terkutuk.
[1]
saya mempunyai teori abal-abal kalau sesungguhnya manusia dikutuk untuk menjadi menyebalkan. omong-omong, saya menyukai kalimat yang memiliki unsur kata dikutuk atau mengutuk. latar belakang dari kesukaan saya ini simpel saja; gara-gara timbunan daging yang menyebut dirinya reza, di suatu kesempatan pernah menulis sesungguhnya manusia dikutuk untuk menjadi bermakna. saya mendapati diri sendiri agak takjub dengan kalimat itu, sampai-sampai sanggup merenungkannya tiap hari senin dan kamis di awal dan di akhir bulan. di pertengahan bulan, saya gunakan untuk memikirkan, “sy masih bisa bertahan hidup nga y?” tak lupa, saya juga memaki reza karena tega bikin saya memikirkan kalimat yang dia bikin dalam waktu sekali duduk itu. waktu saya timpali dengan pernyataan, “hih, duniya ini tida adil.” reza, seperti orang tua bijak, menyudahinya dengan jawaban memukau, “lho, ketidakadilan itu malah menjadikan sesuatu itu adil.” kalau nggak salah, lanjutan nasihatnya begini; sesuatu yang menurutmu adil, bisa saja menjadi ketidakadilan bagi yang lain, lho. saya hanya mangut-mangut setuju macam murid yang barusan kena doktrin.
kutipan manusia dikutuk untuk menjadi bermakna nggak terinspirasi dari legenda malin kundang yang penuh kesombongan dan berakhir tragis itu. eh, omong-omong, saya punya pemikiran nggak waras tentang malin kundang. a) kenapa, ya, dari dulu muncul proyeksi kalau selalu anak yang durhaka kepada orang tua--ini macam ada eksklusifitas pada orang tua; dianggap sebagai pihak yang selalu benar dan berkuasa. b) di cerita hidayah zaman dahulu, tokoh antagonis selalu bekausalitas dengan sifat sombong, ya? mulai dari iblis yang diturunkan ke bumi gara-gara kesombongan dirinya; merasa derajatnya lebih tinggi dari adam. mancatut ceramah dosen saya, “iblis itu tida pernah belajar filsafat, yha. harusnya dia tanya, dong, ke tuhan, ‘kenapa siy adam lebi superior daripada sy? kenapa sy harus bersujud?’ bukan malah menyombongkan diri. hih, memang iblis tu nga pernah berpikir kritis dan saintifik.” benar juga, ya, maklum, iblis belum sempat melanjutkan studi; gagal mendapat beasiswa bidikmisi. c) dulu iblis adalah mahkluk tuhan yang ahli ibadah, tapi lantas berubah menjadi pribadi yang sombong dan angkuh. kenapa, ya, bisa begitu? apa ada pengalaman pribadi yang begitu menyakitkan macam konflik keluarga dan kekurangan kasih sayang? tipikal bad boy yang diisolasi lingkungan sehingga muncul rasa iri dan kesombongan. apa iblis dihasut oleh setan? tapi, memang bisa, ya? eh, saya serius bertanya, lho. bukan karena pretensi negatif atau apa.
apa, siy, ini?!
jadi, sekalinya muncul perkara orang tua yang durhaka pada anak alias melakukan kekerasan yang bahkan menyebabkan kematian, kita menjadi sulit menerima problema itu. malahan, kita dengan responsif memberikan pertanyaan, memang ada ya orang tua yang setega itu dengan anaknya? memang ada ya orang tua yang memukul bahkan membunuh anaknya? monggo, cek kasus arie hanggara.
masih berkorelasi dengan paragraf pertama di atas sana. entah mantera apa yang dilakukan homo sapiens--nama yang sempat saya sebut di paragraf pertama itu--sehingga bikin saya selalu berada dalam keadaan sadar membahas kalimat sakti itu di mana-mana. o, ya, ini blog keenam (atau lebih?) yang berhasil saya bikin. enam di antaranya (termasuk blog ini) sukses menyadur kalimat sakti itu. ini tipikal sabda dari sartre yang berucap, manusia dikutuk untuk menjadi bebas. kalau mengungkit hal ini jadi pengin bahas free will. apa kehendak bebas benar-benar eksis?
[2]
saya lagi menyukai lagu milik .feast yang berjudul peradaban. apalagi, usai direkayasa menjadi lagu koplo oleh feel koplo; memang koplo menjadi penyempurna semua genre musik. mungkin, trek alkohol dari sisitipsi bisa menjadi ide selanjutnya. eh, omong-omong, trek everytime milik boy pablo dan persahabatan dari sherina kalau digubah menjadi koplo benar-benar neraka. ini bisa menghambat tren lo-fi.
saya masih pengin membahas .feast tapi di trek yang berbeda. ada lagu dari .feast berjudul dalam hitungan yang berlirik begini, aku tak berguna jika tak diukur angka. saya teringat dengan ungkapan kalau orang dewasa suka dan butuh angka. segala hal pasti dicari bentuk angkanya. beberapa pertanyaan yang muncul di benak orang dewasa dengan kebutuhan level dewa;
“kamu kuliah di mana?” tanya fahma. farhan menjawab dengan lugas, “di universitas indonesia.” lalu manusia yang bertanya ini merunut dalam otaknya; mencari folder peringkat perguruan tinggi terbitan siapa lah gitu--anggap saja lembaga penting. oh, ternayata universitas indonesia berada di peringkat satu. bagus betul! berkat pencarian secepat kilat di otak fahma, dia buru-buru membalas, “wah, bagus, ya! anak pinter, nih.”
ipk kamu berapa, siy? mau om rekrut jadi pegawai, niy, kalau kamu berilmu tinggi dan mengamini perintah tuhan, heHE.
hih, dasar orang dewasa bawel.
kira-kira cara manjur apa yang bisa dilakukan untuk melepaskan kutukan ini dari orang dewasa? simpan jawabanmu dan bawa pesan ini ke persekutuanmu, kirim ke 9977.
[3]
kalau ada sesutau yang disebut nggak jelas; sudah pasti tulisan yang baru kamu baca ini. []












