David Eko Basuki Di beberapa gereja yang mengundang dia berkhotbah ia dipanggil Pendeta. Namun ia selalu mengatakan "saya bukan Pendeta". Ia selalu diundang di gereja-gereja Pantekosta dan Karismatik meskipun ia adalah seorang diakon di gereja Baptis. Yang menarik adalah persyaratan untuk mengundang dia adalah tidak boleh memberi amplop yang berisi uang atau hadiah pengganti amplop. Sehingga ia selalu mendapatkan kesempatan berkhotbah secara rutin di beberapa gereja termasuk gereja saya dulu di Semarang. Namun bukan karena gratis sehingga beberapa (sebenarnya banyak) gereja mengundang dia tetapi karena khotbahnya mendarat dengan baik di hati Jemaat yang mendengarkan. Ia tidak belajar teologi dan tidak bergelar sarjana (yang jelas tidak pernah mencantumkan gelarnya) namun ia seorang pembelajar yang serius. Saya pernah bertanya bagaimana dia bisa menyampaikan khotbah yang sederhana dan Alkitabiah tanpa bertanya latar belakang gereja yang akan dilayani? Ia menjelaskan bahwa ia berdoa dan bertanya kepada Allah, karena Allah mengenal mereka dan mengerti apa yang harus disampaikan. Allah sanggup menjelaskan apa yang harus disampaikan kepada mereka. Salah satu khotbah beliau sangat memberkati saya, lalu saya melakukan daur ulang dan menjadi khotbah yang memberkati setiap kali saya sampaikan 🙏 Setelah saya mengakhiri pelayanan saya di Semarang ia menjadi pendoa bagi saya untuk memulai pelayanan yang baru di Medan. Ia adalah salah seorang mentor yang mempengaruhi pola pikir saya dalam melayani Tuhan. #melayani #denganhati #muridtanpagelar #kualitaslewatbuah #taat https://www.instagram.com/p/BtZ1nK-F-Yl/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1um9lm0k0cwfz
















