WATCHING
$LAYYYTER
hello vonnie
No title available

Origami Around

tannertan36
No title available
sheepfilms

oozey mess
🪼
The Stonewall Inn
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
Noah Kahan

Game Changer & Make Some Noise
No title available
Phantogram Three

roma★
h
Mike Driver

@theartofmadeline
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Ecuador

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Italy

seen from Italy
seen from France
seen from China

seen from Peru
seen from Mexico
seen from Malaysia
seen from Mexico
seen from United States
seen from Canada
seen from Germany
seen from Russia
seen from United States
@thejayakabajay-blog
WATCHING
Obsesi Koleksi
Saya ga pernah ngerti tentang sisi obsesi yang saya miliki akan kegemaran koleksi itu ini. Part dari Obssesive Compulsive Disorder katanya.
Ada beberapa obsesi mengoleksi yang hilang. Ada yang makin meradang. Ada yang baru aja datang. Hobi ngumpulin kemeja esprit sama Levi's jeans limited edition udah hilang. Ngumpulin sneakers adidas Originals makin meradang. Koleksi jersey Arsenal, mainan Star Wars, sepatu boots, dan frame kacamata malah baru mulai.
Kabar baiknya koleksi jersey Arsenal dan frame kacamata sudah mulai lebih tenang. Koleksi sneakers adidas pun berada di level yang biasa-biasa saja.
Yang sekarang agak ngeri sih koleksi mainan Star Wars saya, Terutama Darth vader. Lagi ada obsesi ngumpulin semua tipe action figure Darth Vader yang 3,75 inch. Mungkin klo semua tipe udah kumpul, akan lanjut ke semua back card / release (ada action figure dengan tipe sama tapi back card atau bungkusnya beda...valuenya juga beda akibat beda back card ini).
Kurang lebih, ini semua tipe Darth Vader action figure. Masih ada sekitar 3-5 tipe yg ga masuk list ini. Termasuk action figure Darth vader yang paling langka: Darth vader with Double Telescoping Lightsaber (Kenner, 1977). Di eBay, harganya 25 juta. Kemaren saya dapet dengan harga seperseratusnya doang. Senangnya :D
Tapi masih ada sekitar 15 action figure lagi nih untuk melengkapi koleksi action figure Darth Vader, 3,75inch saya ini. Semoga sebelum akhir taun bisa kekumpul semuanya...biar cepat mereda dan bisa lebih fokus ke koleksi lainnya :D
Aamin.
Kalo kamu punya obsesi koleksi apa?
Misi Ambisi
Saya ini orangnya ambisius. Sekali. Malas tapi ambisius. Kombinasi aneh yang membuat orang kerap kali memanggil saya dengan sebutan "Lucky Bastard".
Saya lulus SPMB dua kali. Ngga belajar tapi lulus. Dua-duanya saya sikat. Ambisius. Sayangnya saya malas. Jadinya kuliah saya berantakan. Saya beruntung bisa lulus kuliah pun. Setelah 8 tahun.
Saya kerja kaya kutu loncat. Bukan karena ngga betah. Tapi memang karena selalu ada penawaran yang lebih baik. Entah itu gaji, maupun jabatan. Selama bekerja saya tak pernah putus jualan. Sekarang malahan ada kerjaan tambahan.
Ya saya ini ambisius. terutama untuk hal-hal yang saya suka. Apalagi sama hal-hal yang saya mau.
Banyak yang ngga ngerti, bahkan mempertanyakan keambisiusan saya ini. Terutama tentang koleksi-koleksi saya, pekerjaan saya, pilihan hidup saya. Bukan salah mereka. Tapi bukan salah saya juga tentu.
"Ngapain sih?" biasanya itu yang mereka tanya.
Dan jawaban saya selalu sama...karena saya suka...atau pengen...atau keduanya.
Memang ga bisa nuker isi kepala. Membuat semua orang mengerti kenapa mau saya begini. Kenapa itu yang saya pengenin. Sialnya kadang saya juga ngga ngerti kenapa.
Kaya jatuh cinta sih. Kita ngga bisa milih apa yang kita mau atau suka. Klo soal ngejar atau ngga itu lain cerita.
Tapi sayangnya saya ambisius. Semua yang saya mau atau suka pasti saya kejar. Klo gagal seengganya udah berusaha.
Saya ngga suka diam nunggu keajaiban. Lebih baik berusaha sampai kepayahan. Klo dapet kerasa banget nikmatnya, Klo ga dapet ya ditelen aja. Nyesek sebentar lalu move on. daripada selamanya penasaran, ya kan?
Saya mau sebelum umur 30 tahun, penghasilan saya sudah di atas 10 juta rupiah dan jabatan sudah jadi manager. Sisa setahun lagi untuk ngejar kedua. Meskipun sekarang itungannya udah HOD...tapi tetep aja bukan manager.
Saya rasa ambisi saya ini cukup wajar. Dan layak untuk dikejar.
...
Apa salahnya sih berusaha untuk dapetin hal yang lebih baik? Klo ternyata hal itu ngga lebih baik, seengganya kita udah memperbaiki diri dalam proses itu.
30ish
Cita-cita saya, umur 30 tahun nanti pengennya kerjaan udah enak. Sebelum umur 30 tahun, pengennya udah punya gaji 8 digit, punya side job, dan udah jadi manajer. Sisa satu tahun untuk ngejar jadi manajer nih. Jadi HOD sih udah sih, tapi tetep aja bukan manajer.
Saya mau nikah nanti aja. Klo adik sudah aman biaya kuliahnya. Kalau saya sudah punya rumah dan mobil mewah. Klo udah ga banyak penasaran lagi ama hobi dan itu ini. Bikin keluarga baru sih gampang. Yang penting keluarga lama saya dulu deh untuk sekarang. Pengen bikin mereka bahagia.
