(BOHONG) AKU TAK RINDU
Sore hari milik Semarang hari ini cukup cerah. Tampaknya tak ada tanda-tanda hujan akan membahasahi area Tembalang. Aku mengendarai motorku dengan destinasi menuju sebuah tempat foto studio untuk mengambil cetakan bergambar yang berisi memori wisudaku tempo hari. Ya, tak sabar aku ingin melihat hasil cetakan di hari baru yang bersejarah dalam hidupku. Sesampainya disana tak butuh waktu lama akhirnya ku dapatkan hasil cetakan itu. Setelahnya aku memutuskan untuk mampir ke sebuah minimarket untuk melakukan transaksi di Anjungan Tunai Mandiri atau ATM. Aku memperhatikan beberapa detail yang ada di minimarket itu. Minimarket yang belakangan ini cukup sering aku datangi ketika aku ingin melakukan transaksi tunai. Di minimarket itu ada sebuah gerobak hijau yang cukup besar dan seorang lelaki muda yang menjajakan dagangan berupa gorengan. Aku ingat tempo hari ketika masih dalam rangkaian acara wisudaku salah seorang kakakku dan istrinya sering kali bercerita bahwa mereka beberapa kali membeli dagangan gorengan disana. Katanya penjualnya sebut saja mas-mas penjual gorengan itu sangat baik. Setiap kali mereka datang mas-mas itu selalu menawarkan untuk mencicipi terlebih dahulu gorengan yang ia jual. Baik sekali bukan ? Trik marketing yang cukup baik untuk menarik simpati pelanggan. Kalau penjualnya ramah dan baik pasti rezeki pun tak malu untuk selalu mampir bukan ? Sesekali ketika hendak memarkirkan motor saat datang dan saat akan beranjak pergi dari minimarket itu aku melirik ke arah mas-mas penjual gorengan itu. Bukan, bukan ada maksud lain. Akan tetapi, aku hanya sedang melatih jiwa sok penerawanganku bahwa memang mas-mas itu terlihat memiliki aura yang baik. Sudah, sudah cukup sepertinya ceritaku tentang mas-mas penjual gorengan itu. Yang anehnya adalah mengapa aku lebih banyak bercerita tentang mas-mas penjualnya dibandingkan me-review taste dari gorengan yang ia jajakan.
.
.
Selepas dari minimarket itu aku kembali mengendarai motorku dengan tujuan pulang kembali ke kost. Di kanan jalan aku melewati tempat makan fried chicken yang sering aku datangi. Kalau – kalau sedang rindu ingin makan fried chicken dengan harga murah dan rasa yang tak kalah dengan outlet-outlet fried chicken yang sudah terkenal, aku datangi tempat itu. Tiba – tiba saja ada yang aneh di dalam dadaku. Aku merasakan seperti rasa sesak. Mungkinkah benih-benih rindu akan Tembalang mulai tercipta ?
.
.
Sepanjang jalan otakku seperti melakukan proses rewind akan kejadian-kejadian yang telah aku alami. Ya, hal-hal manis dan buruk pun mulai terlintas lagi. Memori-memori perjalanan empat tahun lebih yang telah aku lewati untuk mendapatkan dua hari bersejarah dalam hidupku sepanjang empat tahun lebih ini. Dan lebih tepatnya lagi satu hari bersejarah dalam hidupku sepanjang tahun 2018 dan satu hari bersejarah dalam hidupku dalam mengawali tahun 2019.
.
.
Empat tahun tiga bulan dua puluh satu hari yang harus aku lewati menuju hari bertanggal dua puluh berbulan Desember di tahun 2018. Empat tahun tiga bulan dua puluh satu hari yang harus aku lewati untuk mewujudkan hari bahagiaku di hari bertanggal tiga puluh berbulan Januari di awal tahun 2019.
.
.
Sungguh, rasanya tak ada lagi kata yang mampu menggambarkan proses empat tahun lebih yang aku lewati dengan kata “syukur”. Ya, bersyukur untuk semua hal manis dan pahit yang terjadi selama empat tahun lebih ini. Bersyukur atas segala rencana Tuhan yang amat luar biasa dalam hidupku. Skenarionya yang indah membawaku mendapatkan banyak proses pembelajaran hidup untuk bekalku di masa depan.
.
.
