Kab kahan sb kho gayein
Jitni bhi thi parchaiyyan
Uth gai yaaron ki mehfil
Ho gai tanhaiyyan~
seen from Malaysia
seen from Martinique

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from Saudi Arabia
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States

seen from Switzerland
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from Italy

seen from Switzerland
seen from Martinique
seen from Switzerland
seen from United Kingdom
seen from China

seen from China
Kab kahan sb kho gayein
Jitni bhi thi parchaiyyan
Uth gai yaaron ki mehfil
Ho gai tanhaiyyan~
Tulisan: Sebuah Awal
Kamu tidak perlu berpura-pura dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tidak perlu berbohong dengan apa yang kamu rasakan. Kamu, perempuan, yang mandiri dan kuat. Kamu yang pantang menyerah dan terus berusaha. Kamu yang berjalan sendiri meraih tujuan. Kamu yang berusaha melakukannya seorang diri tanpa ingin merepotkan orang lain. Kamu yang diam-diam menyembunyikan air mata. Kamu yang diam-diam menutupi keluh-kesah dengan banyak tertawa. Kamu yang diam-diam menutupi ketidakmampuan. Kamu yang diam-diam menyembunyikan kelemahanmu dengan setiap usaha. Kamu yang ingin menjadi perempuan tangguh, perempuan yang sanggup memanggul bebannya sendirian.
Aku bisa menebak apa yang tersembunyi di sana, di tempat itu, tempat di mana kamu menjadi dirimu sendiri. Dan ketika aku melihatmu, berdiri di tempat itu. Kamu yang sedang kelelahan, pelan-pelan mengusap keringat. Aku tahu sebenarnya kamu lelah berdiri, sendiri. Langkah kakimu itu pun bergetar saat melangkah. Apakah gerangan lelah yang sedang kamu rasakan saat tidak ada orang-orang itu adalah beban yang selama ini kamu bawa-kini perlahan-lahan kamu letakkan. Di tempat sepi dan seorang diri kamu mencoba melepas lelah. Kamu terlihat payah dan kesusahan. Aku heran, mengapa kamu sengaja di tempat itu. Sengaja sembunyi dan tidak ingin terlihat oleh orang lain. Namun, aku bukan orang lain. Sebagai seseorang yang pernah menemanimu dalam perjalanan, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Bahkan, rahasia dan ketakutan-ketakutan itu aku bisa membacanya. Sudah aku bilang, kamu tidak pandai berpura-pura. Kamu tidak pintar menutup-nutupi. Namun, kamu masih saja bersikap kuat. Mencoba tangguh meski peluh mengering.
Maka, sekali ini saja. Kamu tidak perlu berkata "iya". Katakanlah sesuatu yang memang itu mewakili hatimu. Katakan jika kamu lelah. Katakan jika kamu tidak sanggup. Katakan jika kamu ingin menyerah. Katakan jika kamu lelah berjuang. Katakan jika kamu tidak sanggup berjuang sendiri. Katakan jika kamu butuh teman. Katakanlah meski itu hanya berupa doa atau melalui tatapan. Aku ingin membantumu, kali ini, dan seterusnya. Aku akan menjadi temanmu yang bisa diandalkan. Seseorang yang akan menyamai setiap langkahmu. Jadi, kamu tidak perlu takut tertinggal dan kamu juga tidak perlu terburu-buru. Dengan begitu, kamu tidak perlu datang lagi ke tempat itu untuk melepas lelah, karena esok, aku akan di sampingmu sebagai teman yang hebat. Ini bukan janji, namun apa yang hendak aku sampaikan adalah, aku menawarkan kesepakatan. Kesepakatan untuk menjadi kaptenmu.
Salatiga, 15 Februari 2018
Muhammad Rafi
Impian
Ketika menjadi bagian dari yang sedikit di dunia ini, yaitu hidup pada mimpi yang terwujud. Karena ada cukup banyak manusia lain yang masih mengejar mimpi. Susah payah, lelah dan tidak henti-hentinya menempuh jalan panjang perjuangan. Sedangkan di sisi lain ada satu, dua, belasan, bahkan ratusan yang berhenti. Kata mereka, jalan itu tidak untuk semua orang. Ada banyak waktu yang harus digulung. Ada banyak keringat yang harus diseka. Ada banyak kerikil yang menghalangi jalan. Belum lubang-lubangnya yang menganga. Bahkan mungkin jalan itu seperti tidak berujung, begitu jauh dan samar-samar.