Nanti awal 30an harus punya usaha sendiri kyanya. Jualan apalah gitu. Sepatu atau mainan. Atau eksport import produk fashion. Lumayan buat nambah-nambah biaya liburan mamah papah ke mekkah pas musim haji.
Saya udah cukup ah maennya. Mau kerja, nabung, terus foya-foya aja lah. Menyenangkan sepertinya...
Live with "What's Next?" Not with "What If's?"
My life was a messed up. Big time. Dan saya ngga pernah berhenti bersyukur sama Tuhan karena telah membantu saya melaluinya. Beneran. Karena kalo pake nalar sih, kyanya ga mungkin banget saya bisa melalui semua itu tanpa bantuanNya.
Saya pernah punya masqlah hidup bak benang kusut yang ga bisa digunting. Udah ga bisa dibenerin lagi. Jadinya depressing berat. Ada masanya, tiap malem saya ga bisa tidur saking depresinya. Cuma bisa nyesel:
"Kenapa gw ga ini? kenapa gw ga gitu?"
"Seandainya gw dulu gini. Seandainya dulu gw gitu"
Dipaksa tidur pun, ternyata malah kebawa mimpi si masalah. Dark ages banget lah masa itu.
Jadi stress ga jelas bawaannya. Apalagi klo ngeliat temen-temen SMA udah pada kerja, temen-temen kuliah seangkatan, bahkan adik kelas di kampus udah pada lulus, sebagian malah udah pada kerja, sedangkan kuliah saya...super duper berantakannya. Nilai jelek, terancam DO pula. Satu-satunya yang lumayan saat itu, karena ongkos kuliah murah dan saya bisa bayar sendiri jadi ortu ga terlalu rewel, malah cenderung support (saya beruntung punya ortu se-supportive mereka).
Saking stressnya, saya bisa melalui 24 jam hanya dengan tidur, makan, dan ke kamar mandi, tanpa melakukan hal lainnya. Bukannya menyelesaikan masalah, saya malah menggali lubang masalah yang lebih dalam.
Sampai pada suatu pagi, dengan hidayah Tuhan YME, muncul pertanyaan dalam sanubari saya:
"Harus gw apain nih hidup gw?"
Dan ternyata pertanyaan tersebut adalah titik nadir hidup saya. Kulminasi dari semua depresi saya. Sebuah pertanyaan yang ternyata adalah semua kunci jawaban.
Asyik ya, bahasanya? :D
You know, Socrates pernah bilang. Hidup itu bukan soal mencari jawaban yang benar atas pertanyaan hidup. Tapi soal mencari pertanyaan yang benar atas jawaban hidup. Dan meskipun membingungkan. Percayalah hal tersebut benar adanya. Meskipun tidak benar kalau Socrates lah yang mengatakan hal tersebut. Jadi jangan percaya kalu kutipan itu diambil dari perkataan Socrates.
Dan ya, dengan pertanyaan yang kurang lebih sama, semua masalah yang saya hadapi bisa saya lalui. Alhamdulillah. Saya sukses belajar dari masa kegelapan saya tersebut, dan berhasil menemukan inspirasi paling berharga di dalam hidup saya:
Live with "What's next?" don't with "What if's?"
Artinya tau lah ya? Tadinya saya mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, tapi itu pasti akan terkesan merendahkan intelejensia Anda :d
Tapi maksudnya begini...hidup itu bergerak maju. Waktu terus berputar dan ga akan mungkin berbalik. Apapun yang harus kita lakukan, lakukanlah. Apapun yang kita inginkan, kejarlah. Jangan takut. Jangan malu. Lakukan segala sesuatu dengan usaha terbaik. Kalau gagal, perbaiki, coba lagi. Klo masih gagal, ya udahlah toh kita udah berusaha dengan yang terbaik, berikhtiar, dan berdoa.
Jangan menyesal, penyesalan ga memperbaiki apapun atau mengembalikan usaha yang udah kita lakukan dan waktu yang udah kita lalui. Move on, perbaiki diri sambil bergerak terus, take action. Selalu tanyakan pada diri kita "Apa selanjutnya? Apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik? Apa yang harus diubah menjadi lebih baik?". Menyesali apa yang terjadi sambil bertanya-tanya "Gimana ya seandainya ini itu bla bla bla?" itu sama sekali ga ada gunanya, cenderung merugikan malah.
Pun jika harus menyesal, lebih baik menyesal atas hal yang kita lakukan daripada hal yang ga kita lakukan. Seperti kutipan yang saya ambil dari karakter Bateman, di film London (a must see movie, btw) yang berbunyi:
"Personally, I'd much rather regret something I'd done rather than something I was too afraid to do.”
Kesalahan itu masih bisa diperbaiki. Tapi rasa penasaran selalu menghantui. Tsaaahhh, banget kan? Bisa aja sih rasa penasaran itu dibayar dengan aksi yang benar-benar menuntaskannya. Tapi kalau udah terlambat gimana coba?
Intinya sih pengendalian diri, masih baaanyak janda-janda kaya, anak-anak pejabat...BTW, joke ini masih lucu ga sih?
Intinya, serius nih, embrace your life. Cari terus apa yang harus kita lakukan, cari terus apa yang kita mau. Kalo udah ketemu, lakukan, kejar ampe dapet! Repeat.
Waktu dan momen ga bakal berulang, tapi usaha bisa kita ulang-ulang. Jangan nunggu kesempatan dateng. Buatlah kesempatan itu ada dan dateng. Gimana caranya?
Keep asking yourself this question:
"What's next?"
Dan bergeraklah atas jawaban yang Anda dapatkan. Percaya deh. Saya nulis panjang-panjang gini untuk sharing pengalaman saya aja, sedikit bragging juga sih. Hehe. Tapi serius lagi, pengalaman saya di atas bisa jadi jalan pintas buat Anda. Ga perlulah sampai terpuruk hingga teruk seperti saya untuk tahu apa yang sebenernya dibutuhkan untuk terus maju. Untuk dapetin satu achievement ke achievement lain dan achievement lain dan achievement lain dan...ya taulah...achievement lain. Yang perlu Anda lakukan hanyalah always be better and better self, always give your best shot at everything you do. Klo semua sudah dilakukan, tanya lagi pada diri Anda:
"What's next?"
