16 September 2014 Ibuk menelepon di tengah hectic-nya perasaan bahagia gue sebagai anak baru dengan kesibukan baru, mengabarkan kalau mbak gue udah lahiran. Anaknya laki-laki, lagi. Di sebuah magrib menuju gelap, laki-laki bermata sipit dan berhidung mancung itu lahir. Lalu diberi nama Abdullah Khoirunnizam oleh orang tuanya. Malam itu, gue bahagia karena anggota keluarga kami bertambah. Laki-laki itu berhasil membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama meskipun hanya melalui selembar foto. Untuk bertemu dengannya, gue harus bersabar selama tiga bulan. Awal tahun 2015, mbak pulang ke Jember. Membawa si bungsu yang subhanallah-udah-ganteng-gemesin-lagi. Gue excited sekali sampai buru-buru pulang meski lagi ujian. Si bungsu yang dari awal sudah bikin gue jatuh cinta semakin bikin gue betah di rumah dan enggan balik ke kosan. Ada kali sebulan dia di Jember. Setelahnya, menjelang idul fitri, setelah ibuk selesai pindahan ke rumah baru, dibawalah si bungsu ke Jember lagi. Mbak sekeluarga akan kembali lagi ke Jakarta, tapi si bungsu ditinggal. Alasannya karena ya beliau sibuk di sana. Mengurus si sulung dan si bungsu dalam kesibukan luar biasa adalah hal mustahil. Jadilah si bungsu diurus sama ibuk. Dan ini adalah hal yang sangat gue sukai. Setiap pulang liburan, gue selalu punya alasan untuk tidak kemana-mana. Karena ada si bungsu di rumah. Menyenangkan ketika bisa melihat langsung pertumbuhannya. Menyaksikan moment di mana ia mulai bisa berdiri, lalu berjalan, mengucapkan satu-dua kata. Bahkan sampai kemudian ia menjadi bagian hidup gue. Bercerita setiap malam di kamar gue. Berantem berdua karena berebut ibuk. Yap, dia selalu berpikir ibuk gue adalah ibuknya juga. Sebab itulah dia memanggil gue kakak yang seharusnya adalah aunty. Dia yang bikin gue semangat pulang setiap minggu. Dia yang bikin stres gue berkurang karena dia menyenangkan. Yap, he's make my day better. Dan sekarang, dia sudah berumur tiga tahun. Sudah semakin bisa melakukan apa saja. Masih mbeling seperti ketika di sini. Semakin banyak akal dan banyak berpikir. Masih bikin kangen karena lebih dari tiga bulan dia ninggalin rumah. Aaaa, kau sudah besar sekali nak. Buru-buru gede kali lah kau ini. Padahal aunty masih suka peluk-peluk kamu, masih senang cium-cium kamu meski kamu sering marah sama aunty karena tiba-tiba meluk ibuk sambil gangguin kamu. Cepat pulang ya. Jangan betah-betah di Jakarta! Rumah sepi ngga ada kamu. Sugeng ambal warso bocah mbelingnya aunty. Mugi-mugi tansah diparingi sehat lan dowo umur. Dados lare sholeh, pinter, manut kaleh mama-ayah. Saget dadi kebanggaan keluarga. Love you more than you know 💕💕💞














