“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers




seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Somalia

seen from Germany
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Thailand

seen from United Kingdom
seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Spain
seen from South Africa
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Teman seperjuangan yang tak pura pura sukses.
Di antara deretan teman seperjuangan, ada satu yang tak pernah bercerita soal seminar, tak pernah unggah sertifikat pelatihan gratisan, dan tak sibuk memberi motivasi pagi dengan kutipan dari buku yang tak pernah ia baca.
Ia tak berpura-pura jadi CEO di bisnis yang bahkan belum punya pelanggan. Tak menuliskan "Alhamdulillah, tak menyangka" setiap habis makan siang di kafe coworking space.
Ia hanya bekerja. Ya, bekerja.
Tanpa perlu mengabari dunia bahwa ia sedang berproses. Tanpa perlu menyebut setiap kegagalan sebagai "pembelajaran luar biasa".
Ia hanya diam, menambal lubang hidupnya pelan-pelan, tanpa sound effect dari media sosial.
Sementara teman-teman lain, sibuk saling mencolek di dunia maya, mengundang satu sama lain dalam seminar yang mereka sendiri tak pahami, berteriak soal sukses dari atas panggung yang mereka dirikan sendiri.
“Perjuangan itu proses,” katanya bukan postingan.
“Kesuksesan itu senyap,” bukan headline yang dibayar pakai barter kopi gratis dan kursi lipat.
Ia tak memakai kata-kata seperti "naik kelas", "mentoring", atau "healing". Ia lebih percaya pada kata "menabung", "menyusun ulang", dan "tidur cukup".
Lalu ketika yang lain sibuk menciptakan personal branding, ia justru memilih memperbaiki personal reality.
Dan saat dunia bertanya, mengapa ia tak pernah muncul dalam daftar inspiratif, ia hanya tertawa kecil, seperti tahu bahwa yang paling berhasil tak pernah butuh pengakuan dari yang paling bising.
--lartikriyadisworld--
Apa saja yang sedang terjadi dalam hidupmu saat ini.. mungkin air matamu sudah kehabisan ruang, mungkin tak semuanya mampu diceritakan, mungkin banyak bingung yang entah harus diadukan kepada siapa, mungkin ada lelah yang tak sepenuhnya kamu paham dari mana asalnya.
Barangkali kamu kerap berjalan seperti biasa di hadapan manusia, tersenyum, terlihat baik-baik saja. Padahal ada hati yang diam-diam ingin dipeluk oleh ketenangan yang hanya Allah yang punya.
Maka jika ini bagian dari cara-Nya membentukmu, semoga kamu dikuatkan. Jika ini bagian dari ujian-Nya, semoga dadamu dilapangkan untuk menerima. Jika ini jalan panjang menuju sesuatu yang lebih baik, semoga kamu tidak dibiarkan berhenti di tengah karena lelah.
—12 April 2026
Biarlah kita keliatannya jelek, hidupnya amburadul, tapi diem-diem berusaha buat jadi kecintaan-Nya Allaah. Beneran senyaman itu gak keliatan jadi apa-apa di hadapan manusia, tapi usahanya kenceng banget buat bikin Allaah jatuh cinta.
@terusberanjak
Dan semoga, setelah segala gelisah yang kita pikul diam-diam, hati kita menemukan tempat untuk beristirahat. Semoga jiwa kita yang lelah dijemput ketenangan, seperti air yang akhirnya menemukan muaranya. Dan semoga Allah, dengan cara yang paling lembut dan waktu yang paling dekat, menyentuh luka-luka kita—lalu menyembuhkannya perlahan, sebagaimana Ia menenangkan malam setelah hujan.
Sebab manusia selalu berjalan dengan beban yang tidak selalu tampak, rindu yang tidak kita akui, takut yang kita sembunyikan, dan luka yang kita bungkus dengan senyum agar dunia tidak repot menebaknya. Kita terus melangkah, meski kadang rasanya seperti menyeret kaki di jalan yang tak kunjung kering dari air mata. Namun begitulah hidup bekerja—memaksa kita melewati malam agar tahu harga cahaya, memaksa kita kehilangan agar tahu nilai sebuah temu.
Ada hari-hari ketika kita merasa runtuh, tapi tetap harus bangun. Ada hari ketika dada terasa sesak, namun kita tetap harus tersenyum pada orang yang tidak pernah tahu betapa lirihnya hati kita pagi itu. Dan mungkin di titik-titik seperti itulah Allah paling dekat—bukan dengan gemuruh, tapi dengan cara-Nya yang membuat kita kembali percaya bahwa tidak ada patah yang sia-sia di genggaman-Nya.
Maka, jika malam ini terasa berat, tenanglah sebentar. Letakkan semua yang tak sanggup kita tanggung di pangkuan-Nya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk memulihkan sesuatu yang sudah lama kita kira tidak bisa diperbaiki. Kadang Ia menenangkan lewat doa yang tiba-tiba terasa ringan; kadang lewat seseorang yang datang tanpa rencana; kadang lewat hati kita sendiri yang, entah bagaimana, mulai berani berharap lagi.
Semoga esok yang kamu temui bukan lagi esok yang gelap, tetapi esok yang membuatmu mengangguk pelan dan berkata,
“Ternyata Allah tidak pernah meninggalkanku.”
Semakin lama kita hidup, semakin banyak kita kehilangan.
Kita terus kehilangan. Namun sesekali, kita akan menemukan sesuatu yang membuat hidup layak dijalani.
Bertanya
Semua orang pernah melakukan kesalahan, dan semua orang bisa berubah. Memang.
Tapi kadang, kita nggak mau kembali bersama dia yang pernah menyakiti kita bukan karena kita nggak percaya dia bisa berubah. Ini soal batas (boundary) yang akhirnya kita punya—ini sehat nggak buatku? ini melanggar batasku nggak?
Boundary adalah bentuk self-respect kita terhadap diri sendiri.
Kalau kamu akhirnya sampai di titik di mana kamu benar-benar paham cara menghormati diri sendiri, memangnya kamu masih mau menggadaikannya lagi demi bersama seseorang yang pernah menyakitimu?
Aku selalu ingat sebuah nasihat dari Jalaluddin Rumi, “untuk hidup yang hanya satu tarikan nafas, jangan tanam apapun kecuali cinta.”
Dan semakin bertambah usia, aku semakin mengerti bahwa hidup memang terlalu singkat untuk dipenuhi kebencian, gengsi, dan pertengkaran yang tidak pernah benar-benar membawa ketenangan. Banyak manusia sibuk memenangkan ego, sampai lupa bahwa waktu terus berjalan dan hati perlahan menjadi asing terhadap dirinya sendiri.
Kita sering terlalu keras pada hidup. Terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu bisa dibawa sampai akhir. Sampai akhirnya lupa menikmati hal-hal sederhana, seperti didengar dengan tulus, dipeluk saat lelah, atau sekadar memiliki seseorang yang tetap tinggal ketika dunia terasa tidak ramah.
Mungkin itu mengapa cinta selalu menjadi hal paling penting. Bukan hanya tentang mencintai orang lain, tetapi juga belajar mencintai hidup, menerima diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan berhenti menyiksa hati dengan hal-hal yang tidak bisa diubah lagi.
Karena pada akhirnya, hidup benar-benar sesingkat satu tarikan nafas. Dan akan sangat menyedihkan jika waktu yang sebentar itu justru habis untuk saling melukai.