Meskipun memang akan ada masanya kita berhenti menanyakan hal tersebut, tapi pastikan lah hal yang membuat Anda berhenti bertanya adalah:
"I've done everything"
Action may not always bring happiness; but there is no happiness without action.
Sun basah...
JKT.
Hampir 4 tahun saya tinggal di JKT. Dan sampai sekarang saya masih takjub oleh bagaimana JKT banyak mengubah saya.
Dari mahasiswa super malas tanpa masa depan yang jelas. Menjadi pekerja kantoran workaholic yang rindu kantor saat akhir pekan, dan bahkan sampai di luar jam kantor pun masih sibuk bekerja sambilan. Dan berjualan pun masih jalan.
Saya memang malas. Dulu. Tapi dari dulu saya punya mimpi banyak. Banyak banget malah. Sejak di BDG & Jatinangor saya mulai merangkai banyak mimpi. Dengan sedikit usaha, satu dua terkabul. Tapi ketika mimpi makin banyak, tapi kok ya usaha segitu-segitu aja...rasanya. Saat itu saya mulai berpikir "Apa iya BDG bukan wahana yang pas buat pengabul mimpi saya?"
You know, BDG, dgn segala kepewean dan ritmenya yang lambat, yang membuat segalanya jg 'kalem weh' dan 'ke heula ah'annya...membuat saya merasa mentok dan tak bisa berkembang. Orang malas macam saya, klo tinggal di BDG terus bisa mati santai.
Sampai, saya datang tawaran kerja dari JKT. Saya belum lulus kuliah, tapi memang satu dua mimpi yang sukses saya kabulin di BDG bisa membawa saya ke JKT. Pekerjaan pertama saya (pegawai tetap bukan freelance) adalah sebagai Assistant Marketing Manager Sony Music Entertainment Indonesia.
Edan lah, langsung jadi Assistant Manager, dapet ruangan, gaji gede (aslina, kerjaan pertama tanpa pengalaman, gaji segini berasa gede banget), kesannya glamor dan mewah karena emang kerjanya bareng artis-artis idola jaman sekolah. Glen Fredly, Padi, Sheila on 7, dll. Belum artis-artis barunya. The Changcutters, Cinta Laura, Sandhy Sondoro, dll.
Tapi..kerjaannya gila. Stressful berat. Ga ada waktu. Bahkan buat diri sendiripun. Wiken masuk, event dari pagi buta, sehari-hari tekanan tinggi. Reuwas lah pokoknya si malas ini. Kuat ka ceurikna sekali waktu saking stressnya.
Padahal klo dipikir-pikir lagi sekarang, biasa aja :D
Tapi emang si kerjaan pertama ini menempa saya habis-habisan. Dan saya gagal. Saya menyerah karena lembek. Hampir 3 bulan saya tidak memiliki pekerjaan. Tinggal di JKT tanpa pemasukan sedangkan pengeluaran ada terus selama 3 bulan. Rasanya gila banget lah. Literally. Untung saat itu ada yang support saya. Financially dan mentally. Nimas Ayu namanya pacar saya waktu itu. Kebetulan pacar saya sekarang namanya Nimas Ayu, padahal bukan orang yang beda. Hehe.
Sampai saya bertemu pekerjaan ke-dua saya. Marketing Communication Coordinator di Delamibrands. Megang Wrangler, Lee, ama Tirajeans. Kerjaannya was fine. Ga ada yang salah. Tapi salah nego gaji (gara-gara BU tea, nganggur 3 bulan gituuu). Jadi selama bekerja di sana berasa underpaid mulu. Walaupun sebenernya gajinya lebih besar dari di SMEI. Dan gimmicknya banyak sebenernya. Tapi akibat salah nego itu emang gondok sih jadinya rasanya.
Kerjaannya sih nyenengin. Endorse band, bikin event musik, megang soc-med. Ga bisa dibilang nyebelin. Tapi salah nego gaji tea geuning, jadi weh. Hehe.
Lalu out of the blue or ujug-ujug, setelah 10 bulan gondok gara-gara salah nego gaji (ga segitunya jg sih sebenernya :p), dapet info ada kerjaan yang kurang lebih sama, tapi gaji dua kali lipat. Lalu saya coba melamar. Dan keterima, dan tidak salah nego gaji.
Alhamdulillah keterima di KOMPAS.com jadi Marketing Communication Executive. Suasana kerja menyenangkan, kerjaan menyenangkan, semua menyenangkan lah. Terlebih pekerjaan ini mengasah kemampuan saya di bidang digital marketing dan soc-med strategist saya. Klo dibilang hampir sempurna lah. Saya kebetulan megang event & promo off air & online. Jadi otak & otot dipake hampir berbarengan. Meskipun pada pengerjaannya sangatlah menyenangkan.
Cuma memang bekerja di perusahaan besar (karyawan banyak) adalah hal baru bagi saya. Dealing dengan terlalu banyak orang dan dengan mekanisme penyerahan tugas yang panjang ternyata melelahkan (hati & pikiran terutama). Bayangkan pekerjaan yang bisa saya kerjakan dua hari sendirian, harus dikerjakan tiga bagian selama dua minggu lamanya. Atau kerjaan yang saya desain sempurna (menurut saya :p) bisa jadi berantakan karena terlalu banyak keterlibatan orang lain.
Hampir setahun di KOMPAS.com. Lumayan banyak berkontribusi buat perubahan di sana. Klo boleh sombong sih. Tapi karena memang tidak boleh sombong jadi ya...kitu weh. Heu. Sampai mana tadi? Oh, iya, hampir setahun di KOMPAS.com...sampai godaan itu datang: tawaran pekerjaan dengan gaji dua kali lebih banyak dan beban pekerjaan dua kali lebih sedikit.
