Bersama, sepenanggungan, tidak lantas menjadikanmu satu.
One Nice Bug Per Day
No title available
★
official daine visual archive
art blog(derogatory)
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
KIROKAZE

gracie abrams
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
The Stonewall Inn

Product Placement

if i look back, i am lost
untitled
NASA
YOU ARE THE REASON
Cosimo Galluzzi
Color Me Curious
Claire Keane
todays bird

❣ Chile in a Photography ❣
seen from Albania
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States

seen from Ukraine

seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Venezuela
seen from Singapore
seen from T1
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States

seen from India
seen from United States
seen from United Kingdom
@ighfafy
Bersama, sepenanggungan, tidak lantas menjadikanmu satu.
Aku hanya bisa mendengar deruh pendingin ruangan dan keyboard yang diketik cepat. Tidak ada suara manusia selama menit panjang di ruangan besar. Larut, melarut, merasuk.
Cepat, aku hubungi siapa pun yang terlintas, menghindari rasuk, aku terlalu takut.
How to be sandwich generation:
Ikhlas
Yes, you are🦋
Bahan Diskusi
Merasa tersenggol dengan instagram storiesnya masgun. Iyasih bener, mesti tau pemahaman calon pasangan kayak gimana. Khususnya soal :
1) keuangan (investasi, asuransi, riba, kpr rumah, dana darurat, rekening bersama dll)
2) pekerjaan (full time mom vs working mom, higher earning women),
3) pendidikan (higher level education)
4) parenting (no gadget, screen time viewing, moslem-based raising kids)
5) kesehatan (vaksin anak),
6) kalo istri selepas melahirkan ternyata meninggal karna pendarahan. Kamu sebagai suami udah siap belum? Udah tau apa yang mesti dilakukan? ASIP?
7) kebalikannya, kalo suami meninggal pas si istri punya anak kecil. Istri harus bisa earning money sendiri.
8) tentang anak. Sudah siap kalo ternyata lama punya anak? Atau enggak diberi kesempatan buat punya anak? Kalo anaknya kena down syndrome?
Berat ya..
Random thoughts | Sebelum genap | Repost twitter
Mei 2019
Dini Suciyanti
Tumblr.
Satu hal yang membuat tumblr aman untuk curhat apapun:
Ga ada yang niat baca tulisanku😂
Jadi, karena apa?
Suatu hari aku pernah bercerita pada seorang teman. Bahwa jatuh hati betul-betul bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan dekat dengan Sang Pemilik Hati. Lalu temanku bertanya "berarti niat memperbaiki dirinya bukan karena Sang Pemilik Hati, tapi karena orang itu?".
Tidak. Konsepnya tidak sereceh itu. Apakah kamu sadar, di dunia ini ada manusia yang hanya dengan tulisannya saja bisa membuat manusia lain ingat Tuhannya dan ingin menambah ibadahnya? Anggaplah kamu sedang membaca buku dari penulis yang kamu kagumi, lalu imanmu jadi lebih baik karena hal-hal yang disampaikan di buku tersebut. Seperti itulah contohnya kurang lebih.
Bukankah indah apabila ketika jatuh hati justru menambah keimanan seseorang? Dan bukankah kita memang dianjurkan untuk mencari yang seperti itu? Bukan justru terjerumus ke dalam hubungan yang menggoyahkan iman.
Berubah lebih baik karena seseorang bukan berarti tujuannya belum baik. Bukankah segala amalan tetap tergantung niatnya? Kecuali niat awalmu memang untuk mendapatkan hatinya. Wallahu'alam. Hanya Allah yang maha tahu niatan seseorang.
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
- Bandung, 24 Juni 2019.
Mandiri
Semakin bertambah usia, ada ukuran dimana kita harus bisa mandiri. Lepas ketergantungan dari orang tua. Terutama soal finansial. Bahkan, beberapa dari kita berupaya untuk berlaku sebaliknya, membantu finansial keluarga.
