Semarang, 15 Februari 2016
Hari ini hari pertamaku mengawali perkuliahan awal di semester empat ini. Ah, banyak sekali evaluasi untuk semester kemarin yang sudah terlewati dengan penuh nano-nano rasa. Dan aku harus berjuang mencapai target-target baru di semester ini. Setidaknya apa yang selama ini aku lakukan tidak ada yang sia-sia. Setidaknya salah jurusan bukan berarti selamanya salah jalan (tuhkan baper lagi…. xixi). Hari ini perkuliahanku di awal senin cukup padat. Perkuliahan jam ke satu sampai sampai jam ke tiga dipadati oleh mata kuliah rangkaian listrik ii, pengukuran besaran listrik, dan matematika teknik ii dengan total bobot tujuh sks. Setiap awal semester aku harus beradaptasi dengan mata kuliah baru dan juga dengan dosen-dosen yang belum pernah memberikan perkuliahan di mata kuliah sebelumnya.
Tak ada yang baru dengan suasana kampus biruku di semester ini. Kampus ini tetap biru dengan warna khasnya. Tetap terasa rindang dipandang karena dikelilingi pepohonan mangga yang cukup lebat dan menambah kesan asri. Memang universitasku ini termasuk kampus yang gencar menggalangkan penghijauan dan ruang terbuka di seluruh pelosok kampus. Setidaknya udara di kampusku ini masih sejuk dan segar untuk bernafas dibandingkan hiruk-pikuk ibukota yang biasa aku rasakan semasa putih abu. Kembali lagi ke kampus biruku. Memang semester ini keadaan kampus secara fisik masih tetap sama, tetapi suasananya agak berbeda dibandingkan biasanya. Kampus ini tidak begitu ramai seperti biasanya. Tak seramai ketika sedang musim praktikum melanda kehidupan kami. Ternyata suasana sepi kampus dikarenakan para senior angkatan sebagian besar ada yang sedang mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) dan sedang melaksanakan Kerja Praktek (KP) di beberapa perusahaan.
Akhirnya perkuliahan di jam terakhirpun berakhir. Lelah sekali rasanya kuliah dari pagi buta hingga senja beranjak menyapa. Setidaknya aku telah melewati perkuliahan hari ini tanpa percuma. Salah seorang temanku Nely mengajakku untuk pergi ke toko buku sore ini. Rasanya tak apa sekali-kali melepas penat seharian kuliah. Lagipula ini masih awal perkuliahan. Dan lagi, setelah mendengar toko buku rasanya pikiranku mulai membayangkan berburu alat-alat tulis kesukaanku. Ya, aku memang suka membeli alat-alat tulis walaupun belum tentu alat itu aku gunakan. Asal ada warna kesukaanku dan perasaan untuk membeli alat itu sangat menggebu-gebu aku pasti membelinya dan pastinya dengan mempertimbangkan isi dompetku xixi….
Aku dan kawanku berkeliling ke bagian stationary. Disana kami mencuci mata melihat pernak-pernik alat tulis yang unik-unik dan unik pula harganya hehe. Aku berkeliling hingga sampai pada bagian tempat mainan anak-anak. Disana banyak mainan anak-anak khususnya seperti mobil-mobilan dan truk-trukan. Rasanya melihat semua mainan terkhusus mainan anak lelaki aku jadi teringat the one an only my nephew, Dipta. Dahulu kala saat ia masih tinggal di Semarang aku selalu menyempatkan waktu menemaninya bermain truk-trukan sampai mau pulang ke kost aja susahnya duh. Kembali lagi dengan toko buku ini. Ada pemandangan yang membuatku risih untuk terus melihat ke bagian rak-rak mainan itu. Agaknya konotasi risih disini lebih ke arah pergolakan batin melihat pemandangan ini. Aku melihat seorang lelaki paruh baya berpakaian kaos oblong dan bercelana panjang agak lusuh. Ah rasanya beliau belum separuh baya, mungkin usia bapak itu sekitar empat puluh tahunan. Aku mulai mencoba menerawang. Sepertinya beliau sedang sibuk memilih mainan yang ada di rak tersebut. Dari satu mainan ke mainan yang lain beliau memperhatikan dengan seksama. Sepertinya ia akan membeli mainan, mungkin untuk anaknya pikirku. Pasti beliau sangat menyayangi anaknya, buktinya ia datang ke tempat ini sendirian. Pasti beliau ingin memberi kejutan kepada anaknya yang beliau kasihi. Agaknya kali ini pikiranku mulai menunjukkan rasa keingintahuan---- sok tahu.
Tiba-tiba lamunanku beralih ke dimensi yang lain. Aku jadi teringat seseorang yang ada dalam hidupku. Rasanya aku juga memiliki sosok seperti beliau yang ada dihadapanku. Ya, ayahku. Jalan pikiranku mulai berubah seperti kaset film yang sedang diputar ulang. Kenangan masa kecilku mulai kembali dalam ingatan, khususnya saat bersama ayahku. Ayahku memang tak seperti bapak separuh baya yang ada dihadapanku ini. Beliau tak pernah memanjakanku dengan membelikan aku mainan-mainan ataupun boneka seperti layaknya anak perempuan saat usiaku kecil dulu. Beliau tak seperhatian itu.
