Afternoon Busway
Jakarta, 28 Juni 2011
Yang aku ingat waktu itu, busway penuh sesak. Terlalu penuh. Dan kondektur masih saja memaksakan penumpang masuk. Ku lihat arloji di tanganku. Jam pulang kerja.
Busway makin penuh. Lututku lemas. Aku sudah berdiri sejak beberapa jam yang lalu dan kini di dalam busway pun aku masih harus berdiri, dengan keadaan seperti ini.
Entah aku yang terlalu pendek atau orang-orang ini yang terlalu tinggi, aku merasa tenggelam di lautan orang dan kekurangan udara. Mataku mulai buram. Gelap. Aku merasakan lututku semakin lemas, kepala bagian belakangku sakit, dan udara yang aku hirup seperti semakin terbatas.
Aku terhuyung di tengah padatnya busway yang luar biasa. Seperti ingin menjatuhkan diri di lautan orang itu. Namun, tangan seseorang menahanku. Bukan bukan. Bukan seseorang. Dia pacarku.
Walau tangannya sudah menahanku, lututku sudah terlalu lemas untuk menopang tubuhku. Aku kembali terhuyung beberapa kali. Dia menarik bahuku dan merapatkan badanku ke badannya. Aku tertunduk lemas dipelukannya dan sepintas mendengar dia berbicara dengan seseorang. Entahlah, aku tidak ingat apa yang dia bicarakan. Hanya saja aku tau dan aku ingat bahwa dia berusaha melindungiku yang bodoh karena bisa-bisanya melemah di saat-saat seperti itu.
"Gue tuh khawatir ndut, khawatir! Takut elu kenapa-kenapa"











