there’s a dagger in her hand
Langkahnya patah-patah. Tas ransel besarnya berada di satu sisi pintu, menunggu semua ini selesai untuk dibawa pergi. Jauh. Tak akan kembali. Tangannya berat dikarenakan sebuah benda asing yang dingin dan licin, namun begitu―tetap dipegangnya erat-erat.
Di tempat ini, ia mempunyai segalanya―kehidupannya baik dan terjamin. Udara segar Shropshire membuatnya sehat dan burung-burung kenari selalu bernyanyi. Masa depannya baik-baik saja jika dia menjalaninya sesuai alur yang sudah diatur. Dia akan baik-baik saja; dia akan menjadi penyihir tanpa perlu berpura-pura, dia bisa berkelana jauh sekali dan tidak ada yang melarang, kemudian dia akan menikah dengan beberapa pengaturan kecil dan kehidupannya akan terus layak.
Tentu saja, dia akan baik-baik saja. Semua itu diatur oleh sang ibu. Seorang ibu yang mewujudkan impiannya pada anaknya tentu saja merupakan sebuah cerita lama. Sudah delapan tahun itu berlalu, melibatkan banyak-banyak sekali sisi. Melibatkan banyak darah yang tertumpah.
Tapi, yang menjalaninya bukan sang ibu.
Seorang ayah dibungkam di tempat ini. Dibebat dengan kain belacu kotor. Dicekoki racun mematikan. Megap-megap kehabisan napas. Mulut berbusa. Tidak ada yang bisa melawan, semua terlalu takut akan tatapan mata yang menusuk. Petugas yang berkepentingan bahkan membalikkan punggungnya kepada mereka, yang mengetahui seluk beluknya, ketika semua mengatakan bahwa seluruhnya adalah natura alam.
Tapi, tidak gadis itu. Tidak lagi.
Dia melawan tatapan itu dengan intensitas yang sama. Bentakan. Gerak tangan. Dulu dia menunggu, dan dia telah cukup menunggu. Jawaban yang penting di sini, adalah sang anak baik-baik saja, tetapi dia tidak bahagia. Tidak pernah. Setitik pun tidak. Ia telah cukup menunggu, kini. Gadis itu menatap ibunya yang tertidur, substansi asing di tangannya menunggu. Diangkatnya erat-erat. Menunggu. Pembalasan. Kebebasan. Dengan ini, dia tidak akan baik-baik saja. Tetapi, gadis itu akan bahagia...
Dia teringat suara tawa sang ayah. Senyum teman-temannya yang dulu dia temui tiap tahun. Keributan yang mereka buat. Esai super panjang. Dulu, dia mengira bahwa semua itu membuatnya sedikit bahagia, namun kesenangan tentu saja berilusi, menganggap semuanya kebahagiaan padahal semu. Ia akan meninggalkan semua itu, kini, mau atau tidak. Tentu saja dia akan merindukannya, nanti. Yang itu, bukannya sudah jelas?
Benda itu jatuh dengan bunyi nyaring, logam dengan permukaan ubin, sementara Alverdine Acton menyambar tas ranselnya yang berat sambil berlari. Menjauh. Jauh, jauh, jauh. Kabur. Bertumpu dengan dirinya sendiri dan tasnya yang berisi peralatan bertahan hidup paling sederhana. Dia akan merindukan seluruhnya yang tersisa di belakang―rumahnya yang besar, harta keluarganya, kehidupannya di kastil. Enaknya kue pendamping minum teh di sore hari. Senyum Agatha dan Anne. Keributan yang dibuat Ulysses Grimm, Renault Phyllis dan Adrian Mumford. Seluruhnya, tanpa kurang namun menyimpan lebih.
Belati perak terletak di lantai, mengkilat tanpa adanya suatu noda. Tubuh ibunya di tempat tidur, dengan mata terbuka yang menyiratkan keterkejutan, dada naik turun karena napas yang berhembus.
Alverdine Karsten Acton tahu apa yang dia lakukan ini sungguh pengecut.
Tapi, Alverdine Karsten Acton juga berada dalam langkahnya menuju jalan kebahagiaan.