Dan aku kini telah mencapai ujung jalannya. Titik nadir kehidupan dan awal perubahan. Ada berbagai hal baru beserta perasaan yang menyertainya. Hal baru yang beragam itu, menuliskannya pun terasa sukar. Barangkali sedikit yang dapat aku gambarkan, Hidup dalam sebuah pencapaian menuntut perubahan hidup sepenuhnya.
Seperti halnya seorang doktor yang akhirnya meraih gelar professor, merupakan sebuah kebanggaan bagi bangsa, institusi, dan keluarganya. Kini professor menjadi nama depannya, tertulis jelas di hampir seluruh dokumen yang pada namanya tercantum. Orang-orang kini mengenalnya sebagai guru besar. Pusat rujukan ilmu dan validasi ilmiah. Ia menjadi yang tertinggi dalam keilmuan. Tegak berdiri di pusaran ilmu pengetahuan. Mimpi menjadi guru besar purna sudah. Kemudian muncul pertanyaan, sanggupkah ia membawanya sepanjang hidup, serta dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya. Jawabannya adalah waktu. Waktu di mana dan bagaimana ia berakhir. Apakah ilmu akan menyinarinya atau malah sebalilknya. Mahabesar Tuhan dengan ilmuNya.
Seketika aku hadapkan muka hatiku pada kenyataan yang sebenarnya bahwa saat ini, Aku sedang menjalani mimpiku. Namun inikah harga yang harus ditebus, wahai sang imam?
Tiada kata santai bagi orang yang berakal dan beradab Maka tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah Bepergianlah, kau akan mendapat ganti orang yang kau tinggalkan Berusahalah, karena nikmatnya hidup ada dalam usaha Sungguh, aku melihat air yang tidak mengalir pasti kotor Air akan bersih jika mengalir, dan akan kotor jika menggenang Kalau tidak keluar dari sarangnya, singa tak akan mendapatkan mangsa Kalau tidak meleset dari busurnya, anak panah tak akan mengenai sasaran
Matahari kalau berada di porosnya selamanya Niscaya semua orang, baik Arab maupun non-Arab pasti bosan Timah akan seperti tanah, kalau berada di tempatnya Kayu cendana pun hanya akan seperti kayu bakar, bila menetap di tanah
Imam Syafi’i AS
Semoga jalan ini adalah benar jalan yang lurus. Tulus belajar mengabdi pada ilmu pengetahuan. Rendah hati pada ketidaktahuan, karena hanya sedikit yang diketahui. Mudahkanlah orang-orang yang mempelajari ilmuMu wahai Pemilik Alamraya.
Teruslah belajar, saudaraku. Tuhan menyertaimu seiring langkah setiap waktu.
Kota Bandung, 23 Agustus 2022 Muhammad Rafi
Amanah Tuhan
Belum pernah sebelumnya aku mengambil keputusan sebesar ini. Begitu banyak tekad yang aku perlukan sampai dada ini sesak. Seandainya keputusan itu untukku pasti sejak awal sudah aku putuskan. Namun berbeda cerita, jika keputusan yang akan diambil berdampak untuk orang lain. Bahkan berdampak pada kehidupan fisiknya. Maka atas dasar apa keputusan itu diambil, mengapa harus aku yang melakukannya. Apakah tidak ada yang lain sehingga semua harus dipikul sendiri.
Aku ingin meminta maaf atas kelemahanku mengambil keputusan, atau keraguan yang menyertai setiap tindakan, serta bagaimana semua ini nantinya berdampak padamu.
Kehadiranmu adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Amanah tertinggi dari Tuhan kepada hambaNya. Lantas gerangan apa jika kau sampai dilalaikan oleh penjagaanku. Maka sudah pasti kau akan aku jaga sepenuh hati, sedalam jiwaku dari awal nadi hingga ujung napas.
Kau yang kecil di genggam tangan, adalah kebanggaan ayah sejak lahirmu. Sempurna kau tumbuh di pelupuk mata, menjadi dahaga dari kering yang kehidupan bawa.
Bagi ayah kau adalah yang utama, mengalahkan seribu kehidupan, hidup ayah sendiri.