Masih teringat jelas di ingatanku, empat tahun ini bukanlah pembelajaran dan perjuangan awal dalam hidupku. Mendapatkan kesempatan untuk berproses mendapatkan pelajaran hidup di kota ini adalah buah perjuanganku di dua tahun sebelum aku resmi berhak menimba ilmu di sini. Dua tahun aku berjuang mengejar mimpi atas nama semangat dan cita-cita untuk mendapatkan hak dan status sebagai mahasiswa. Ujian demi ujian baik secara tertulis maupun tidak tertulis selama dua tahun itu pun aku lewati. Meskipun menimba ilmu disini bukanlah tujuan utamaku, keberadaanku disini menjadi pembuktian nyata bagiku atas firman Tuhan bahwa apa yang menurutmu baik belum tentu baik bagimu, sedangkan Tuhan itu tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.
.
.
Sampai saat ini mungkin belum kudapatkan sepenuhnya hikmah mengapa Tuhan menakdirkanku menimba ilmu di jurusan ini. Akan tetapi, hikmah pelajaran hidup dan proses pendewasaan diri satu persatu mulai ku olah, ku resapi, dan ku yakini sehingga mampu melengkapi jawaban mengapa dan bagaimana ini harus terjadi.
Rasanya untuk bercerita disini tak akan pernah cukup dan tanganku mungkin tak akan mampu mengetik secara detail perjalanan hidupku selama empat tahun lebih ini.
Rasanya hanya air mata haru yang mampu menggambarkan semua perjalanan yang telah aku lewati ini. Haru karena diriku mampu bertahan meskipun mungkin untuk terus menjalankan hidup satu hari demi satu hari hingga akhirnya menjadi empat tahun lebih itu tak jarang harus terseok-seok, tak jarang dan bahkan sering mungkin harus dengan air mata yang tak henti-hentinya, tak jarang dan bahkan sering membangkitkan emosi dan amarah yang tak terelakan.
.
.
Aku katakan aku tak akan rindu, masa-masa awal adaptasi di kota yang kubenci ini, masa-masa berat melewati proses kaderisasi untuk diterima sebagai keluarga di jurusan ini, masa-masa suram melewati praktikum yang mampu menggantikan makan dan minum sebagai bagian utama dari hidup, masa-masa berat mengurus organisasi yang mau tak mau harus dijalani sebagai amanah budaya estafet, masa-masa penuh kebimbangan dalam menentukan konsentrasi penjurusan, masa-masa berwisata kuliner jajanan di area tembalang, masa-masa indah ketika semester lima sampai semester tujuh adalah proses kuliah ternyaman, masa-masa kelabu ketika semester delapan dan tugas akhir mulai di depan mata, masa-masa semakin kelam ketika semester delapan tak mampu menyudahi tugas akhir yang tak kunjung usai, masa-masa mulai tumbuh rasa insekuritas ketika semester sembilan harus terpampang jelas di kartu rencana studi demi tugas akhir yang tak kunjung menyudahi drama, masa-masa penuh rasa takut, gelisah, senang menyambut hari expo dan hari sidang, masa-masa penuh haru, tangis, tawa, dan rasa tak menyangka ketika mampu melewati sidang yang penuh drama, masa-masa penuh rasa tak sabar mempersiapkan wisuda, masa-masa bahagia haru tak menyangka dapat duduk di gedung yang sudah meresmikan ribuan bahkan ratusan anak bangsa menyemat gelar sarjana.
.
.
Ya, aku tak akan rindu semua hal itu. Tak akan dan tak akan pernah merindukan semua hal tentang kampus elektro, tentang UNDIP, tentang Tembalang, dan tentang Semarang.
.
.
.
Dan bohong, nyatanya benih-benih rindu itu semua sudah tercipta. Semua rindu itu sudah terbentuk. Maaf. Maafkan aku elektro, maafkan aku UNDIP, maafkan aku Tembalang, dan maafkan aku Semarang. Maafkan aku bila aku bohong aku tak rindu.
.
.
Ternyata aku rindu semua kenangan yang telah tercipta. Semua proses pembelajaran hidup dan proses pendewasaan diri selama empat tahun lebih yang mungkin tak akan datang kesempatan dua untuk aku dapatkan atas nama proses berharga sebagai skenario hidup ciptaan Tuhan.
.
.
Terima kasih elektro, terima kasih UNDIP, terima kasih Tembalang, dan terima kasih Semarang. Kalian tak hanya memberikanku tambahan gelar dibelakang namaku. Akan tetapi, kalian telah melahirkan aku yang baru, aku yang berbeda dengan aku di empat tahun yang lalu.
.
.
Terima kasih, Dari aku yang akan selalu merindukanmu.
.
.
Semarang, february 16th 2019













