Nawalasmara: Sedang Apa Aku Ini, Sira?
Sira, hari ini langkah kakiku bergerak untuk mengitari taman yang melingkari danau mati. Namun, bukannya riak air yang kudapati malah sosok pria berparas rupawan yang kutemui. Meski rona wajahnya pucat pasi, namun bola matanya cokelat berkilau memancarkan pesona jiwanya. Saat sesekali tersenyum, lengkungan bibir merahnya manis menarik hati. Rambutnya hitam, terurai dengan rapi.
Berdiam kemudian kami di bawah rindang pohon yang sunyi. Kudengar suaranya merdu sampai-sampai menghadirkan rindu dalam kalbu. Dari dekat, harum tubuhnya terhembuskan angin berlawanan. Dengan yakin hati aku bersuara. Mencoba membuka basa lewat kata demi kata. Apa aku mulai berupaya?
Perlahan, pilu pahit yang menjadi cumbu dalam hidup mulai terasa manis dan lucu. Harap-harap yang datang menyapa walau sia-sia perlahan kuterima dengan terbuka. Mungkin kiranya demikian makna kami bertemu dan bercerita. Apa aku mulai percaya?
Berbincang kemudian kami akan sedikit hal yang pernah dialami. Sedikit konyol dan aneh sebenarnya apabila diuraikan cerita. Sedikit sulit pula hingga mungkin tertawa. Jadi, tiada apakah jika hanya disimpan dalam memori? Kuharap jawabmu iya, Sira.
Inspired from Mr. Sunshine (2018), modified by self.