Dan di sini lah saya sekarang. Bekerja di Wall Street Institute sebagai Online Strategist. Klo mau tau apa kerjaan saya di sini, cek linkedin saya, atau buka www.wallstreet.ac.id. Baru probation. Ini bulan terakhir probation. Doakan saya lulus ya, teman-teman.
Belajar dari pengalaman, setiap pekerjaan itu selalu ada kurangnya. Tapi memang harus dihadapi dan diatasi. Tapi ya memang klo ada kesempatan yang lebih baik, sama sekali ga dosa kok klo diambil. Sejauh ini sih, baik-baik saja. Emang banyak penyesuaian. Tetapi aman lah. Lingkungan kerjapun menyenangkan. Plus ada waktu untuk kerjaan sambilan.
Ya, mau ga mau atuh. Klo banyak mimpi wayahna harus banyak usaha. Kerja keras, manfaatkan waktu & peluang yang ada. Tidak lupa banyak bersyukur & seringin doa (minta). Klo bisa ngerjain kerjaan sambilan, kenapa ngga?
Kerjaan sambilan itu, asal bisa bagi waktu & ada backup yang bisa diandalkan mah, aman lah. Backup saya kebetulan pacar saya. Ngerasa mungkin di juga banyak minta dan mau, jadi harus bantu. Haha. Bercanda ding. Dia bantu karena dia sayang saya. Kecipratan tiap bulan dibeliin sepatu & tas sih cuma bonus buat dia. Iya ngga, Nim?
Oh, iya...pekerjaan sambilan saya itu sebagai Social Media Manager di Satisvision. Digital agency gitu. Megang akun soc-med beberapa brand KAO dan ABC. Lumayan lah upahnya. Setengah gaji kantor utama.
Klo usaha jualan saya. Memang udah ada dari jaman saya kuliah. Sekarang lagi mau mulai lagi. Mumpung udah ada modal. Doakan lancar, yes?
Sibuk? Sibuk banget lah. Tapi ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkan mimpi bukan? Dan pada akhirnya kerja keras itu pasti terbalas. Asal diiringi doa dan ikhtiar.
Siapa saya 4 tahun lalu? Mahasiswa super malas tanpa masa depan yang punya banyak mimpi. Siapa saya sekarang? Pekerja kantoran workaholic yang rindu kantor saat akhir pekan, dan bahkan sampai di luar jam kantor pun masih sibuk bekerja sambilan, serta masih sempat-sempatnya jualan...karena punya banyak mimpi yang pengen diwujudin.
JKT memang banyak mengubah saya. Lewat tempaan dan tekanan saya dipaksa belajar dengan cepat untuk segera pintar. Pintar mengambil peluang, beradaptasi, memutuskan, dan mengambil tindakan. JKT memberi saya macam-macam pengalaman. Tapi pada dasarnya...saya masih orang yang sama. Orang yang selalu punya banyak mimpi dan selalu mengejarnya satu persatu sampai dapat semuanya.
Dipikir-pikir, ini tulisan jadi kya CV plus diary ya? Keun weh nya?
Ya gitu deh. Saya sukses merusak klimaks tulisan ini deh jadinya.
Balik lagi serius nih.
I can't be not romantic about JKT. Kota ini adalah one hell of a place yang membentuk saya menjadi saya yang sekarang. Masih jauh dari berpengelaman. Tapi setidaknya saya banyak belajar. Belajar dari pengalaman, terutama dari kesalahan & kekalahan. JKT adalah wahana roller coaster-ish di mana saya mewujudkan banyak mimpi saya.
Selamat ulang tahun JKT dan terima kasih atas semua hal yang terjadi pada hidup saya selama saya tinggal di sini.
Dan akhir kata, banyaklah bermimpi. Tapi jangan lupa untuk mewujudkannya.
Sun basah...
Benci Libur
Di kala sendiri, merenung sepanjang hari Menatap awan berharap pada Tuhan Semoga hari ini... menyebalkan!!! Cepat berganti Oh... hari ini ku benci sekali Bosan di kamar enggan keluar Itulah oh mengapa aku benci Hari libur Siapapun yang mengganggu akan aku tembak DORR!!
Lagu Benci Libur dari Naif mungkin cukup mewakili saya dalam ketidaksukaan saya terhadap hari libur.
Bagi anda yang termasuk golongan pecinta libur mungkin anda akan bertanya, “kenapa?”
Kenapa saya tidak suka hari libur? Mungkin karena waktu kuliah, ada masanya saya kerjaannya libur tiap hari. Ngga ada kerjaan, luntang-lantung kesana kemari. Melewati hari tanpa arti. Tidak produktif sama sekali. Membuang sia-sia masa muda saya yang harusnya bisa lebih berarti. (asyik, rhyming :D)
Sungguh perasaan yang memuakkan tidak tahu apa yang musti dilakukan atau dikerjakan.
Sampai saya hampir lulus dan menemukan pekerjaan. Dunia yang sungguh berbeda dan menakjubkan. Bikin saya ketagihan. Berusaha produktif dan progresif setiap hari, bahkan kala libur akhir pekan.
Saya menemukan arti saya kembali. Perasaan memiliki kontribusi di putaran roda kehidupan itu ternyata menyenangkan sekali.
Sampai saya harus lulus dan berhenti dari pekerjaan tersebut. Sempat nganggur tiga bulan. Masa-masa kelam dan perasaan yang dibonceng olehnya pun menghampiri saya kembali. Ketidak adaan aktifitas ternyata membuat saya cemas.
Itulah kenapa saya tidak suka hari libur. Sampai sekarang pun, jika libur, saya maunya mampir ke kantor. Sekadar untuk memiliki perasan memiliki arti tadi. Aktifitas lain paling tidur seharian menghabiskan hari. Atau jalan-jalan menghabiskan uang gaji.
