Some of Reminder:

ellievsbear

@theartofmadeline

Janaina Medeiros

★
d e v o n
Jules of Nature
Cosmic Funnies

Product Placement
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

roma★
art blog(derogatory)
Three Goblin Art
$LAYYYTER
Xuebing Du
No title available

Kaledo Art
noise dept.
🪼
cherry valley forever

Love Begins

seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Ecuador
seen from Germany

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Canada

seen from France

seen from Malaysia
@thisismeela
Some of Reminder:
Nawalasmara: Sedang Apa Aku Ini, Sira?
Sira, hari ini langkah kakiku bergerak untuk mengitari taman yang melingkari danau mati. Namun, bukannya riak air yang kudapati malah sosok pria berparas rupawan yang kutemui. Meski rona wajahnya pucat pasi, namun bola matanya cokelat berkilau memancarkan pesona jiwanya. Saat sesekali tersenyum, lengkungan bibir merahnya manis menarik hati. Rambutnya hitam, terurai dengan rapi.
Berdiam kemudian kami di bawah rindang pohon yang sunyi. Kudengar suaranya merdu sampai-sampai menghadirkan rindu dalam kalbu. Dari dekat, harum tubuhnya terhembuskan angin berlawanan. Dengan yakin hati aku bersuara. Mencoba membuka basa lewat kata demi kata. Apa aku mulai berupaya?
Perlahan, pilu pahit yang menjadi cumbu dalam hidup mulai terasa manis dan lucu. Harap-harap yang datang menyapa walau sia-sia perlahan kuterima dengan terbuka. Mungkin kiranya demikian makna kami bertemu dan bercerita. Apa aku mulai percaya?
Berbincang kemudian kami akan sedikit hal yang pernah dialami. Sedikit konyol dan aneh sebenarnya apabila diuraikan cerita. Sedikit sulit pula hingga mungkin tertawa. Jadi, tiada apakah jika hanya disimpan dalam memori? Kuharap jawabmu iya, Sira.
Inspired from Mr. Sunshine (2018), modified by self.
Antawacana: Mafhum Secukupnya
Sejatinya manusia adalah makhluk informavora, berupaya untuk mencari data dan mengonsumsinya sebagai bentuk adaptasi suatu peradaban. Setiap pengetahuan yang baru tentu akan menggugah rasa penasaran dalam diri orang-orang yang selalu ingin belajar. Namun, acap kali beberapa orang memandang aneh terhadap para pembelajar tersebut dengan dalih seperti sedang mencari perhatian. Memang ada yang salah dengan mencuri perhatian lewat kegemaran yang sebenarnya menguntungkan? Terkadang perdebatan hal sepele seperti ini sering kita temui dan sesekali perlu untuk didiskusikan melalui dialog-dialog ringan dalam seteguk cangkir kopi.
Tentu tidak ada yang salah dengan gemar belajar. Justru hal tersebut patut diapresiasi. Lantas, getol seperti apa yang kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang?
Saya teringat dengan sebuah kutipan dari salah satu tulisan dari Malcolm Gladwell yang berjudul Blink: The Power of Thinking without Thinking, bunyinya seperti ini: “More and more commanders want to know everything, and they get imprisoned by that idea.” (hal.144). Sedikit aneh bukan? Rasa keingintahuan ternyata tidak selalu menjadi hal yang baik. Adakalanya, hasrat penasaran tersebut menjadi bumerang bagi suatu pemikiran. Mari kita coba mengejawantahkan secara sederhana apa makna yang terkandung di dalamnya.
Dilansir dari sainspop, kapasitas otak manusia sama dengan 1 (satu) petabyte atau seribu terabyte atau sejuta gigabyte. Wow, angka yang sangat besar! Jika otak diumpamakan sebagai penyimpanan laptop, mungkin jumlah tersebut mampu memuat sejuta judul film beresolusi ultra HD. Namun, dalam suatu artikel milik suara.com menyebutkan bahwa hanya pada 20 menit pertama saja otak kita mampu mencerna dan memahami suatu informasi. Lebih dari itu, mungkin akan terjadi muatan berlebih informasi atau information overload, di mana otak sulit untuk memahami suatu hal dan membuat keputusan saat mempunyai terlalu banyak informasi. Penumpukan informasi ini bisa saja menimbulkan rasa kecemasan sehingga secara tidak sadar otak tidak mampu berpikir dalam keadaan dingin dan terpaku pada satu topik saja atau dengan kata lainnya terpenjara.
