COMLERN (COMIC LEARNING ) Upaya Peningkatan Minat Baca dan Kreatifitas Anak-anak Indonesia
Sering kali Riset identik dengan seorang profesor, kemudian dilakukan di labolatorium, berhubungan dengan buku, rumus atau perhitungan yang kompleks, rumit dan ribet. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang beranggapan bahwa kegiatan penelitian atau riset merupakan kegiatan yang sangat membosankan bahkan jauh dari kesan menyenangkan. Riset pada dasarnya adalah memahami bagaimana sebuah fenomena dapat terjadi. Fenomena disini berasal dari kehidupan disekeliling kita atau bahkan yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari hari. Jadi sebenarnya kita dapat mengawali riset dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Untuk membuat riset menjadi sesuatu yang menyenangkan maka terlebih dahulu memahami riset itu sendiri. Seperti kata pepatah tak kenal maka ta’aruf. Seperti yang sudah kita ketahui riset berawal dari fenomena yang terjadi. Kita hanya butuh kepekaan terhadap lingkungan disekitar. Kepekaan tersebut melahirkan rasa ingin tahu sehingga mendorong seseorang untuk tahu.
Salah satu upaya meningkatkan rasa ingin tahu adalah dengan membaca, kemudian lahirlah sebuah ide dan ide tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan dan pada akhirnya dilaksanakan memalui sebuah riset. Namun sayang keterpurukan sains dan teknologi Indonesia akhir-akhir ini disebabkan oleh menurunnya minat baca anak. Oleh sebab itu diperlukan usaha menciptakan kebudaayaan membaca dan menulis yang mampu menciptakan bangsa yang unggul riset dan teknologinya.
Keterpurukan sains dan teknologi Indonesia disebabkan oleh menurunnya minat baca. Hal ini dikarenakan pemuda zaman modern lebih menyukai sesuatu yang instan, mudah, praktis dan menyenangkan. Faktor-faktor penyebab menurunnya minat baca, dalam buku Readicide: How Schools are Killing Reading and What to do About It (kira-kira artinya, Membunuh Minat Baca: Betapa Sekolah-sekolah Melakukannya dan Bagaimana Jalan Keluar), karya Kelly Gallagher. Buku tersebut berisi mengenai faktor-faktor yang menurunkan minat baca pemuda di Amerika. Menurut Kelly, penyebabnya adalah siswa dituntut untuk menghafal dan memberikan soal ujian berupa pilihan ganda. Tuntutan menghafal untuk setiap mata pelajaran membuat siswa cenderung menyukai sesuatu yang instan sehingga kenikmatan dalam membaca hilang. Sebagai konsekuensi, siswa kehilangan kreatifitas dalam menjawab soal-soal esai.
Kemampuan membaca dan menulis seseorang bukanlah bakat sejak lahir. Mereka yang mahir menulis sebenarnya berasal dari kebudayaan, kebudayaan tersebut membuatnya terbiasa dan pada akhirnya kegiatan tersebut menjadi passion. Sesuatu kebiasaan timbul akibat pengulangan secara terus menerus. Begitu juga dengan kebiasaan menulis dan membaca. Jika kedua hal tersebut dilakukan secara berulang maka otak secara otomatis melakukan sesuatu yang sering dilakukannya.
Jepang misalnya saja sebuah negara yang kurang beruntung teritorialnya ini, riset dan teknologinya telah lebih dulu maju berpuluh-puluh tahun dari negeri kita tercinta ini. Kebiasaan membaca di Jepang patut diacungi jempol, tidak hanya di sekolah maupun di perpustakkan saja mereka membaca. Namun menunggu di halte bus, stasiun, bahkan perjalanan diatas keretapun mereka membaca. Seolah budaya baca sudah mendarah daging pada masyarakat matahari terbit ini.
Oleh sebab itu usaha menciptakan kebudaayaan membaca dan menulis yang mampu menciptakan bangsa yang unggul riset dan teknologinya dimulai dari diri kita sendiri sebagai kalangan cendekia yang notabene kalangan terpelajar. Tanggung jawab tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh element. Seperti yang disampaikan para ulama salaf bahwa berkahnya suatu ilmu itu akan terjadi manakala pendidik ridho dalam menyampaikan ilmunya, murid ikhlas dalam melaksanakan proses pendidikan, serta orang tua ikhlas dalam mensuport, mendoakan jalanya pendidikan.
2. Membangun Budaya Membaca pada Anak
Dalam bukunya Ki Hajar Dewantara yang berjudul Pendidikan diterangkan bahwa pendidikan dan pengajaran bertujuan untuk membentuk cultur. Cultur disini berarti kebudayaan, budi manusia. Maka menurut pernyataan tersebut pendidikan bukan hanya usaha untuk membuat manusia menjadi pintar. Namun lebih dari itu, dengan pendidikan manusia dapat memperbaiki akhlaq, membentuk kepribadian dan mempertinggi derajat manusia sebagaimana yang tertulis dalam al-qur’an.