Masalah ini, seolah menjadi masalah klasik. Dimana ada anak-anak yang justru merasa amat terbebani dengan orang tua yang menuntut untuk dibiayai. Tapi, tak sedikit pula anak-anak yang masih membebani orang tuanya, padahal usianya sudah sangat matang.
Barangkali ada di antara kita yang sudah lulus kuliah, tapi masih “minta uang saku” ke orang tua. Belum bisa menafkahi dirinya sendiri. Barangkali ada diantara kita yang juga sebaliknya, di usia yang sama sudah harus menanggung biaya sekolah adik-adiknya dan orangtuanya yang sudah pensiun.
Persoalan ini pernah saya pikirkan dulu sekali waktu masih kuliah, sekitar 7 tahun yang lalu. Gejolak yang memenuhi pikiran saya kala itu.
“Mau apa setelah lulus?”
“Nggak malu udah 22 tahun masih minta ortu?”
dsb.
Dan perenungan itu berakhir pada keputusan saya untuk bekerja sewaktu kuliah. Berapapun yang bisa saya dapatkan, paling tidak saya sudah berusaha dan berkenalan dengan “kerja keras”. Ini adalah keputusan yang amat saya syukuri kemudian hari. Sebelum lulus kuliah, saya sudah lepas 100% dari ketergantungan finansial dengan orang tua. Dan ternyata, kondisi tersebut membuat efek domino yang panjang. Paling terasa adalah saya lebih leluasa untuk menentukan pilihan-pilihan pasca lulus.
Sekarang, pertanyaan ini mari kita tarik ke dalam diri masing-masing. Usia berapa sekarang? Apakah masih membebani orang tua kita? Kapan bisa berpikir untuk mulai mandiri? Atau, kamu merasa terbebani untuk membiayai keluargamu sendiri? Semua kondisi tersebut akan memberikan pembelajaran berharga. Tergantung bagaimana keputusan berikutnya yang kita pilih.
©kurniawangunadi
Memori Yang Tertahan.
Mimpi yang kerap kali terulang, tentang memori yang tertahan. Lagi-lagi alur ceritanya sama. Hanya berbeda tempat dan suasana.
28 Januari 2017, disanalah memoriku tertahan. Tidak ada lagi pertemuan. Tidak terjadi skenario lainnya.
Tunggu, tidak? Aku harap hanya belum.
Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.
Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.
“…..semoga Allah menyelamatkan hambaNya yang lemah karena jatuh cinta”
—
©kurniawangunadi
quotes lama, entah dari buku Hujan Matahari/Lautan Langit saya lupa
Persepsi Adalah Amanah.
Tidak terpikir sebelumnya, ternyata penilaian seseorang terhadap pribadi kita adalah sesuatu yang perlu dipertanggung jawabkan dan dipikul berat. Menjaga amanah atas persepsi ternyata cukup penting dan cukup bisa menjadi pengingat diri. Bagaimana jadinya bila pribadi kita dipersepsikan baik di mata orang lain, sementara nyatanya kita tidak sespesial itu?
Cerpen : Berharap Ada Kamu Di Sana
Di hadapanku, ada persimpangan jalan. Aku pernah mendengar dari seseorang, kalau ada dua pilihan dan keduanya sama-sama baik, tidak perlu pusing memikirkan harus memilih yang mana. Ambil aja terserah, toh sama baiknya.
Benar juga katanya, dan memang beberapa kali aku terapkan. Kalau ada pilihan-pilihan yang sama baiknya, aku tidak pernah berpikir panjang, kan sama-sama baik.
Tapi kali ini berbeda, aku sedang berada di persimpangan lagi. Sebelum menjumpai pilihan yang ada di depan mata ini, aku sempat bertemu denganmu di jalan sebelumnya. Kita berkenalan, berbicara sebentar, kemudian menjadi semakin banyak, dan semakin dalam. Kini, aku merasa ada yang keliru, tapi aku tidak berani mengakuinya. Seperti kebanyakan manusia, sudah tahu salah masih saja mencari pembenaran.
