Surat Pendek Lelaki Pergi
Ingatkah ketika pertama kali kita bertemu? Bukan kebetulan? Tapi kesengajaan yang tidak kita sengaja. Bukan kebetulan aku memang sedang gila maksimal dunia fotografi. Bukan kebetulan kamu juga suka bergaya di depan lensa kamera. Dan juga bukan kebetulan seorang teman mu yang ternyata kekasih teman ku. Kesengajaan untuk berburu gambar tubuh dengan temanmu itu yang menjadi tidak sengaja kita dipertemukan. Setidaknya begitu, yang bisa aku ingat.
Dari pertemuan itu kita sedikit berbicara. Setidaknya aku paham benar. Memang begitu wanita memperlakukan ku dikesan pertama. Merasa; takut, ngeri, jijik, aneh, dan segala yang buruk bisa tergambarkan di wujudku. Hampir semua begitu, sama sepertimu. Kau menilaiku dari luar. Matamu tak bisa berbohong. Sungguh aku tahu itu. Kau muak dengan aku yang banyak bicara, gendang telingamu ngilu. Kau begitu risi sangat risi, hanya saja keadaan mampu menetralkan segala yang mengumpal di dirimu tentangku.
Tiga bulan kemudian kita kembali dipertemukan. Bukan kebetulan aku sedang patah hati. Bukan patah hati, tapi lebih tepatnya merasakan kehilangan dari sesuatu yang sudah lama hilang sebelumnya. Dan kebetulan aku mendengar kabar kau juga sedang patah hati. Aku tidak sengaja untuk masuk ke kehidupanmu, sama sekali tidak. Sebab aku tahu kata penolakan akan jelas keluar. Hanya saja bagi lelaki seperti aku, meyakini dari apa yang aku pikirkan adalah suatu tujuan yang harus ada dalam genggaman.
Benar saja kau tak bisa melupa kekasihmu. Tidak seperti aku yang begitu berlapang dada melupakan kata pacar untuk kekasihku, melupakan segala yang pernah terjadi. Keculai satu hal, dia sebagai kawan dan sahabatku. Sebab itu takan terhapus, sampai kapanpun. Ku rasa kau juga pernah merasa memiliki sahabat yang kau cintai. Sebab kau masih begitu mencintai priamu yang "pergi" itu. Kau selalu menghindar dariku. Menolak, menolak dan menolak. Baiklah, memang aku ingin merasakan itu. Sungguh.
Maret, ya aku berkata sesuatu yang kecil namun mengebu-gebu. Ya kata cinta. Sebuah kata yang kubawa serta bersama sumpah. Bukan saja untukmu, tapi untuk siapapun yang menjadi kekasihku dalam putaran 3 maret - 3 april akan menjadi sesuatu yang takan pernah tergantikan. Sebab kegagalan cinta telah mengajarkan aku cara memperjuangkanya. Sehingga akan sangat sakral jika dalam putara itu wanitaku menjadi miliku yang utuh.
Sayangnya cinta memang tak pernah tepat waktu. Satu bulan setelah aku secara benar-benar di hadapanmu menyatakan cinta, kau belum juga menyatakan kata iya. Selalu yang keluar adalah alibi yang aku sulit mencernanya, yang ku tahu. Kau sedang bingung berkata TIDAK untukku. Dan di hari kelahiranku yang membuatku merasa menua. Aku mencabut segala sumpahku. Takan ada wanita yang akan kujadikan spesial lagi setelah itu. Jikapun ada, entah kapan dan di mana. Dan mari, silahkan masuk ingatan masa lalu. Bawa aku ke bayang-bayang kenangan indah itu, agar aku bisa terenyum dan mencintamu dalam angan.
Cinta selalu saja datang terlambat. Seperti halnya pesan pendekmu yang sudah tak aku anggap. Selain aku tak percaya saat membacanya. Tapi sebab segala sumpah telah purna. Dan kau tak lagi istimewa. Kau akan sama. Kau biasa. Seperti mereka sebelumnya. Sebab menolak akan melukaimu. Dan kedekatan kita mulai membuatku bangun tepat waktu. Baiklah, selamat datang cinta. Semoga kau akan betah singgah di rumah yang telah terbiasa berganti penghuninya. Rumah ini tanpa jendela.Sungguh. Hanya ada satu pintu. Namun sayang kuncinya telah lama hilang.
