Ketika kita mulai kurang bersyukur atas hidup, naik angkotlah. Tapi, kenapa angkot? Baik, akan ku ceritakan kisah ku kemarin lusa.
Sendirian, handphone mati, dan lupa bawa charger mengharuskan ku pulang naik angkot karena tak bisa pesan ojek online. Meski aku memang tergolong masih sering naik angkot & bus, tapi kemudahan akses ojek online nyatanya memang membuatku sedikit lupa akan lika-liku kejadian di transportasi massal.
Kamis, 22 Februari 2018, saat itu langit sudah mulai gelap, juga diikuti rintik hujan yang mulai mengguyur. Aku turun dari angkot pertama, itu artinya masih ada 2 angkot lagi yang harus kutumpangi untuk sampai ke rumah. Hujan semakin deras. Sudah pukul 7 malam, angkot sudah mulai jarang, butuh sekitar 20 menit hingga angkot kedua menjemputku. Alhamdulillah masih dapat tempat berteduh, 20 menit tersebut aku habiskan dengan berdiri di balik kios duplikat kunci yang sudah tutup. Selama 20 menit itu pula, aku mendapat pelajaran pertama. Saat itu lewatlah di depanku seorang pengumpul sampah, hujan-hujanan, sambil mendorong gerobak besarnya, berhenti di depan toko-toko tiap melihat trashbag yang terisi penuh, lantas memungutnya. Aku tertunduk. Alangkah beruntungnya aku, sepelik apapun masalah yang sedang aku hadapi hari itu, aku tidak perlu hujan-hujanan sambil berkeliling mencari seraup rezeki dari tong-tong sampah. Alhamdulillah, alangkah beruntungnya aku, telah diberi pelajaran dari tayangan singkat akan kehidupan tersebut.
20 menitku habis setelah angkot kedua menjemputku. Pelajaran kedua hampir dimulai. Saat itu angkot cukup padat. Suasana saat itu cukup membuatku sangat waspada karena trauma pernah hampir kecopetan, bahkan pernah tertipu di angkot sampai harus merelakan handphoneku hilang dibawa kabur. Beberapa saat aku masih was-was. Kebiasaanku saat berada di angkutan umum adalah mengawasi sekitar, memperhatikan gerak-gerik penumpang lain, menghafalkan wajahnya. Ku lakukan untuk sekadar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan saking waspadanya, pernah aku memergoki bapak-bapak yang sedang memanfaatkan sesaknya bus kota dengan melakukan pelecehan seksual, dan hebatnya, ia melakukannya tanpa disadari oleh sang korban. Maka saat itu aku membuat skenario agar si korban bisa pindah dari tempat ia berdiri dan terbebas dari tempelan si pelaku. Begitulah, tingkat kewaspadaanku memang terlampau berlebihan sejak kejadian hampir kecopetan.
Kembali ke cerita angkot kedua, di sebelahku terduduk bapak-bapak separuh baya dengan baju tertambal plester koyo. Seketika rasa waspadaku berkurang. 15 menit setelah naik angkot tersebut, aku mulai bisa manggut-manggut ikut ngobrol dengan penumpang lain. Ikut ber-wah melihat banjir setinggi paha di titik terdalamnya. Alhamdulillah angkotnya kuat menerjang banjir. “Kiri-kiri”, bapak di sebelahku dengan baju tertambal plester koyo mengisyaratkan untuk berhenti. Kemudian ia merogoh sesuatu dari balik kursi raja di belakang kursi supir. Diambilnya plastik panjang berisi 5-6 payung juga kawat-kawat payung. “Musim hujan mah seeur mereun nya nu servis” ujar bapak lain di sebrangku. Deg. Aku kembali tertunduk. Pelajaran kedua dimulai. Aku masih sulit percaya, aku terlalu mengira dunia dan seisinya baik-baik saja. Aku tidak mengira bahwa profesi tersebut nyata adanya. Ya Allah, lagi-lagi alangkah beruntungnya aku, sesulit apapun kondisi ekonomi keluargaku sekarang, aku masih bisa menikmati bangku kuliahku dengan nyaman. Meski kali ini tayangan kehidupan yang aku saksikan tidak mengharuskan bapak tersebut untuk hujan-hujanan, tapi kali ini aku lebih tercenung. Sesaat kemudian, bapak tersebut pamit turun “mangga sadayana”. “Mangga pak..” tak sadar, suaraku bergetar, mataku pedas, tetesan air jatuh ke bajuku. Namun kali ini, tentu bukan tetesan hujan.
Kawan, naik angkotlah, dan kau akan menemukan cerita baru di dalamnya.
Cerita kehidupan yang penuh pembelajaran.
Cerita kehidupan yang terkadang luput dari pandangan dan ingatan.
Cerita kehidupan yang menyentil hati agar lebih bersyukur atas karunia-Nya.
Bahwa takdir manusia diciptakan bermacam-macam tak lain supaya manusia senantiasa bersyukur dan berusaha.
Ketika kita terlalu menganggap dunia baik-baik saja, lihatlah sekitar, dan temukan apa yang terjadi di dalamnya.