Mt. Gede, 7-8 Nopember 2015
Malam itu sudah menunjukkan pukul 21.00, aku masih menunggu di stasiun Pondok Cina untuk mengambil sleeping bag, matras, dan headlamp dari seorang teman. Setelah lebih dari satu jam menunggu sambil menghubungi teman-teman yang berangkat dari Jakarta dan yang sudah berada di Bogor, tiba-tiba ada seseorang di depanku.
"Pasti udah bete banget ya nungguinnya? Maaf ya" katanya saat mendapati aku terduduk dengan muka ditekuk.
"nggak apa-apa kok, kamu nemenin ibu kamu dulu kan?" tentu saja aku berpura-pura baik-baik saja.
Iapun menyerahkan barang yang aku pinjam darinya dan aku langsung melanjutkan perjalanan ke Bogor, sendirian.
Aku beruntung rombongan teman dari Jakarta KRL-nya tepat di depan KRL yang aku tumpangi, dan mereka menungguku distasiun Bogor.
Setibanya di stasiun Bogor aku melambai-lambaikan tangan ke arah empat orang dari kejauhan, ada Oki, Mahbub, Alfat, dan Summa pacarnya Alfat, "yah, ketemu sama orang ini lagi! ngeselin kamu!" candaku sambil menunjuk Mahbub. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Rumah Beta di kawasan dekat Kampus IPB, Dramaga.
Di Rumah Beta semua teman-teman sudah berkumpul, kami datang paling akhir, bahagia dan terkejut saat melihat teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu, bahkan ada yang tidak pernah bertemu sejak kami lulus SMA 5,5 tahun yang lalu. Persiapan demi persiapanpun dimulai, packing dan bagi-bagi amunisi dan barang bawaan sambil diselingi canda tawa.
Pukul 23.30 kami berangkat dengan menggunakan angkutan mobil pick up, aku berkesempatan duduk di bangku depan bersama dengan Putri, karena kami adalah dua dari tiga perempuan yang ikut dalam pendakian ini, sementara yang lainnya bersama dengan barang-barang duduk di belakang, mobil meluncur menuju Cibodas, terdengar teman-teman di belakang saling bercanda dan bernyanyi dengan riangnya. Sayangnya, di tengah jalan kami harus berpisah dengan 4 teman kami yang berbeda jalur pendakian, Bangkit, Ma'ruf, Guspen, dan Mahbub akan menuju ke Sukabumi karena mereka naik melalui jalur Selabintana. Kami berpisah disini dan nantinya hanya akan mengandalkan HT sebagai sarana komunikasi dua grup dalam tim kami. Tersisa kami berdelapan yang melanjutkan perjalanan menuju Cibodas.
Udara semakin terasa dingin menandakan kami sudah memasuki wilayah pegunungan, pukul 02.30 kami sampai di tempat bermalam di sebuah warung makan yang menyediakan penginapan untuk para pendaki. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum pendakian esok hari untuk mengumpulkan energi dengan beristirahat.
Waktu shubuh telah tiba, aku dan Putri ke kamar mandi untuk sekedar buang air kecil, merapikan rambut yang terbalut jilbab, dan mencuci muka, tidak ada niatan sama sekali untuk mandi karena air disana sangat dingin dan kami akan tertinggal kalau mandi terlebih dahulu. Selepas dari kamar mandi ternyata kami ditinggal oleh teman-teman lainnya yang sholat shubuh di mesjid, alhasil aku dan Putri hanya sholat shubuh di penginapan. Selepas sholat kami merapikan barang-barang dan memesan sarapan kepada pemilik warung, serta memesan nasi bungkus untuk dibawa dalam pendakian.
Kami sedikit kesiangan, matahari telah menyapa saat kami memulai perjalanan pukul 06.30 WIB, aku sangat antusias dan bersemangat, ini adalah pengalaman pertama aku mendaki dan harus berhasil sampai turun kembali. Setelah berjalan 20 menit, kami sampai di pintu masuk pendakian gunung Gede via Cibodas, disana sudah banyak tim lain yang berangkat mendaki lewat jalur ini, pantas tim kami jadi terpisah karena tidak kebagian masuk lewat jalur sini, mungkin karena ini pekan pertama Kawasan Konservasi Gunung Gede kembali dibuka untuk pendakian setelah ditutup selama berbulan-bulan selama musim kemarau kemarin. Kamipun melakukan pendaftaran ulang dan briefing oleh Pengurus Taman Nasional Gunung Gede untuk tetap selalu menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah selama perjalanan.