Aku masih menimbang-nimbang, sebenarnya apa yang aku pikirkan ini hanya kekhawatiran yang kubuat-buat sendiri, tapi aku mengakuinya. Aku hanya khawatir kamu tidak ada di jalan yang akan kupilih berikutnya. Sekalipun aku tahu, jalan manapun yang aku pilih, sama baiknya. Ada atau tidak adanya dirimu di sana, sama baiknya.
Tapi aku berharap, kamu ada di jalan yang akan kupilih setelah ini.
Ah! Harapan! ©kurniawangunadi | 28 Desember 2018
Hari Esok
Banyak orang-orang yang berpikir seakan-akan ia hidup sampai hari esok. Maka esok hari hanya menjadi hari di mana orang-orang menunda pekerjaan yang seharusnya telah selesai hari ini.
Maka mungkin benar bahwa kematian adalah sebaik-baik nasihat. Dengan membayangkan bahwa tidak ada hari esok, banyak orang mampu mengambil keputusan besar dalam hidup mereka, menjalani hari dengan luar biasa. Sebab tidak perlu ada lagi rasa cemas akan hari esok.
Tuhan tidak pernah menyingkap tabir kematian manusia, entah kapan entah di mana. Barangkali itu salah satu cara bagi kita untuk semakin dekat dengan Tuhan. Seperti beribadah seolah esok mati, bekerja seolah esok mati, beramal seolah esok mati, menuntut ilmu seolah esok mati, bahkan berbuat baik seolah esok mati.
Kita pernah mengerjakan sesuatu yang memiliki waktu tenggat, mengerjakannya pun serius dan sangat matang. Hingga waktunya hampir tiba pun kita masih terus memastikan sudah baik atau belum. Seandainya kita tau berapa waktu yang kita punya, mungkin hal-hal yang kita kerjakan hari ini akan jauh lebih baik dibanding kita saat tidak tau kapan kita akan mati.
Maka mungkin benar bahwa kematian adalah sebaik-baik nasihat. Sayang sekali, banyak orang-orang yang berpikir seakan-akan ia hidup sampai hari esok.
Bogor, 9 Juli 2018 | Seto Wibowo
Hidayah tidaklah memerlukan proses. Bisa jadi Allah hanya butuh 1 detik untuk memutar balik hati manusia. Namun, belajar untuk menyempurnakannya lah yang membutuhkan proses.
my thoughts
Naik Angkot
Ketika kita mulai kurang bersyukur atas hidup, naik angkotlah. Tapi, kenapa angkot? Baik, akan ku ceritakan kisah ku kemarin lusa.
Sendirian, handphone mati, dan lupa bawa charger mengharuskan ku pulang naik angkot karena tak bisa pesan ojek online. Meski aku memang tergolong masih sering naik angkot & bus, tapi kemudahan akses ojek online nyatanya memang membuatku sedikit lupa akan lika-liku kejadian di transportasi massal.
Kamis, 22 Februari 2018, saat itu langit sudah mulai gelap, juga diikuti rintik hujan yang mulai mengguyur. Aku turun dari angkot pertama, itu artinya masih ada 2 angkot lagi yang harus kutumpangi untuk sampai ke rumah. Hujan semakin deras. Sudah pukul 7 malam, angkot sudah mulai jarang, butuh sekitar 20 menit hingga angkot kedua menjemputku. Alhamdulillah masih dapat tempat berteduh, 20 menit tersebut aku habiskan dengan berdiri di balik kios duplikat kunci yang sudah tutup. Selama 20 menit itu pula, aku mendapat pelajaran pertama. Saat itu lewatlah di depanku seorang pengumpul sampah, hujan-hujanan, sambil mendorong gerobak besarnya, berhenti di depan toko-toko tiap melihat trashbag yang terisi penuh, lantas memungutnya. Aku tertunduk. Alangkah beruntungnya aku, sepelik apapun masalah yang sedang aku hadapi hari itu, aku tidak perlu hujan-hujanan sambil berkeliling mencari seraup rezeki dari tong-tong sampah. Alhamdulillah, alangkah beruntungnya aku, telah diberi pelajaran dari tayangan singkat akan kehidupan tersebut.
