Default White Pillows for Fighting
by alverdine
DOWNLOAD: ModTheSims
seen from South Korea
seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from Italy

seen from Jamaica

seen from Mexico
seen from China

seen from Japan
seen from Greece
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from Australia
seen from Sweden

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Norway
Default White Pillows for Fighting
by alverdine
DOWNLOAD: ModTheSims
Default Umbrellas & Parasols
A simple override that changes the first preset of both the umbrella and parasol from Seasons to be more neutral.
by alverdine
DOWNLOAD: ModTheSims
Shelves + Extras Shift & Hide With Walls Down
This mod enables the wall shelves (and objects on them) from Generations, Supernatural and University Life to hide when the walls go down. There are also some extra files that fix various other wall items that did not originally shift or hide with walls down.
by alverdine
DOWNLOAD: ModTheSims
there’s a dagger in her hand
Langkahnya patah-patah. Tas ransel besarnya berada di satu sisi pintu, menunggu semua ini selesai untuk dibawa pergi. Jauh. Tak akan kembali. Tangannya berat dikarenakan sebuah benda asing yang dingin dan licin, namun begitu―tetap dipegangnya erat-erat.
Di tempat ini, ia mempunyai segalanya―kehidupannya baik dan terjamin. Udara segar Shropshire membuatnya sehat dan burung-burung kenari selalu bernyanyi. Masa depannya baik-baik saja jika dia menjalaninya sesuai alur yang sudah diatur. Dia akan baik-baik saja; dia akan menjadi penyihir tanpa perlu berpura-pura, dia bisa berkelana jauh sekali dan tidak ada yang melarang, kemudian dia akan menikah dengan beberapa pengaturan kecil dan kehidupannya akan terus layak.
Tentu saja, dia akan baik-baik saja. Semua itu diatur oleh sang ibu. Seorang ibu yang mewujudkan impiannya pada anaknya tentu saja merupakan sebuah cerita lama. Sudah delapan tahun itu berlalu, melibatkan banyak-banyak sekali sisi. Melibatkan banyak darah yang tertumpah.
Tapi, yang menjalaninya bukan sang ibu.
Tidak pernah sang ibu.
Seorang ayah dibungkam di tempat ini. Dibebat dengan kain belacu kotor. Dicekoki racun mematikan. Megap-megap kehabisan napas. Mulut berbusa. Tidak ada yang bisa melawan, semua terlalu takut akan tatapan mata yang menusuk. Petugas yang berkepentingan bahkan membalikkan punggungnya kepada mereka, yang mengetahui seluk beluknya, ketika semua mengatakan bahwa seluruhnya adalah natura alam.
Tapi, tidak gadis itu. Tidak lagi.
Dia melawan tatapan itu dengan intensitas yang sama. Bentakan. Gerak tangan. Dulu dia menunggu, dan dia telah cukup menunggu. Jawaban yang penting di sini, adalah sang anak baik-baik saja, tetapi dia tidak bahagia. Tidak pernah. Setitik pun tidak. Ia telah cukup menunggu, kini. Gadis itu menatap ibunya yang tertidur, substansi asing di tangannya menunggu. Diangkatnya erat-erat. Menunggu. Pembalasan. Kebebasan. Dengan ini, dia tidak akan baik-baik saja. Tetapi, gadis itu akan bahagia...
Dia teringat suara tawa sang ayah. Senyum teman-temannya yang dulu dia temui tiap tahun. Keributan yang mereka buat. Esai super panjang. Dulu, dia mengira bahwa semua itu membuatnya sedikit bahagia, namun kesenangan tentu saja berilusi, menganggap semuanya kebahagiaan padahal semu. Ia akan meninggalkan semua itu, kini, mau atau tidak. Tentu saja dia akan merindukannya, nanti. Yang itu, bukannya sudah jelas?
Satu detik.
Dua detik.
.
.
.
Benda itu jatuh dengan bunyi nyaring, logam dengan permukaan ubin, sementara Alverdine Acton menyambar tas ranselnya yang berat sambil berlari. Menjauh. Jauh, jauh, jauh. Kabur. Bertumpu dengan dirinya sendiri dan tasnya yang berisi peralatan bertahan hidup paling sederhana. Dia akan merindukan seluruhnya yang tersisa di belakang―rumahnya yang besar, harta keluarganya, kehidupannya di kastil. Enaknya kue pendamping minum teh di sore hari. Senyum Agatha dan Anne. Keributan yang dibuat Ulysses Grimm, Renault Phyllis dan Adrian Mumford. Seluruhnya, tanpa kurang namun menyimpan lebih.
Belati perak terletak di lantai, mengkilat tanpa adanya suatu noda. Tubuh ibunya di tempat tidur, dengan mata terbuka yang menyiratkan keterkejutan, dada naik turun karena napas yang berhembus.
Alverdine Karsten Acton tahu apa yang dia lakukan ini sungguh pengecut.
Tapi, Alverdine Karsten Acton juga berada dalam langkahnya menuju jalan kebahagiaan.
I drew a bunch of Alverdines in setting-appropriate 1920s garb
she's from the same story as Brett, Winston, and Ace
this is why I am not a fashion designer