Tim kami yang diketuai oleh Adlan dengan anggota Alfat, Anam, Oki, Saggaf, Summa, Putri dan aku siap berangkat menuju puncak yang berjarak sekitar 13 km dari pintu masuk ini. Awal perjalanan mendaki aku sudah hampir kelelahan karena tidak terbiasa berjalan naik dengan membawa barang bawaan yang cukup berat, meskipun barang bawaanku paling ringan dibandingkan carrier yang dibawa cowok-cowok itu, tetap saja rasanya berat menurut porsiku. Napasku tersengal-sengal sambil terus berjalan, tapi Adlan terus mendorongku dan Putri dari belakang untuk memberi semangat “harus sedikit dipaksa jalannya” katanya, ia memang sengaja berjalan di belakang untuk menjaga kami semua. Sedikit-sedikit kami beristirahat sambil menghitung tanda HM-HM yang kami temui setiap berjarak 100 meter perjalanan.
Pos pertama yang kami temui terdapat sungai, kami menemui pendaki keluarga dengan dua anak lelaki mereka yang masih kecil, sangat lucu dan menggemaskan menemui anak kecil yang ikut berpetualang mendaki bersama orang tuanya, si kakak dengan nakalnya menurunkan kakinya di sungai padahal sudah dipesan oleh ayahnya agar tidak nyebur ke sungai, kami dibuat tertawa karena tingkahnya. Kamipun banyak menemui tim-tim lainnya, dan setiap melewati mereka, selalu diiringi dengan kata punten, mangga, permisi, sampai ada yang membalas dengan menyebutkan melon, pisang, dan lainnya. Selanjutnya kami melewati Rawa Panyangcangan, mata seketika berbinar melihat jalur yang hanya berupa jembatan karena disekitarnya terdapat rawa, senang banget lah pokoknya jalurnya datar dan cukup rata dengan susunan jembatan dari batu-batu.
Tapi ini hanya sebentar karena kami harus mendaki dengan jalur menaik lagi. Disini rasanya benar-benar mendaki dengan jalur yang terjal, berbatu, berkelok-kelok, dan tentu saja melelahkan, beberapa kali aku berhenti sejenak untuk mengambil napas, untungnya aku berjalan di depan mereka jadi sesekali bisa berhenti sambil menunggu yang lainnya sekaligus untuk mengumpulkan kembali tenaga. Kaki dan seluruh badanku sudah mulai terbiasa dengan pendakian, seketika aku teringat dengan pesan Pak Rohmat naik gunung itu hanya soal mental, dari sini semangatku mulai terbakar, dengan target agar bisa sampai puncak dan berkumpul bersama berduabelas, akupun tidak ragu lagi untuk berjalan di depan. Di tengah pendakian kami, Oki dengan carrier-nya yang sangat berat merasa mulai lelah, Saggaf carrier-nya sedikit lebih ringan dari yang dibawa Oki bersedia bertukar bawaan dengannya.
Setelah cukup lama mendaki, kami mendengar suara air yang katanya air panas, "wah asiiik, air panas, bisa masak pop*ie dong kita" candaku yang akhirnya ditertawakan oleh kelompok pendaki lainnya yang isinya lelaki semua. Kami melewati Air Panas yang beruap-uap, katanya ini memang sumber air panasnya Gunung api Gede, jalur batuannya cukup licin karena dialiri air panas, tak lama setelah itu kami sampai di pos batu kukus, istirahat sebentar dan mengisi ulang botol-botol minum kami yang sudah mulai kosong dengan mata air yang terpancar.
