masih berpikiran buruk tentang kita...ya sudah lah. orang lain juga bukan hanya dia saja. masih banyak orang lain yang bisa kita arahkan.
Kempat, belajar jedi mind trick. Tapi ingat kemampuan jedi mind trick itu tingkatannya menyesuaikan dengan force yang kita miliki. Dan jua bahwasanya jedi mind trick ini pun hanya berlaku pada pikiran yang lemah sahaja.
Begitulah. Selama masih ada pilihan cerdas, mengapa memilih pilihan dadas?
Salam ksatria jedi. Semoga force menyertaimu...