Kebudayaan sangat erat kaitannya dengan pendidikan sebab suatu kebudayaan diperoleh melalui proses belajar. Kebudayaan tersebut merupakan ketrampilan yang diperoleh dari kebiasaan bukan ketrampilan bawaan. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan menjadi suatu budaya. Adapun manfaat membaca seperti yang diungkapkan oleh Abd. Rachman H.A, et.al adalah “(1) membaca untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dan (2) membaca untuk memperoleh kepuasan dan kenikmatan emosional”. Sedangkan fungsi sosial dari kegiatan membaca adalah sebagai berikut: 1) achievement reading, yaitu sebagai upaya untuk memperoleh ketrampilan atau kualifikasi tertentu; 2) devotional reading, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan ibadah; 3) culture reading, yaitu membaca sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan; dan 4) compensatory reading, membaca untuk kepuaasan pribadi.
Minat membaca pada anak harus dikembangkan melalui berbagai informasi yang timbul disekitar kita. Membaca dan menulis bagi para cendekia ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan saling melengkapi. Mengapa demikian? Karena melalui membaca merupakan jendela dunia sehingga mampu meningkatkan kemampuan, inovasi atau melakukan penelitian (reseach)
Menumbuhkan dan menanamkan kesadaran membaca sebenarnya tidak sulit dilakukan. Ibarat membangun seseorang yang telah tidur kemudian tersadar kembali. Kita hanya harus peka terhadap sesuatu yang inovatif yang dapat menumbuhkan minat baca anak. Sehingga diharapkan kebudayaan membaca pada anak dapat ditingkatkan guna membangun generasi yang intelek dalam dunia riset dan keilmiahan
3. COMLERN (Comic Learning) Sebuah Alternatif
Upaya meningkatkan minat baca dan kreatifitas para pemuda hendaknya terlebih dahulu dimulai dari hal-hal yang menyenangkan dan ringan. Dalam hal ini, penulis melihat potensi komik sebagai media yang menyenangkan dan efektif. Menurut McCloud (2001) dalam bukunya yang berjudul understanding comic “Comics is the word worth defining, at it refers to the medium itself, not a specific object as ‘comic book’ or ‘comic strip’ do. The Medium – known as comic is a vessel can hold any numbers of ideas and images”. Demikian, Komik adalah wadah yang dapat menampung segala macam gagasan dan gambar.
COMLERN merupakan media pembelajaran visual berisi informasi berupa tulisan dan gambar yang ‘dimodifikasi’ dirangkai dengan alur tertentu serta dibuat semenarik dan seesensial mungkin sehingga membuat informasi lebih mudah diikuti dan diserap. COMLERN sebagai media pembelajaran diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan minat baca anak-anak, tapi juga harus dapat memotivasi mereka terhadap materi yang diajarkan, dapat meningkatkan kreatifitas serta membiasakan berfikir out of the box. Sehingga semua unsur dalam pembelajaran dapat tercapai dengan media komik. Dalam COMLERN juga dapat diberikan tujuan pembelajaran pada setiap judulnya. Selain itu, di akhir cerita diberikan format evaluasi dengan tujuan agar anak-anak dapat mengerti apa yang telah dibaca. Selain format evaluasi, juga terdapat rangkuman yang menceritakan gambaran penting dari materi yang ingin disampaikan. Jadi, komik tidak hanya sebagai media hiburan semata, namun komik juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sebagai media komunikasi visual.
Mengingat hal itu, COMLERN ini bisa menjadi jalan tengah di antara kurangnya minat baca anak dan terdegradasinya wawasan keilmuan, khususnya sains dan teknologi. Padahal eksistensi bidang keilmuan merupakan hal yang krusial bagi pembentukan karakter bangsa.
Abdul Rahman Saleh. 2001. Pembinaan Budaya Baca Tulis di Kalangan Kampus dalam Era
Multimedia (makalah seminar). Bandung: UPT Perpustakaan Universitas Islam.
Nurahmad, H. 2008. Membangun Budaya Baca di Lingkungan Perguruan Tinggi sebagai Upaya Meningkatkan Intelektual Mahasiswa. PLS UM.
Gallagher, Kelly.,2009, Readicide: How Schools are Killing Reading and What to do About It. USA: Stenhouse Publisers.
McCloud, Scout. 2001. Understanding Comic. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Waluyanto, H.D., tanpa tahun,
Komik sebagai Media Komunikasi Visual Pembelajaran
. Surabaya: Universitas Petra.