Langit mulai menitikkan air saat kami beristirahat di pos ini, hujanpun mulai menyapa dan memaksa kami berteduh di bawah atap pos, berdesak-desakan dengan kelompok pendaki lainnya, kami memilih untuk menunggu hujan agak reda sambil beristirahat daripada melanjutkan perjalanan dengan hujan-hujanan. Setelah hujan tidak terlalu deras, kamipun melanjutkan pendakian dengan masing-masing telah memasang raincoat-nya. Kembali melalui pendakian yang menanjak, berbatu dan berkelok, sudah lewat tengah hari dan akhirnya tenaga memaksa kami untuk berhenti di tengah jalan dan menyantap makan siang dengan nasi bungkus dan orek tempe yang kami beli pagi tadi di warung makan tempat kami menginap, ditambah telur rebus seadanya, ngga mikir lagi mau cuci tangan terlebih dahulu, pokoknya higienis nomor kesekian, yang paling utama adalah bertahan hidup dan mensuplai energi untuk pendakian kita.
Setelah santap makan siang di tengah jalan kamipun melanjutkan perjalanan, gerimis terus menyapa sesekali hujan deras, beberapa teman sudah memakai jas hujan dan akupun mengeluarkan jas hujanku, namun tidak untuk Putri yang jas hujannya dititipkan pada Mahbub di grup seberang, akhirnya aku memberikan celana raincoat-ku untuk -setidaknya- menutup kepala Putri dari terjangan air hujan. Selama perjalanan kami menemui beberapa kelompok lainnya dengan guyonan "semangat Mba, di puncak ada Indoma*et loh" "Gojek juga ada Mba", bersahut-sahutan saling memberi sapa dan semangat, sejenak kami berhenti dan akhirnya sampai di pos Kandang Batu, di pos ini sudah ada satu-dua tenda yang terpasang. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan sampai ke puncak dan menginap di Surya Kencana, gerimis masih tetap menyelimuti mengiringi langkah kami hingga ke pos Kandang Badak, di pos ini ternyata sudah banyak sekali tenda yang terpasang, memang di pos inilah biasanya di tempati para pendaki membuat camp untuk bermalam sebelum melanjutkan pendakian ke puncak gunung gede keesokan paginya. Selain tenda pendaki, juga terdapat tenda penjual makanan dan minuman hangat, kami sangat beruntung menemui tenda ini sambil menghangatkan badan dengan memesan susu jahe dan teh hangat, kami membuka matras di tenda ini, akupun sempat memejamkan mata dan terlelap sejenak di tengah rintik hujan. Tiba-tiba aku terbangun,entah sudah berapa lama aku tertidur disini, “Ima aku pengen bab, tolong anterin” pinta Putri. Akupun mengantarnya ke tempat yang cukup tertutup dari keramaian tenda di pos ini. “gimana, udah?” tanyaku saat mendapatinya sudah kembali dari peraduannya. “tidak mau keluar, cuma angin” jawabnya dengan wajah tidak puas menahan sakit perut. “yaudah nanti aja” jawabku, kamipun kembali ke grup kami di tenda penjual hangat-hangat.
Hujan mulai reda meskipun masih gerimis setidaknya tidak sederas tadi, kami melanjutkan pendakian hingga sampai di percabangan jalan "Dlan, ini lewat kiri atau kanan?" teriakku memanggil Adlan yang berada di paling belakang, "kiri" katanya. Aku yang berada di paling depan melihat plang yang terpampang bertuliskan "Jalur alternatif", nampaknya ini mencurigakan. Benar saja, jalanan yang ditempuh sangat ekstrim dan sangat panjang yang ternyata jalur ini dinamakan Tanjakan Setan. Tanjakan demi tanjakan yang kemiringannya sekitar 60 derajat kami lalui di tengah gemericik hujan, sesekali kami berhenti untuk menunggu teman-teman di belakang dan berbagi air minum, sedikit sekali kelompok lain yang kami temui di sepanjang jalur ini karena mayoritas pada membuat camp di kandang badak, jalur yang terjal membuat kami kesusahan menaikinya, beberapa sisa batang pohon yang tumbang dan akar pohon setinggi perut jadi andalan kami dalam menapaki Tanjakan Setan ini, Saggaf dan Alfat celana raincoat-nya sudah robek karena terjalnya pendakian. Hingga pukul 5 sore kami masih berada di jalur ini, rasanya puncak sudah semakin dekat, tapi ternyata beberapa kali harapan itu palsu. Akhirnya kami menemui jalur landai yang kami duga sudah dekat dengan puncak, kami bertemu dengan kelompok lain beranggotakan tiga orang yang sedang camp disana "A, puncak udah dekat belum ya?" tanya Alfat "puncaknya masih agak jauh, tuh sebelah sana" salah seorang dari mereka menunjuk ke arah puncak Gede yang ternyata masih agak jauh. Aku menanyakan ke teman-teman apakah perjalanan masih mau dilanjutkan atau bagaimana, mereka setuju untuk melanjutkan perjalanan.