Saya ngga bisa bilang saya workaholic. Tapi apapun kerjaan yang saya miliki. Saya pasti mencintainya. Meskipun seperti pacaran dengan orang, pacaran dengan kerjaan pun pasti sesekali ada berantem dan marah-marahannya.
Mau cerita aja sih…
Sun basah…
Bollocks
Inilah hidup saya akhir-akhir ini:Bangun jam 8 pagi, mandi, siap-siap sambil minum energen buatan pacar, cupika cupiki, berangkat kerja...naik kopaja klo santai, naik taksi klo buru-buru.Jam 9 - 19, ngantor. Ngerjain daily report, report digital marketing leads & contracts, maintain konten website, ngulik keyword buat SEO, posting soc-med kantor, cek postingan soc-med side job. Bikin kopi.Bikin copy buat ads, FB ads, konten FB, konten website, cek email, cek FB ads, cek landing page website, make sure ID Media nya bekerja dgn baik. Ngerokok.Cek 10 akun soc-med side job, reply & likes comments, cek gmail utk kerjaan side job, ngerjain task buat side job, sambil gtalk-an ama pacar. Makan siang.Ngurusin microsite buat digital campaign opening center baru. Ngurusin request boss di kantor. Improvisasi campaign digital di website & FB apps.Cek postingan soc-med side job. Bikin copy, bikin kopi, ngerokok.Ngerjain request tiba-tiba, maintain content website, posting FB kantor, hahahihi, jungkir balik, janjian ama pacar via gtalk. Pulang.Selesai? Belum.Ketemu pacar, makan malam di mall, ngebir, ngerokok. pulang ke kosan, minta bikinin kopi, ngerokok, ngerjain postingan soc-med side job sambil dibantuin pacar sambil ngopi & ngerokok ampe jam 2 pagi.Tidur.Repeat.Lakukan itu selama satu bulan di hari kerja. Diujung bulan saya dapet duit yg bisa dipake beli 20 pasang sepatu adidas originals di originals store Senayan City.If your life is bollocks, at least make it a dog's bollocks.
Enjoy the joy of life.
Sun basah...
Fokus
Dulu waktu muda, saya random sekali anaknya. Semua dilahap, ditelen, diterima. Malahan saya selalu pengen lebih. Pengen tahu lebih, pengen dapet lebih, pengen semua lebih. Rakus.
Sampai saya menemukan usia 25. Di usia 25 semua hormon terasa lebih tenang. Tidak lagi menggebu. Tidak lagi rakus. Malah lebih fokus.
Semua keinginan yang dulunya pecah meledak-ledak, jadi jauh tenang meski sesekali beriak.
DI usia 25 saya menemukan wishlist. Sebuah penemuan hebat tentang bagaimana menuliskan semua yang kita inginkan. Lalu menyaringnya lagi dengan akal sehat menjadi daftar hal-hal yang benar-benar kita inginkan.
Bukan masalh keinginan saja ternyata. Setelah pertemuan saya dengan usia 25 tersebut, fokus saya juga menyempit dalam hal kepentingan dan ketertarikan. Saya jadi ga segitunya sama hal-hal yang dulu saya banget. Musik misalnya (terutama musik indie). Dulu kyanya gimana banget. Sekarang malah biasa banget.
Dan banyak hal.
Informasi terutamanya. Saya ini tipikal yang ngga mau gitu dibanjiri informasi yang menurut saya ngga ada relevansinya sama hidup saya. Ngapain coba? Ya, kecuali saya mau ikutan kuis yang hadiahnya miliar rupiah dan saya harus serba tahu untuk menang miliar tersebut.
Tapi ini kan tidak. Untuk apa saya tahu siapa itu Bubu? Bos saya bukan, pedagang adidas juga bukan, penjual jersey rare arsenal juga bukan, dia jualan maenan Darth vader juga ngga, nyambung ama pekerjaan juga tidak. Tidak ada relevansinya jadinya kan? Dan ketika tidak ada relevansi...biasanya tidak berguna. Informasi yang memang tidak ada irisannya dengan hidup saya, saya anggap tidak berguna.
Saya memilih info yang ngaruh dan berguna aja boleh dong? Dan being ignorant untuk hal lain yang ngga ngaruh lah. Buang-buang waktu, memori, dan ngga penting ajah. Yang penting ngejar untuk jauh lebih tahu, lebih fokus, dan lebih ahli di hal yang saya suka atau saya butuh.
Klo lebih fokus itu jadinya jadi spesialis yah? Klo dokter kan, dokter spesialis itu lebih mahal bayarnya. Daripada dokter umum gitu.
Sekarang saya tanya deh, ngapain coba banyak-banyak tau ini itu? Mentok-mentok cuma dipake pas pedekate.
Cobain deh fokus. Hidup lebih ringan dan bermakna adanya.
Sun basah.
Mood Semesta
Senyata belalang mainan di atas tuts keyboard PC-ku
Kaca disebelahku memisahkan antaraku dan hujan di luar sana
Cukup deras aku rasa.
Tapi aku tidak merasakannya.
Seperti ingatan tentangmu, dunia.
Selalu ada, tapi kau tiada.
Melelahkan pikiranku.
Melemahkan hati yang mati-matian menahan rindu.
Oh, mood semesta...kuatkanlah aku dari segala godaan.
Sekian.
Nikah?
"Buruan nikah dan biar punya anak lucu..." seru Mamah saya. "Gampang, nikah dan punya anak sih, Mah. Lagi pengen nyobain tanggung jawab yang lebih susah" jawab saya. Saya nikahnya ntar aja deh. Klo adik saya udah saya beresin bayaran-bayaran kuliahnya, klo rumah impian Mamah saya udah bisa saya bangun, klo Bapa udah naik haji. Pengennya gitu sih. Masih banyak juga cita-cita dan impian masa lajang yang saya ingin wujudkan soalnya. Taun kemaren sempet kebelet nikah. Tapi untung ga jadi. Saya belum punya apa-apa. Belum ngasih banyak juga buat keluarga saya. Komitmen ama pasangan itu hal lain. Apalagi klo udah menikah. Saya ga ngeliat itu suatu hal yang sulit. Yang sulit itu komitmen sama keluarga inti klo kita udah punya keluarga sendiri. Pasti apa-apa nanti buat anak, buat istri....nah sebelum itu terjadi...saya pengen lima tahun aja...apa-apa buat Orangtua dan keluarga saya. Semoga bisa terwujud. Aamin.