Saat aku kecil, aku ingat sekali ayahku selalu menemaniku ketika ibuku sedang bekerja di kantor. Ketika beliau harus mengajar pada shift siang hari, Beliau menemaniku di rumah, menyiapkan makanan untukku. Aku sering diajakanya mengetes radio pemancar buatannya. Ya, ayahku adalah seorang guru PNS mata pelajaran fisika, namun beliau amat pandai dan memiliki kegemaran dalam bidang elektronika. Kadang aku bosan karena tak mengerti diajaknya keliling daerah sekitar rumah menggoyang-goyangkan radio pemancarnya untuk mengetahui sampai daerah mana frekuensi radio pemancar buatan beliau masih terdengar. Kadang aku juga diajak beliau untuk ikut ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Aku melihat sekeliling hanya anak lelaki yang diajak shalat jumat. Saat shalat jumat tiba, aku duduk disebelah beliau yang sedang berdiri melaksanakan shalat jumat. Rasanya aneh saat itu. Akan tetapi, setelah dewasa aku sadar itu adalah salah satu bentuk kasih sayangnya karena tidak ingin aku dirumah sendirian.
Aku memang tidak terlalu dekat dengan ayahku. Kadang aku merasa ayahku lebih sayang dengan kakak perempuanku satu-satunya. Maklum saja karena dia pernah menjadi anak terakhir dan anak perempuan satu-satunya selama sembilan tahun sebelum kelahiranku. Ayah terlihat begitu nyaman bertukar pikiran dan bersenda gurau dengan kakakku itu. Berbeda denganku, aku memang tidak terlalu dekat dengan beliau. Kadang ada rasa takut dan segan dengannya. Dan hal yang sama pun beliau rasakan. Kakakku pernah bercerita bahwa beliau agak segan denganku. Segan dalam arti karena sifatku yang keras, beliau tak menunjukkan rasa kasih sayangnya secara langsung. Ya, memang terkadang sikapku keras dan kadang condong menggunakan nada marah apabila berbicara dengan beliau. Hal itu bukan karena aku benci atau iri karena beliau lebih sayang dengan kakakku, melainkan karena mungkin memang karakter dan caraku menyampaikan kasih sayangku dengan cara begitu, terlebih ketika mengingatkan beliau untuk tidak makan sembarangan untuk menjaga kondisi tubuhnya yang sudah banyak diterpa beberapa penyakit. Aku pikir caraku itu dapat menekankan bahwa aku benar-benar menyayangi beliau sehingga tak ingin beliau makan sembarangan, terlebih karena sifat beliau yang suka makan di luar rumah meskipun ibu sudah memasak masakan yang menyehatkan.
Aku belum bisa membahagiakan beliau. Tiga kali aku mengikuti ujian PTN untuk menembus bangku kedokteran pun tak terealisasi beliau selalu punya peran penting dalam setiap usahaku ini. Aku ingat benar, berkali-kali ujian yang aku ikuti kedua orang tuaku, khususnya ayah selalu menemani setiap langkah perjuanganku ini. Saat aku ujian beliau mencari masjid terdekat dan berdoa hingga ujianku pun selesai. Beliau memang tak pernah memintaku untuk menggapai cita-cita itu. Akan tetapi, dari setiap ujian yang aku lalui dan dinyatakan gagal, aku bisa melihat raut kekecewaannya walaupun tak secara langsung beliau tunjukkan padaku.
Sekarang beliau tak muda lagi. Tak segagah dulu lagi. dalam setiap langkahnya ia memerlukan bantuan tongkat besi untuk membantu langkahnya. Nafasnya pun sudah mulai tersengal-sengal. Aku masih ingat saat pertengahan tahun 2013 lalu aku memutuskan “menganggur” setahun untuk memantapkan diri dalam ujian PTN tahun berikutnya untuk mendapatkan bangku kuliah impianku. Kadang ada rasa suntuk dan timbul sedikit demi sedikit rasa sesal atas kegagalanku mendapatkan jurusan dan PTN yang aku inginkan. Namun, pada saat ayahku jatuh sakit yang cukup parah, aku tersadar. Mungkin ini adalah jawaban mengapa Tuhan membiarkanku untuk belum menginjakkan kaki dibangku kuliah di tahun itu. Jawabannya adalah aku harus membantu merawat ayahku. Ditambah lagi saat itu ibuku juga sempat jatuh sakit. Semakinlah sadar, rasanya Tuhan memberi tamparan yang cukup keras untuk meyadarkanku. Bila pada tahun itu aku kuliah, siapa yang akan merawat meraka dengan kondisi kakak-kakakku yang sibuk dengan kewajibannya bekerja terlebih sudah ada kakakku yang berkeluarga. Dan akhirnya Tuhan selalu memberi jawaban di setiap pertanyaan hambaNya.
Dan akupun sadar biarpun seorang ayah tidak melahirkanmu, tetapi beliau selalu menjaga kita dan merawat kita sepenuh hatinya. Ayah adalah sosok yang selalu mengabaikan dirinya dan mengutamakan putra-putrinya. “Teruntuk Ayah, aku memang tak bisa mengungkapkan bahwa aku sayang padamu. Aku menyanyangimu selayaknya aku menyayangi ibu. Tak ada bedanya antara kau dan ibu. Yang aku tahu tanpa kalian aku tak akan pernah ada. Tanpa kalian aku tak akan menjadi apa adanya aku saat ini. Tanpa perjuangan dan doa darimu dan ibu aku tak akan mencapai posisiku saat ini. Rasanya tanpa kalian aku tak bisa bernafas dan tak tahu arah hidupku. Karena ayah dan ibu aku ada disini berusaha menjadi yang terbaik dengan apa adanya caraku. Terima kasih atas segala hal yang kalian ajarkan dan atas segala kasih sayang yang kalian curahkan. Aku menyayangimu ayah…. Ibu….”
Tuhan selalu memiliki caranya untuk mengingatkanmu dan menegurmu tentang hal apapun termasuk tentang orang tua. Terima kasih untuk sang bapak yang menjadi perantara renunganku hari ini. Dan sayangilah ayah dan ibumu selalu…