Hari sudah mulai petang sementara kabut asap mulai banyak yang naik dan kami khawatir kabut ini akan menyulitkan penglihataan. Setelah berdiskusi dengan kelompok lainnya yang juga akan menuju puncak, akhirnya kami memutuskan untuk turun dan membuat camp di area yang cukup datar, langit mulai gelap saat kami berjalan turun, lampu senter dan headlamp mulai terpasang. Beruntung kami membawa dua tenda, dan satu tenda lagi dibawa oleh grup Selabintana. Dalam gelapnya malam, dinginnya udara puncak disertai gerimis yang tiada henti, kami mulai mendirikan tenda dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan hampir saja kami menggigil dibuatnya, beberapa ada yang berganti pakaian terlebih dahulu. Alfat yang sebelumnya sudah latihan membuat tenda dengan mudahnya memasang tenda kecil dibantu aku, Saggaf dan Oki, tenda yang lebih besar yang dibawa Adlan lebih lama dipasang karena teknik memasangnya yang berbeda, aku yang turut membantu membuat tenda kedua mulai menggigil "aku ngga kuat (sama udara dingin ini), aku ganti baju dulu aja ya", akupun masuk ke tenda 1 yang sudah terpasang, di dalam sudah ada Putri dan Summa yang juga sedang berganti pakaian. Selang beberapa saat kemudian aku mendengar mereka sudah berhasil memasang tenda yang cukup rumit itu dan segera masuk ke dalamnya. Setelah semuanya berganti pakaian, kamipun makan malam seadanya dan langsung beristirahat, tubuh kami sudah tidak mampu lagi menahan dinginnya puncak di malam hari yang disertai angin dan gerimis. Sepanjang malam kami mendengar suara gemuruh dari luar, kami menduga suara itu berasal dari belerang yang naik, gerimispun terus bergemericik di luar tenda. Dini hari tiba, Putri membangunkanku karena sakit perut yang dialaminya “Ima anterin lagi aku pengen bab” pintanya dengan merengek. Sepagi ini, di luar kondisinya sangat dingin “sekarang dingin banget di luar, Put. Sebentar lagi kalau sudah pagi ya” jawabku. “Tapi aku udah ngga tahan, sakit sekali perut”. Akupun terpaksa bangun untuk mengantarnya buang hajat, dengan bantuan senter karena kondisinya sangat gelap, betapa udara di luar sangat dingin saat itu.
Pagi telah menyapa dan langitpun mulai terang, aku mengajak Putri keluar tenda untuk menyambut sunrise di puncak, dengan semangat iapun menyiapkan diri dengan berbagai aksesorisnya untuk berfoto. Tak ketinggalan akupun mengajak teman-teman lainnya untuk berfoto bersama, namun nampaknya mereka masih enggan keluar tenda karena masih mengantuk dan kedinginan, apalagi Alfat yang tidurnya tidak memakai matras dan punggungnya lembab. Akhirnya aku hanya berdua dengan Putri pergi menyambut sunrise ke puncak, disana sudah ramai dengan belasan bahkan puluhan pendaki lainnya yang juga tidak mau melewatkan momen berfoto dengan background matahari terbit dan kepulan asap gunung gede.