Kemudian sebuah pertanyaan dari bacaan lain yang juga saya baca dirasa sangat relevan dengan bahan tulisan saya malam ini. Pertanyaan yang dilayangkan oleh Murakami dalam buku The Divine Message of The DNA adalah “Mengapa terlalu banyak tahu terkadang menghalangi kita? Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.” Pernyataan yang sangat mudah dipahami sekaligus menjadi alarm bagi saya pribadi. Alih-alih menonjolkan hal yang diketahui, lebih baik sedikit membatasi diri dan mulai mendengarkan dari sudut pandang orang lain agar tidak mengabaikan keberadaan orang lain.
Kita boleh saja memiliki rasa penasaran yang menggebu akan sesuatu. Namun, kita juga perlu untuk memilah dan memilih informasi apa saja yang menjadi prioritas penting untuk dipahami. Karena nilai suatu wawasan dan pengalaman bukan dilihat dari kuantitasnya saja, tapi kualitas di dalamnya adalah yang utama. Tidak selamanya mengetahui segala sesuatu terkait banyak hal besar menjadi prestasi. Bisa jadi justru hal kecil yang tak disangka-sangka akan mengubah jalan cerita hidup kita. Ya, intinya saya belajar untuk mafhum yang secukupnya.
Menyelamati Diri Sendiri
Setelah satu tahun tiga bulan lebih saya berpuasa menulis aksara dan berpikir dalam waktu yang cukup lama, akhirnya saya putuskan untuk kembali menekuni salah satu bentuk healing bagi saya pribadi. Terhitung sejak awal Januari tahun lalu saya berani untuk membuat akun tumblr dan cukup intens pada empat bulan pertama, tidak terasa sudah 459 hari akun ini berhibernasi.
Melihat sumber referensi bacaan yang dibuat seseorang lantas memotivasi saya untuk memulai dan belajar kembali tentang banyak hal yang ingin saya bagikan melalui blog ini. Satu kalimat untuk mengakhiri unggahan ini,
“Selamat datang kembali.”
a note to self
May, 9th 2018
8 a.m
We're only one meter away. Staring each other. Speechless. And then seperated again.
7 p.m
Miracle comes: "Sorry, i was nervous for seeing you, suddenly."
Sebagian menjatuhkan mimpi dibumi sedang yang lain membangun mimpi-mimpi yang telah dijatuhkan berulang kali.
Ini bukan hanya tentang duka seekor anak sapi atau kaum yang berjuang melawan komplotan Nazi. Lebih dari sekadar kata, lagu penuh makna.
Lagu ini pertama kali kudengar dari film Indonesia, GIE (2005), saat itu mungkin aku berusia sepertinya sebelas atau dua belas (bisa jadi aku tak ingat). Cerita-cerita politik, kebebasan, persahabatan bahkan romansa cinta pun turut terakumulasi di dalamnya.
Dapat dikatakan kesenanganku akan bait bait puisi tumbuh karena sosok beliau. Kadang tulisannya sulit kupahami, kadang nakal dan liar namun membuatku tenggelam. Dan sebagai penghormatanku untuk Suhu, lagu favoritnya, Donna-donna, kudengar dan kubagikan pada kalian.
Rest In Peace, Soe Hok Gie (1942-1969)
Why; A Brighter Summer Day (1991)
Musik itu asyik! Ia tetap membuatmu berdansa sekalipun dalam duka. Sedalam apapun luka akan kalah dengan cinta. Ah, sungguh aku dibuat manja!
Elizabeth Barrett Browning, from Poems; “A Curse for a Nation: Prologue,”
Dia ingin aku bercerita. Tentang hidup, tentang gelora cinta, buku-buku yang kubaca, musik yang kudengar, dan segala kisah yang kupunya.
And i said to him,
"Sure, with love"