Tahun 2020 lalu aku sempat membacakan keinginan di hadapan teman-temanku. Kami tinggal bersama dalam satu atap dan menyebutnya rumah peradaban kala itu. Dimulai dengan menuliskan satu demi satu keinginan dan berakhir pada urutan akhir aku menyematkan sebuah angan yang belum pasti akan terwujud atau tidaknya. Anganku ingin dipanggil dengan sebutan "Rama ", Keinginan simpel yang berujung pada penantian panjang. Mendengar hal itu teman-temanku pun tertawa dan berakhir dengan tetap memanggil dengan nama awalanku. Akupun bergumam dalam hati apakah akan ada rumah yang memanggilku dengan sebutan rama? "tanyaku pada diri sendiri "
Bulan oktober tahun 2024 lalu kutemukan rumah yang memanggilku dengan sebutan Rama. Di tempat ini aku kerap disapa "ummi Rama" tentu butuh waktu bagiku untuk beradaptasi dengan nama baru itu, dari yang awalnya asing hingga kini terdengar sering. Lantas setelah kejadian itu akupun tertawa dan mengingat anganku 5 tahun lalu kini menjadi kenyataan.
Kisahku dimulai dengan menjadi shadow teacher anak autisme dan ADHD. Wah.. wah.. wah aku yang belum tahu apa-apa tentang anak special needs kini diminta untuk mendampingi mereka, apakah aku bisa menghadapinya?
Hari demi hari berganti, kini akupun mulai akrab dengan keduanya yang sama-sama berusia 7 tahun pada saat itu. Menjadi mereka sangat luar biasa menurutku, anak autisme yang kerap kupanggil dengan sebutan bang Easy itu sangat peka dengan suara. Ia sangat terganggu dengan suara klakson sepeda motor dan mobil bahkan bunyi pintu sekalipun, ia akan langsung menutup telinganya seraya berkata "aduh... aduh... bising sekali, abang ga fokus" katanya. Bagiku suara tersebut sudah sangat akrab di telinga bahkan tak mengalihkan perhatian barang sedetik pun. Namun berbeda halnya dengan dia, karena bang easy hypersensitif indra pendengarannya. Suara apapun itu amat mengganggu perhatian dan fokusnya.
Berbeda halnya dengan anak ADHD yang kerap kusapa dengan D-Z-A-K-Y. Sedetik itu berharga bagi anak ADHD karena tangan dan langkahnya enggan diam walau berulang kali dan sesering mungkin diingatkan. Sedetik perhatian dan fokus ku beralih akan mewujudkan satu per satu angan di kepalanya. Bahkan ia pernah berhasil mengecat dinding kamar mandi dan tertawa ha...ha..ha saat berhasil mengecatnya. Setelah menyaksikan hal itu akupun tersenyum dan menggelengkan kepala serta turut mengarahkannya untuk membersihkan dinding yang kini berwarna tosca itu.
Soal kepintaran aku sangatlah terpukau dengan mereka (anak special needs). Bang Easy dengan pengetahuannya tentang aplikasi dan wilayah di berbagai penjuru dunia. Bang Dzaky dengan pengetahuannya tentang spesifikasi sepeda motor beserta bagian-bagiannya. Mereka berdua punya kesamaan, sama-sama ahli dalam menyebutkan spesifikasi handphone terutama sekali handphone yang baru meluncur ke pasar Indonesia.
Di rumah ini aku hidup dengan jati diri baru, rumah yang memanggilku Rama, rumah yang memberiku ruang untuk belajar. Satu anak akan memberi kita ilmu baru. Dari sini aku mengetahui bahwa setiap anak adalah buku, dan setiap anak harus kita baca layaknya buku bacaan. Setiap anak punya keunikan masing-masing, dan kita tak bisa untuk menyamakan perlakuan ataupun membandingkan antara satu dengan lainnya.
Sosok guru adalah pembelajar abadi. Guru sebenarnya bukan ia yang berkata: "aku akan mengajarkan apa hari ini?" Namun sebaliknya ia akan berkata: "aku akan belajar apa hari ini?"
seberapa tertarik kalian dengan pengalamanku membersamai anak special needs?
sangat tertarik
b aja sih wkwkwk
Voting ended onMar 1