Setelah selesai berfoto kamipun kembali ke camp, teman-teman lainnya pun sudah terbangun dan menjemur pakaian-pakaian mereka yang basah terkena hujan selama pendakian kemarin, Saggaf dan Anam sedang memasak air untuk membuat kopi dan mie instan untuk sarapan, diikuti dengan Alfat dan Summa yang juga makan seporsi berdua. Akupun merapikan barang-barang di dalam tenda dan menjemur pakaian di luar "kita kayak abis kena badai ya?" kata Adlan sambil menunjuk pakaian-pakaian kita yang bergelantungan di antara ranting-ranting pohon dan pagar puncak di sekitar area tenda. Kamipun menikmati pagi yang sederhana ini dengan segelas kopi dan mie instan untuk menghangatkan badan. Nasi-nasi yang dibungkus saat kami berangkat ternyata basah dan dingin, kami enggan memakannya.
Samar-samar terdengar suara seorang bapak berteriak menawarkan nasi uduk "masa sih ada yang jualan nasi uduk?" aku begitu terkejut dan antusias, dan ternyata benar saja ada yang berjualan nasi uduk, dengan semangat kami memanggil si bapak penjual nasi uduk "Nasi uduk A, udah ada telor dan mie-nya di dalam" si bapak menawarkan. Beruntung masih ada 6 bungkus tersisa, kami beli 4 bungkus dengan harga 10rb/bungkus, harga yang cukup mahal untuk seporsi kecil nasi kuning dengan potongan telor-tepung sebesar mata sendok dan sedikit mie, tapi setara dengan perjuangan si bapak yang membawanya dari kaki gunung dan berangkat pukul 3 pagi dari rumah dalam kondisi hangat saat dibawa. Kamipun menyantap nasi uduk yang sudah dingin karena udara puncak tersebut dengan penuh sukacita, masing-masing seporsi berdua, ditemani mie instan.
Usai sarapan, kami bersiap untuk merapikan tenda dan melanjutkan perjalanan menuju surya kencana untuk bergabung dengan Grup Selabintana yang hingga pagi ini kami belum juga mendapat kabar keadaan mereka. Saat membereskan sampah, aku menunjuk sebuah celana raincoat milik Saggaf “Gaf ini?” celananya robek parah hingga terbelah menjadi dua, “udah, masukin aja ke sampah” jawabnya. Selesai merapikan tenda dan barang-barang lainnya, ternyata sampah yang kami kumpulkan sangat berat, didominasi oleh nasi yang tidak termakan, akhirnya kami memutuskan untuk membuang nasi secara sembunyi-sembunyi, namun bungkusannya tetap dibawa, aku Putri dan Alfat dengan cepat melempar isi nasi bungkus satu persatu ke semak-semak yang lebih rendah dari camp kami. Lumayan berkurang banyak beratnya.
Kami melanjutkan perjalanan melalui puncak gunung Gede, waktu menunjukkan sekitar pukul 9 pagi saat kami mulai berangkat. Seperti biasa aku selalu memilih berjalan paling depan agar tidak ketinggalan. Sesekali kami berfoto selama berjalan di puncak ini, Anam yang dengan sepenuh hati sudah menyiapkan tulisan O-X-I-G-E-N mengeluarkan tulisan tersebut untuk kami berfoto, inilah salam hangat kami dari puncak Gunung Gede untuk semua personil OXIGEN (Outstanding XI Generation) dimanapun berada.
Sampainya di puncak orang-orang sudah ramai disana, dan cukup mengejutkan ternyata rumor adanya indoma*et di puncak itu benar, ada yang sengaja membuka lapak berjualan jajanan di puncak, minuman hangat dan mie instan. Tapi kami melanjutkan perjalanan turun karena tujuan kami bukan puncak ini, tapi surya kencana. Alfat terus menghubungi tim di sebrang sana melalui HT yang hampir habis baterainya, alhamdulillah kali ini ada jawaban dari Bangkit tentang keberadaan mereka, sedikit ada rasa lega dan bertambah semangat kami untuk turun menuju surya kencana "ngoni siapin makan siang buat torang wa, torang lagi ada jalan turun ini" jawab Alfat yang sedang menghubungi Bangkit.