BM
Saya memilih menjadi tipe orang yang menginginkan banyak hal. Banyak Mau. Eits, tapi bukan hanya meniginginkannya...namun mengejarnya sampai saya mendapatkannya. Kalo ada beberapa yang tidak saya dapat, ya tidak apa-apa. Agak gondok awalnya. Tapi nanti juga biasa. Yang penting kita tahu kita sudah berusaha. Tapi kalo dapet semuanya sih alangkah senangnya :D
Saya ini ambisius. Pengen ini itu. Pengen tahu ini itu. Pengen ngalamin ini itu. Pengen punya ini itu. Saya kejar semuanya. BM lah pokoknya. Tapi seBM-BMnya saya...masih realistis kok. Saya bukan yang Banyak Mau tapi sok ideal. Liat-liat keadaan lah.
Gara-gara BM, kuliah saya jadi lama. Total 15 tahun lah. Di dua jurusan. Ilmu Pemerintahan 8 tahun, Public Relation 7 tahun. Biar lama, yang penting kaya pengalaman.
Selama kuliah saya pernah jadi: Pelayan restoran, penyiar radio, MC, kerja di EO, rapper, penjaga bengkel cuci mobil, fotografer & videografer kawinan, grafik desainer, pembuat perta untuk anak-anak jurusan Geologi, jual jasa bikin makalah untuk anak Fakultas Kedokteran, MC kawinan, anak band, SPB, creative, stylist, jurnalis jadi-jadian, dsb.
Makanya, suka kasian kalo liat anak kuliah jaman sekarang. Miskin pengalaman. Kupu-Kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang), ngejar nilai mati-matian, tiga taun kuliah udah lulus, abis lulus terus langsung kerja. Tipikal sekali. lanjutannya pun ketebak: kerja, kawin, punya anak, tua, trus mati. Dan yang paling menyedihkan, semua dijalanin atas beban dan keinginan orang lain. Keinginan sendiri lebih sering diabaikan.
Makanya ga heran kalo anak sekarang gampang banget galau. Soalnya ga dilatih dan ga dipicu untuk berkeinginan dan menjalankan apa yang diinginkan. Jadi, dikit-dikit bingung, ga tau maunya apa, ujung-ujungnya galau di sosial media. Karunya.
Saya aware kok dengan tuntutan anak muda sekarang yang jauh lebih gila daripada jaman saya. Saya sih dulu bayaran SPP kuliah per satu semester cuma Rp 375.000,-. Bandingin dengan SPP kuliah per satu semester anak sekarang. Ga heran klo tuntutan cepet lulus ada di pundak mereka.
Bersambung...
Apa Kabar?
Tidak banyak orang yang bisa baik menanggapi pertanyaan "Apa kabar?". Entah, karena menganggap pertanyaan tersebut adalah pertanyaan ramah tamah level rendah, atau memang tidak ada kabar yang bisa diapa-apakan. Dan anehnya, ada juga orang yang suka nyolot kalo ditanya pertanyaan ini. "Ah, basa basi..." kurang lebih begitu.
Bagi saya, "Apa kabar?" itu lebih seperti, "Eh, udah lama ga denger cerita lo. Ada update apa nih?" Cuma, saya kan kikuk, jadi seringnya, yang keluar adalah "Apa kabar lo?"
Dari sekian banyak pertanyaan "Apa kabar?" yang saya lontarkan, hanya beberapa yang mendapat jawaban manis. Sisanya biasanya sinis. Bahkan ada beberapa orang yang saya tau ngga suka ditanya "Apa kabar?". Jadinya saya ngga pernah nanya mereka :D Tapi dari pertanyaan "Apa kabar?" jawaban yang paling banyak didapat adalah jawaban yang cenderung statis..."Ya, gini-gini aja gw sih". Begitu.
Eh tapi, saya juga seringnya jawab yang statis itu sih.
Padahal menyenangkan sepertinya, kalau kita bertukar cerita, kabar masing-masing dengan orang lain. Terutama orang dekat kita. Saling mengupdate perkembangan satu sama lain. Ikut seneng, ikut sedih, gitu-gitu lah. Sharing pokonya. Entah kenapa, hal ini jarang terjadi di percakapan langsung. Malah lebih sering terjadi di percakapan bermedium...seperti di online chatting, social media, atau bahkan blog.
Memang ada yang bertanya "Apa kabar?" itu sekadar basa-basi aja. Tapi mungkin agak salah juga, klo digeneralisasi bahwa pertanyaan "Apa kabar?" adalah pertanyaan basa-basi.
Eh tapi lagi ya...seringnya masalah muncul bukan di pertanyaannya. Tapi di jawabannya. Itu yang sering terjadi dengan saya. Saya kadang kurang ngeh dengan perkembangan diri sendiri. Mungkin bukan saya doang yang begini. Kita suka bingung dengan update diri kita sendiri. Karena mungkin bagi kita itu rutinitas sehari-hari biasa saja, kalaupun ada perkembangan, kita anggap itu perkembangan yang kecil yang ngga signifikan. Padahal mungkin oran lain ga ngeh. Seperti kalo orang lain yang udah lama ngga ketemu bilang pangling. Padahal menurut kita, sehari-hari juga kita gitu-gitu aja.