Ternyata menjadi kekasihmu adalah hal yang tak lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan. Selain kenyataan kita tak pernah bisa menikmati waktu berjam-jam untuk bertemu. Apalagi menikmati malam dan meminum kopi buatanmu. Kita menjadi kaku, entah sebab kita memang sangat berbeda. Atau karena ada sesuatu yang masih membuntuti di belakang kita. Aku mulai takut ketika aku mulai memahami aku kehilangan sesuatu yang biasa aku nikmati dengan wanitaku; keluar masuk musium atau toko buku, menghabiskan waktu menulis puisi, menulis cerita, membaca buku,mendebat berita dan entah apa saja. Tapi bukankah wanitaku dulu juga tak langsung bisa menjadi seperti itu, butuh waktu. Ya begitu juga denganmu. Butuh waktu. Atau justru sebaliknya, aku yang harus mengurangi egoisku menjadikanmu wanita dalam imajinasiku. Bukankah seperti wanitaku dulu juga akhirnya gagal menjadi teman hidupku? setelah mereka sempurna seperti dalam imajinasiku?
Aku selalu melihat sesuatu yang mengandung misteri di matamu. Juga merasa ada yang ingin kau ucap dari bibir manismu yang selalu mengodaku. Sayangnya aku selalu kehabisan kata-kata, ketika kita bertemu. Bukan karena waktu yang begitu sempit. Tapi entahlah. Aku memang selalu kalah melawan rasa penasaran di hidupmu.
Dan benar adanya. Segala yang menjadi misteri dan pertanyaan akhirnya terjawab. Sebenarnya jauh-jauh hari aku ingin menyatakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan tentang masa lalu hidupmu. Namun kau lebih dulu membuka masa lalumu. Bukan waktu yang tepat bagiku membagi sesuatu yang sama dengan apa yang kau ceritakan. Toh aku tak mampu menolak. Juga dirimu yang tak mampu mengelak.
Sesuatu yang kemudian menjadi "penyesalan" atau "pengulangan" untuk menyesali dari sesuatu yang sudah berulang kali. Kau pasrah begitu juga aku. Dan aku benci. Tapi, nafsu begitulah manusia mudah sekali terperdaya. Bedanya aku telah lama tidak melakukanya, sehingga wajar saja kau merasa aku baru pertama mengalaminya. Sedang dirimu, ah baru saja menikmatinya.
Kita berjalan cukup baik. Setidaknya ketulusan mulai kita tanam. Kalaupun mungkin masih banyak kebohongan dan keraguan. Sayangnya semakin jauh langkah kita, aku menjadi begitu bodoh. Aku menunjukan segala yang bukan aku di hidupmu. Aku merubah diriku, menjadi sesuatu yang lain. Dan begitu juga kau, kau merubah dirimu menjadi yang lain. Ya karena aku selalu memaksamu menjadi orang lain yang bukan dirimu. Itu bodoh. Sangat bodoh. Tapi alasanku sederhana, seperti alasanmu. Semisal, Ibumu tak suka lelaki berabut gondrong, perokok, menggunakan kalung, gelang, tak rapi. Ya semua ibu begitu. Sama seperti ibuku.
Ibuku juga menuntut hal yang sama. Bahkan lebih sulit untuk di wujudkan menjadi sesuatu yang nyata. Dan nyatanya kau tak bisa. Aku pun tak mampu berbuat banyak. Sebab memang beginilah kita sebagai anak mereka. Baik Ibumu atau Ibuku, sama. Ingin yang terbaik bagi anaknya. Salah satunya dalam hal "jodoh".
Akan sangat menyakitkan ketika cinta terhalang restu orang tua. Aku pernah mengalami itu. Dan itu sakit. Dan ketika segala kemungkinan itu akan datang lagi. Aku tidak siap seutuhnya untuk menerima pengulangan ini. Namun aku tahu. Dayaku tak banyak mengubah yang akan terjadi. Selain Tuhan yang maha tahu dan berkehendak. Aku rasa di balik diam ibuku sejak kepulanganku. Aku tahu jawabnya. Entah bagaimana kau menanggapi yang aku katakan. Yang sangat sulit aku jelaskan. Namun itulah aku adanya. Aku bukan lelaki yang seperti pernah kau bayangkan. Aku bukan lelaki itu. Aku biasa sangat biasa, aku kalah, bahkan dalam hal teman hiduppun aku belum mampu mengandeng tanganya dan pergi meninggalkan fatwa dan prasangka. Itulah aku, sungguh. Aku bukan lelaki itu. Kecuali waktu akan merubah segalanya. Sebab aku selalu percaya keajaiban dari Tuhan dalam putaran waktu. Bukankah kita sudah berusaha setahun lebih mendatangkan keajaiban-keajaiban itu? Jika sekarang aku kalah, maka jadilah kau pemenangnya.