Hari mulai siang saat kami masih berjalan turun, rasanya sudah lama kami berjalan namun tak juga menemukan tanda-tanda surya kencana, aku memperhatikan pendaki-pendaki lain yang dengan asyiknya turun gunung sambil berlari dan aku ingin mencoba teknik mereka tapi sama sekali tidak mahir, sekali-kali aku terpeleset karena kurang berhati-hati dan terburu-buru. Di sekitar kami ramai para pendaki lain yang turun maupun yang baru naik ke puncak. Aku yang sudah mulai lelah akhirnya mempersilahkan Summa Alfat dan Putri untuk berjalan lebih depan saat mendekati surya kencana.
Pohon-pohon mulai terbuka, Alfat yang berada di depanku berteriak sangat gembira akhirnya kami menemukan teman-teman kami dan sampailah kami di Surya Kencana, sangat lega rasanya bisa berkumpul berduabelas lengkap. Bangkit sedang sibuk memasak, rupanya mereka belum makan nasi sama sekali, hanya makan snack-snack dan saat ini belum sarapan, padahal mereka banyak membawa lauk seperti sarden, kornet, sosis dan mie instan, katanya "kasihan teman-teman yang dari Cibodas belum makan ini, ini kan buat bersama". Aku mendapat cerita ternyata jalur Selabintana itu sepi sekali"Apaan yang daftar di online ada 100 orang lebih, yang naik cuma 3 grup, yang 90 orang ini pada kemana lho" keluh Mahbub "benar-benar jalur yang susah sekali, ngga ada tanda-tanda kehidupan, hutan semua, kita nemu manusia itu udah alhamdulillah banget" tambahnya. Dalam perjalanan mereka, Bangkit tiba-tiba jatuh sakit muntah-muntah kemudian diare, benar-benar kondisi yang mengkhawatirkan hingga mereka sempat menghubungi tim rescue Gunung Gede. Guspen membawakan carrier yang dibawa Bangkit selama 4 jam ia sakit.
"Mahbuub, mana jas hujan punyaku?" tanya Putri sambil berteriak manja "Oh jadi ini jas hujan punyamu? Sleeping bag juga punyamu? Dasar kamu ini, terus di tas kamu bawa apaan kalau barang-barangmu dititipin semua?" jawab Mahbub sedikit mengejek Putri, aku hanya tersenyum.
Kami mengikuti mereka yang menjemur pakaian basah di sekitar area berkumpul, aku dan Putri membantu Bangkit yang sedang memasak hidangan makan siang yang bagi grup Selabintana ini sekaligus sarapan mereka, aku jadi kepikiran tadi kita di puncak buang-buangin nasi biar ngga berat, ternyata yang disini pada belum makan. Ah sudahlah, aku segera menepis pikiran itu. Ditengah-tengah memasak saat memotong bawang bombay, tanganku terkena cutter yang masih tajam, memaksaku berhenti membantu memasak, merasa kesal sendiri karena tidak bisa membantu memasak sampai selesai. Alfat dan Summa membuka kompor satunya lagi dan memasak mie instan, sementara yang lainnya menyiapkan lapak plastik besar untuk makan bersama, semua makanan yang sudah matang dicampur di atasnya mulai dari mie, kornet, sosis, telor dadar dan sarden menjadi satu sajian di atas plastik besar dan dimakan bersama berduabelas.
Gerimis mulai kembali berdatangan saat kami baru saja selesai makan, buru-buru kami membereskan barang-barang dan tas masing-masing serta mengenakan jas hujan, kecuali Mahbub yang tidak membawa jas hujan dan tidak mengenakan jaket sama sekali. Semuanya telah bersiap dan kami mulai berjalan turun melalui Gunung Putri.
Kami menikmati jalanan Surya Kencana ditemani gerimis, teman-teman laki-laki dengan riangnya menyanyi bersama sambil jalan, ah betapa suasana seperti ini yang akan kami rindukan, seberapa beratpun perjalanan hidup yang kita hadapi asalkan bersama kalian aku yakin kita pasti bisa melaluinya, seperti saat kebersamaan kita semasa di MAN Insan Cendekia Gorontalo, benar orang bilang bahwa teman-teman masa SMA itu akan selalu dikenang sepanjang masa, dan aku membuktikannya. Kami mulai memasuki area Gunung Putri, seperti biasa aku memilih jalan paling depan agar tidak tertinggal, tak lupa aku memastikan Putri berjalan di dekatku karena ialah satu-satunya yang bisa aku pegang erat tangannya untuk membantu berjalan.