Jadi yang paling penting sih kalau menurut saya, adalah untuk kita agar selalu update dengan perkembangan diri kita masing-masing. Biar kalau ada yang nanya "Apa kabar?" beneran, kita bisa enak jawabnya. Klo nanyanya basa-basi pun, ga masalah juga. Yang penting enak buat kita jawabnya :)
Mungkin, mungkin loh...harus buat sedikit list tentang perkembangan diri sendiri per 1 bulan. Semacam memantau perkembangan diri. Bagus sepertinya untuk kesehatan jiwa. Karena jadi lebih mengenal diri sendiri.
Mungkin bisa lewat jurnal. Seperti yang saya lakukan di tumblr. Percaya atau tidak, tapi harus percaya. Lewat tumblr saya bisa melihat perkembangan diri saya sendiri. Kondisi kejiwaan, interest, perkembangan koleksi sneakers adidas Originals, wihlist apa yang terkabul, dll.
Dari tumblr saya (www.jayakabajay.tumblr.com) saya jadi lebih mengenal diri saya. Dan itu menyenangkan rasanya.
Kalau ada orang yang bertanya "Apa kabar?" pada saya, lewat mengamati tumblr saya, saya bisa jawab:
1. Saya baik. Pekerjaan sedang menyita banyak waktu dan pikiran. Tapi menyenangkan untuk menghadapinya. Beradaptasi, mempelajari hal baru setiap hari, mengetahui bahwa saya berkembang setiap hari. Untuk menjadi lebih cerdas, cermat...dan kuat.
2. Saya makin jago gambar & desain. Menyenangkan rasanya, punya keahlian teretentu. Apalagi yang memang saya suka & terpakai untuk menunjang pekerjaan. Saya percaya, kalau menggambar itu terapi yang bagus untuk melatih otot dan pikiran, agar tetap tajam. Juga untuk kesehatan jiwa, klo memang hobi mah...
3. Saya jauh lebih tenang untuk urusan keinginan. Tidak terlalu impulsif. Malah jadi lebih fokus memenuhi apa yang diinginkan. Saya juga jadi lebih tenang diurusan asmara. Tidak terlalu menggebu-gebu. Udah ngga bandel lagi. Masih bandel ding sedikit. Tapi saya rasa, dari sisi ego dan emosi, saya jadi jauh lebih terkontrol. Udah ngga seliar dulu :d
4. Koleksi sneaker adidas Originals saya makin banyak. Posting foto koleksi saya pun beberapa kali masuk showcase dan artikel website internasional. Bukan sombong...tapi memang membanggakan rasanya. Punya hobi yang diseriusin, dan ada yang apreciate soal itu.
klo ngga percaya klik ini dan ini deh *pamer. Beberapa dari website yang memuat postingan saya :D
5. Oh ya, saya sekarang bekerja profesional untuk memegang beberapa akun Social Media. Tapi catet ya, saya ngga mau disebut Social Media Specialist atau Strategist atau apapun itu istilahnya. Geli. Saya lebih suka disebut kerja di bidang Viral Marketing. Lumayan loh bayarannya. Bisa nambah-nambah koleksi senaker adidas Originals :)
6. Seakrang saya memelihara kumis dan janggut serta sudah tidak lagi mengenakan celana jins. Sedang belajar untuk menjalani hidup secara sufistik. Saya memang sedang giat-giatnya belajar ajaran para Sufi. Wae! Saya lagi suka chino aja sih, dan males potong rambut muka. Semacama membuat self-uniform. Salah satu resolusi saya tuh. Punya semacam fashion signature. Ahay!
Udah ah, udah jam setengah tujuh. Udah telat pulang setengah jam. Di kantor saya ini ngga boleh dibiasain lembur soalnya. Sama saya. Ngga bagus untuk kesehatan jiwa.
Btw, Kalian apa kabar? Serius, udah lama ngga denger cerita kalian.
Cerita-cerita ya?
Sun basah...
Tahun depan Usia Saya 30 Tahun
Saya punya satu tahun penuh untuk mengejar banyak impian saya yang selama ini punya tentang saya di usia 30 tahun.
Beberapa impian sudah terwujud. Banyak yang belum.
Tapi saya tahu, saya bergerak maju.
Meskipun, ya, mungkin saya lumayan banyak membuang waktu saya. Terlalu ceroboh. Tapi saya belajar banyak. Dan selalu berusaha mendorong diri saya agar bisa lebih semangat.
Demi Omar, Emir, dan Aaliya.
Saya punya delapan tahun tersisa untuk bertemu mereka :)
2012's Wishlist
2011 was a great success!!! Wawawiwa... *dibaca dgn intonasi a la Borat Sagadiyev
80% lebih items dari wishlist saya terkabul sudah.
Maka dari itu saya berharap taun 2012, bisa lebih sukses. Dalam hal per-wishlist-an...terutama.
Ada beberapa items, yg mungkin belum terwujud di 2011, yg akan masuk dalam list. Mudah-mudahan itu bisa didahulukan.
Berikut wishlist 2012 saya tersebut:
1. Naik pangkat: Jadi Online Marcomm Superintendent. Biar lebih fokus sama kerjaan. Mudah-mudahan segera. Naga-naganya sudah kecium soalnya. Naik gaji pasti nyusul lah yah? :D
2. Klo ngga naik pangkat, ya pindah kerja. Ke perusahaan online tersebut. Special Project Producer. Gajinya musti lebih besar dariapda gaji sekarang. Ya iya dong :D
3. Adidas Originals Micropacer Gore-Tex. Obsesi akhir taun nih. Udah nemu barangnya. Duitnya aja belum ngumpul. Doakan...
