Membersamai Ramadhan dengan Tulisan
Pada Ramadhan lalu, belum pernah aku membersamai bulan suci ini dengan challenge menulis dari komunitas mana pun. Namun kali ini, ku ingin ramadhan dikenang dengan susunan kalimat tak seberapa yang kuabadikan dalam platform nulis pertamaku ini.
Kisah ini dimulai dari story yang kulihat di WhatsApp salah seorang kakak yang pernah satu lingkaran denganku. Sungguh ketika melihat flyer online itu aku merasa sangat tertarik mengikutinya. Bagiku story whatsapp orang lain bisa jadi perantara yang menjembatani keinginan kita. Itu sebabnya aku sering melihat story whatsapp orang lain, karena mungkin saja ada informasi yang sudah diperoleh orang lain namun belum sampai padaku.
Aku bersyukur bisa bergabung dalam challenge Tautan Narablog episode 12 tahun ini. Aku berharap dengan tulisan ini menjadi langkah awal untuk membentuk habbit yakni bercerita tentang apa yang dirasakan sehari-hari. Jujur aku sangat senang membaca tulisan yang selesai secara berulang-ulang dan tersenyum saat mengingat momen yang kutuangkan.
Ramadhan kali ini penuh makna buatku, ini merupakan pengalaman nulis pertamaku yang konsisten "astagfirullah sekaligus alhamdulillah " ucapku dalam hati. Terima kasih sudah menjadi wadah untuk menuangkan tulisan di waktu ramadhan ini. Aku merasa lebih bermanfaat dibandingkan ramadhan tahun lalu dengan mengikuti challenge ini.
Aku tak tahu amal ibadah mana yang mampu menjauhkanku dari api neraka-Nya, begitupun halnya dalam menulis. Aku tak tahu tulisan mana yang dapat menjadi amal jariah penolongku nanti di akhirat kelak dan menjadi pemberat timbangan amal baik yang ingin kuterima dari tangan kanan ini.
Dalam hal menulis ini juga mengingatkanku pada salah satu kutipan dari Imam Al-Ghazali, yang bunyinya:
"Jika kau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama besar, maka menulislah"
Menulis merupakan cara kita mencapai keabadian, aktivitas ini mampu menjadikan karya kita membumi melampaui usia kita di dunia ini. Dengan menulis setidaknya ada beberapa hal yang akan kita dapati:
Karya kita abadi dan membumi
Dikenang dalam tinta history
Mengikuti kebiasaan ulama selaku pewaris nabi
Warisan bagi keturunan kita nanti



