Jalanan mulai menurun, kali ini lebih mudah karena tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit, hanya saja harus lebih berhati-hati karena licin dan berair. Aku sedikit bingung saat memilih jalanan yang lebih aman diantara batuan, tumpukan daun gugur, ataukah membuat tap langkah sendiri untuk memudahkan teman-teman berjalan, beberapa kali aku terpeleset karena kurang berhati-hati dan tidak paham dengan teknik turun gunung yang baik, Guspen memberitahuku agar menggunakan bagian kaki pinggir untuk menahan badan saat turun menginjak tanah yang licin. Beberapa kali kami berhenti sejenak untuk menunggu teman lainnya yang di belakang. "Ima gimana? Masih kuat?" tanya Bangkit saat mendahuluiku berjalan "masih, tapi aku lapar" jawabku, akhirnya kami memilih beristirahat duduk di sebuah batang pohon, Alfat dan Ma'ruf yang kakinya sakit men-doping kaki mereka dengan flexozin.
Perjalanan dilanjutkan ditemani hujan yang semakin deras, tim kami terpisah jadi beberapa, yang jalan berdua , bertiga, dan sendirian mengikuti jalur turunan yang sudah tersedia, jalur yang saat ini dipenuhi dengan derasnya aliran air hujan membuat kami harus ekstra hati-hati dalam berjalan. Perjalanan turun kali ini aku sangat bersemangat dengan motivasi besok masuk kerja, aku memilih untuk berjalan dengan dua orang pertama agar lebih cepat sampai. Kami bertiga berjalan duluan sementara Bangkit menunggu teman-teman lainnya di salah satu tempat pemberhentian.
Setelah berjalan beberapa puluh menit dengan jalur yang (alhamdulillah) cukup datar, akhirnya kami menemukan rumah-rumah penduduk dan angkutan umum, kami memilih salah satu warung sebagai tempat singgah untuk menunggu teman-teman lainnya sambil memesan teh hangat dan sepiring nasi, aku menyalakan handphone dan melihat jam yang menunjukkan pukul 4 sore. Setengah jam kemudian mereka sampai menghampiri kami, aku memesankan teh hangat kepada ibu warung untuk mereka. Sambil beristirahat kami berganti pakaian dan Bangkit menghubungi mamang angkot untuk perjalanan pulang kami.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya angkot datang, aku yang mengenakan baju yang tidak terlalu kering dan jaketpun kondisinya basah dengan cepat mengambil posisi di dalam angkot paling pojok, berharap di posisi itu tidak terkena angin jalanan sehingga lebih hangat. Aku mengira kita akan menggunakan satu angkot saja berduabelas, ternyata memakai dua angkot. Satu persatu teman-teman mulai memasuki angkot, ternyata Putri dan Summa naik angkot satunya jadi di angkot yang aku tumpangin hanya aku cewek sendiri, "yah ngga bisa senderan apalagi mepet-mepet yang lainnya deh" keluhku dalam hati. Angkotpun mulai jalan, aku masih merasa kedinginan dengan pakaian satu lapis yang agak lembab, jaketpun tak bisa aku kenakan karena basah, mungkin karena rasa lelah jadi tubuhku sudah tak mampu menghangatkan dirinya lagi terutama di bagian tangan dan kaki, Adlan menawarkan sarung tangan dan kaos kaki padaku. Rasa lelah dan kantuk, ditambah angkot yang gelap membuat mata kami terpejam sesaat namun aku tidak mampu terlelap, kubuka mata memandangi jalanan dan orang-orang di depanku, Bangkit Adlan Anam dan Guspen, dalam hati aku berucap terimakasih pada mereka atas pengalaman hidup yang baru saja kami lalui dan rasa syukur karena kami berhasil mengarungi pendakian yang tidak mudah ini dengan selamat. Kami yang tidak tertidur hanya mengobrol ringan diselingi canda, welcome back to Bogor, welcome back to the real life, hope we'll meet and make story again next time, keep outstanding, keep inspiring, OXIGEN, No Future without it.