20 menitku habis setelah angkot kedua menjemputku. Pelajaran kedua hampir dimulai. Saat itu angkot cukup padat. Suasana saat itu cukup membuatku sangat waspada karena trauma pernah hampir kecopetan, bahkan pernah tertipu di angkot sampai harus merelakan handphoneku hilang dibawa kabur. Beberapa saat aku masih was-was. Kebiasaanku saat berada di angkutan umum adalah mengawasi sekitar, memperhatikan gerak-gerik penumpang lain, menghafalkan wajahnya. Ku lakukan untuk sekadar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan saking waspadanya, pernah aku memergoki bapak-bapak yang sedang memanfaatkan sesaknya bus kota dengan melakukan pelecehan seksual, dan hebatnya, ia melakukannya tanpa disadari oleh sang korban. Maka saat itu aku membuat skenario agar si korban bisa pindah dari tempat ia berdiri dan terbebas dari tempelan si pelaku. Begitulah, tingkat kewaspadaanku memang terlampau berlebihan sejak kejadian hampir kecopetan.
Kembali ke cerita angkot kedua, di sebelahku terduduk bapak-bapak separuh baya dengan baju tertambal plester koyo. Seketika rasa waspadaku berkurang. 15 menit setelah naik angkot tersebut, aku mulai bisa manggut-manggut ikut ngobrol dengan penumpang lain. Ikut ber-wah melihat banjir setinggi paha di titik terdalamnya. Alhamdulillah angkotnya kuat menerjang banjir. “Kiri-kiri”, bapak di sebelahku dengan baju tertambal plester koyo mengisyaratkan untuk berhenti. Kemudian ia merogoh sesuatu dari balik kursi raja di belakang kursi supir. Diambilnya plastik panjang berisi 5-6 payung juga kawat-kawat payung. “Musim hujan mah seeur mereun nya nu servis” ujar bapak lain di sebrangku. Deg. Aku kembali tertunduk. Pelajaran kedua dimulai. Aku masih sulit percaya, aku terlalu mengira dunia dan seisinya baik-baik saja. Aku tidak mengira bahwa profesi tersebut nyata adanya. Ya Allah, lagi-lagi alangkah beruntungnya aku, sesulit apapun kondisi ekonomi keluargaku sekarang, aku masih bisa menikmati bangku kuliahku dengan nyaman. Meski kali ini tayangan kehidupan yang aku saksikan tidak mengharuskan bapak tersebut untuk hujan-hujanan, tapi kali ini aku lebih tercenung. Sesaat kemudian, bapak tersebut pamit turun “mangga sadayana”. “Mangga pak..” tak sadar, suaraku bergetar, mataku pedas, tetesan air jatuh ke bajuku. Namun kali ini, tentu bukan tetesan hujan.
Kawan, naik angkotlah, dan kau akan menemukan cerita baru di dalamnya.
Cerita kehidupan yang penuh pembelajaran.
Cerita kehidupan yang terkadang luput dari pandangan dan ingatan.
Cerita kehidupan yang menyentil hati agar lebih bersyukur atas karunia-Nya.
Bahwa takdir manusia diciptakan bermacam-macam tak lain supaya manusia senantiasa bersyukur dan berusaha.
Ketika kita terlalu menganggap dunia baik-baik saja, lihatlah sekitar, dan temukan apa yang terjadi di dalamnya.
Cantik Itu Mahal
Cantik itu mahal harganya. Bagaimana tidak, di zaman sekarang…mencari yang begitu menjaga malunya, susah. Mencari yang senyumnya dan perangainya santun, susah. Mencari yang cemerlang tapi bersahaja, susah. Mencari yang begitu menjaga harga dirinya, susah.
Cantik itu mahal harganya. Salon dan perawatan kecantikan seperti apapun tidak mampu membelinya.
Yang selalu bersyukur.
Yang tangguh dan minim keluh.
Yang berusaha berdaya.
Yang begitu rapat mengumbar auratnya.
Yang tetap tersenyum dan menangis secukupnya.
Yang bersabar dan tak mudah tersulut amarah.
Rasa-rasanya, cantik itu benar mahal. Makanya para ayah begitu berjuang memolesnya. Para ibu sampai rela terjaga siang malam mendidiknya.
Jadi, jangan diumbar-umbar. Jangan menjadikannya begitu murah. Jaga dengan segenap iman kita.
Cantik itu, mahal :)