Nak, kehidupan yang sekarang jalani adalah pemberian dari yang Mahakuasa. dan hidup yang kau rasakan adalah bentuk tanggung jawab ayah sebagai seorang laki-laki. Ingin ayah bagi suatu hal agar kelak kau mengerti,
Apapun yang ayah putuskan yang menyangkut kehidupanmu nanti, adalah niat amal yang berakar dari kewajiban seorang ayah menjaga putranya. Sudah pasti ayah ingin yang terbaik untukmu apapun itu. Jika nanti ayah sampai di penghujung waktu dan bertemu kepada yang memberimu kehidupan. Ayah akan berkata,
Semua ini aku lakukan karena ketakutanku menjadi hamba yang lalai dalam menjaga amanah Mu, Ya Tuhan. Setiap yang Engkau berikan, sepenuh hati hamba jaga sebaik-baiknya, sampai habis napas. Ampuni aku atas kelalaian, maafkan aku atas kesalahan. Aku hanyalah hamba, dari Engkau yang Mahakuasa.
Semoga, bapak dapat menjadi ayah yang baik bagimu, ya nak.
Salatiga, 3 November 2021. Muhammad Rafi.
Perjalanan 100 kilometer.
Perjalanan panjang mencari makna kehidupan, arti penting yang bersemayam jauh di dalam hati. Sebelumnya, ayah adalah pencari ulung, kini sejak bersamamu ayah menjadi pencari sejati. Sejak dahulu ayah adalah seorang yang tidak berhenti mencari jawaban, mungkin itu yang dulu membuat ibumu luluh menerima ayah. Mendapatkan jawaban pasti adalah keniscayaan, meski ayah mengerti di dalam kehidupan ada beberapa hal yang tidak menuai jawaban sekalipun ada jalan untuk menemukannya karena kita mengerti kehidupan dipenuhi seribu misteri.
Kehidupanmu adalah salah satunya. Jawaban dari cinta kami, ayah dan ibumu, yang Tuhan berikan tanpa ragu. Sehingga kehadiranmu tidak sedikitpun membuat ayah khawatir atau menjadi ragu menjalani kehidupan lebih jauh lagi.
Waktu yang senantiasa menyertai kini telah sampai pada bulan keenam kelahiranmu. Engkau tumbuh besar, lucu, tertawa dan mengerti kata yang Ayah ucapkan. Hanya terimakasih yang dapat ayah sampaikan, sisanya adalah syukur berkepanjangan nan abadi.
Hari pertama kali engkau menempuh 100 kilometer adalah hari di mana ayah dan ibu menemanimu menjemput takdir. Takdirmu membawa kami pada perjalanan penuh harapan dan doa. Sepanjang perjalanan, engkau terlelap, lalu membuka mata menatap kami, dan tersenyum! Aduhai, lucu sekali wajahmu. Dibalik senyuman itu Ayah mengerti, ketidaktahuanmu adalah kekuatan ayah. Semakin engkau bertumbuh, ketidaktahuanmu memicu keberanian ayah untuk bertanya kepada mereka yang lebih mengerti keadaanmu. Orang-orang spesial yang rendah hati, memberi pengertian dengan harapan.
Ketidaktahuan ujungnya yang memicu berbagai pertanyaan, pertanyaan yang akhirnya menemukan jawaban. Setiap jawaban itu, pada akhirnya membuat ayah mengerti akan membuat perjalananmu semakin jauh. Dimulai dari 5 kilometer pertama, sampai 100 kilometer di ujung utara. Tinggi harapan ayah percaya, inilah ujung dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
Gedung lantai 4 berkaca biru, ayah menemanimu menjawab takdir. Mewujudkan doa-doa panjang yang selama ini menguntai dari sajadah hingga langit yang tujuh, Tuhan kita Mahamendengar. Harapan pasti selalui menyertaimu, menyertai ayah dan ibu, menyertai kita.
Perjalanan kita belum selesai nak, mari kita selesaikan.
#chandmeradil #humkisisekamnahi #rdburman #muhammadrafi #acousticnight #acousticcover #fingerstylecover #guitartabs #staffnotation #sheetmusic #musicscore #nylonstrings #ibanezguitars #musicianlife #musicislife🎶 #bollywoodmusic #retromusic #oldsongs #rishikapoor #guitarlesson #guitarsdailyacoustic #guitarporn #guitarstagram #f.a.g. #acousticsoul #acousticversion #acousticsessions #jazzelinnguitarschool #jazzelinn #playguitar (at Jazzelinn Guitar School) https://www.instagram.com/p/B7ohXlJHUKm/?igshid=p62ihzbyqklc
Kya hua tera waada, wo kasam wo irada