4. Kostum Darth Vader. Helm dan Lightsaber (yg tercantum di wishlist 2011) udah dapet soalnya. Alangkah indahnya jika bisa dilengkapi :)
5. Adidas Originals Adicolor W1. barangnya udah sempet di depan mata. Udah saya pegang juga. Tinggal nunggu yg punya mau ngelepas *finger crossed
6. Piaggio ZIP. Wishlist 2011 yg tidak terkabul. Semoga bisa terkabul tahun ini.
7. Honda Civic Wonder 2 pintu. Baru kali ini ada item mobil di wishlist saya. Ini buat orang rumah kok. Saya naik motor atau sepeda aja :D
8. Bayarin Adik kuliah.
9. Rutin ngasih Orangtua
10. Arsenal dapet Piala. Sejak minggu lalu, gelar EPL masih terkejar. begitu juga dengan FA Cup & Champion League. Aamin. Victoria Concordia Crescit
Segitu aja dulu. Mudah-mudahan banyak yang terkabul, jadi nanti boleh nambah di tengah jalan :D
Aamin.
BTW, saya selalu percaya, dengan menuliskan keinginan, keinginan kita tersebut jadi lebih mudah terwujud, karena kita jadi lebih fokus mewujudkannya. Klo hal tersebut terjadi apda saya tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya...tahun ini juga harus bisa terjadi *mengepalkan tangan dengan sikut mengarah ke pinggang
Semangattt!!!
Sun basah...
2011
Di 2011 saya jatuh cinta lagi dengan orang yang sama. Lalu patah hati kembali. Lalu saya belajar untuk mencintai dengan logika. Lebih nyaman rasanya. Meskipun cinta logika saya tipikal yang emosional sangat. Tapi dia janji akan belajar. Dan berubah. Mudah-mudahan.
Di 2011 saya keluar dari pekerjaan saya. Demi pekerjaan yang lebih menyenangkan. Terutama upahnya :D. Padahal namanya kerjaan sama saja. Ada manis dan pahitnya juga. Tapi di tempat ini saya belajar banyak. Terpaksa awalnya. Tapi saya menikmatinya. Tidak mudah tetap profesional di tengah orang-orang yang...you know. Tapi saya bertahan dan terus berusaha memperbaiki semuanya. Terutama etos kerja saya.
Di 2011 saya mendapatkan 80% wish list saya. Plek-plek-an persis yang saya wish-in. 20% minus itu adalah motor Piaggio ZIP, Sepeda Cruiser Darth Vader, dan HE by Mango Shoes.
Di 2011 koleksi saya terus bertambah, sepatu Adidas Originals, dan maenan Darth Vader. Pelan tapi pasti, tiba-tiba banyak sekali. Pengennya sih gitu. Iya, saya tau agak konyol di sektor ini. Karena sebenernya bisa nabung dan memprioritaskan keperluan lain.
Di 2011 saya mendapatkan side job impian. Mengelola Social Media. Ga usah panjang lebar soal ini. FYI aja.
Di 2011, PR saya banyak banget tentang keseimbangan. Saya masih berantakan. Masih belum teratur. Sedang diusahakan sangat untuk lebih rapi soal ini itu. Terutama masalah pemikiran dan hati dan rejeki.
Mudah-mudahan di tahun 2012 semua lebih baik. Buat saya, buat kalian semua.
Semoga.
Sun basah...
Which Side Are You?
Selalu ada dua sisi dalam diri saya. Light Side & Dark Side. Familiar ya? Hehe.
Bukan, ini bukan tentang force apa yang dimiliki dan warna kristal yang digunakan untuk lightsaber saya. Ummm, tapi kurang lebih seperti itu sih. Ini tentang sifat khas yang dimiliki masing-masing sisi yang ada pada diri saya.
Dan saya beruntung kedua sisi tersebut cukup seimbang. Tidak ada yang dominan. Tanyakan saja pada orang yang belum terlalu mengenal saya. Akan ada dua pendapat tentang saya yang sama kuat. I'm a good person and bad person at the same time.
Dan saya menyukai itu. Setidaknya sampai saat ini. Menjadi diri saya yang good and bad.
Saya bisa jadi gentleman, pacar yang baik, teman yang menyenangkan, dengan segala sifat baik yang menyenangkan, menyamankan, perhatian, dan bla, bla, bla. Tapi at the same time, saya bisa jadi asshole, pacar yang jahat, teman yang menyebalkan dengan semua sifat yang bikin orang meremas dada. Eh.
Kedua sisi yang sama kuat itu memang sulit dikendalikan. Hal yang membuat saya tetap waras selama ini, salah satunya, mungkin, adalah bagaimana menjada agar kedua sisi itu tetap seimbang. Karena saya percaya, untuk survive, manusia perlu untuk menyeimbangkan kedua sisi ini. Tujuannya agar lebih adaptif dalam menghadapi segala hal.
Jadi orang yang teralu baik bakal ditindas, tapi jadi orang yang terlalu jahat bakal dimusuhin. Jadi keduanya secara seimbang akan dihormati.
Ini bukan tentang bermuka dua atau munafik. Tapi tentang memunculkan sisi mana yang dimunculkan ketika dibutuhkan. Profesionalisme tidak pernah dikategorikan kepada kemunafikan, bukan? Kurang lebih seperti itu lah.
Ini tentang menghargai diri sendiri saya rasa. Tentang memberi nilai pada diri sendiri. Tentang mengenali diri dan lingkungan. Ada kalanya lingkungan yang harus menyesuaikan diri akan kita. Bukan melulu sebaliknya.
Dalam postingan ini saya mengajak anda berdiskusi. Tentang kedua sisi tersebut. Apakah anda juga memilikinya secara seimbang, bagaimana anda mengatur keduanya tetap seimbang, dll.
Karena bagi saya, bukanlah hal yang mudah untuk mengatur agar kedua sisi ini tetap dalam kendali anda, bukan sebaliknya. Dan bagaimana anda dengan jujur menggunakan kedua sisi ini dengan baik, itu yang lebih tidak mudah.
Makin sini kok makin serius ya?
Pokoknya gitu deh. Kalo ada masukan, cerita, pengalaman, atau mau sharing mengenai Light Side dan Dark Side dalam diri anda. Silakan loh...
Tiada kesan tanpa kehadiranmu.
Sun basah...