Tato Emping Petunjuk Jalan
Niatan sudah terkumpul, tapi memang kantong masih terasa terpukul, mungkin karena beban-beban yang harus sudah di pikul. Ya, niatan saya ke Tasikmalaya menemui kesempatannya.
Sepeninggal dari Jogja dan berangkat ke Tasikmalaya. Saya memilih bus Budiman yang arif dan tidak kebut-kebutan. Memang sensasi kalau naik bus yang sopirnya keluaran Sentul. Tapi saya belum nikah dan rumah masih perlu dibedah.
Singkat cerita saya sampai dan ndilalahnya tidak ada yang menjemput. Ucapan hikmah yang nemeduhkan dari teman-teman saya pagi tadi hanya menjadi angin lalu, jemputan hanya ilusi yang dibuat nyata. Haha. Kata-kata yang hadir di sore ini, menjadi pembangkit nafsu untuk menganiaya. Haha. Tidak masalah. Toh, teman-teman saya sudah tau kalau nama anak saya nanti adalah Kelana, karena bapaknya suka klayapan.
Cerita saya singkat lagi, saya naik angkot alias gelebeg jurusan Singaparna. Nah, nantinya saya harus turun di Cipasung. Suatu daerah yang marak santri dan konon katanya Ajengan Ruhiat (pendiri Pesantren Cipasung) punya 25 anak. Bisa dibayangkan betapa sesaknya desa ini dengan nama Ruhiat karena sekarang sudah generasi ke 4 dari Ajengan Ruhiat. Karena ini perjalanan pertama ke Tasik, saya buta apa apa. Buta peta, buta harga (yang penting bukam buta mata buta hati). Saya pasrah saja. Sing penting yaqin
Tapi sinar mulai membuncah, jibril memberikan bisikan lewat adik di samping saya. Adik ini mempunyai ciri-ciri yang sekiranya bisa mengantarkan saya ke Cipasung.
Oke, saya coba kuliti dan seksama memantau. Adik ini sepertinya santri. Di lihat dari baju yang dipakai, ia memilih koko putij dengan aksen abu-abu sebagai bumbu pemanis. Di antara sesaknya modernitas dan tumbuh suburnya lagu-lagu Young Lex, siapa yang mau memakai koko di siang bolong kalau bukam santri.
Yang ke dua, celana yang adik pakai ini celana kain warna hitam. Sekilas tidak masalah. Tapi agak kurang modis untuk anak seusia SMA. Tentu remaja putri lebih memilih pria yang modis daripada pria yang memberi kepastian kemapanan di masa depan. Santri memang kurang modis karena ukuran modis santri adalah merk kopyah yang dipakai. Preaident, Beirut, atau Awing. Itu menunjukkan kasta.
Yang ke tiga, sepatu yang dipakai adalah sepatu All-Star (bajakan) terlihat dari anyaman tali sol sepatu yang melingkar dan warna tali sepatu yang merah benderang. Jadi, apa masuk, warna merah dengan warna koko putih abu-abu, celana hitam dan tapi sepatu merah benderang? Oke, anda bisa menyimpulkan sendiri. Santri memang suka begitu, yang ada yang dipakai. Qonaah.
Yang terakhir atau yang ke empat, saya memantau. Adik ini tidak pakai kaus kaki dan membuka satu aibnya sendiri. Yang kemudian saya menjadi haqqul yaqin dia adalah santri yang dikirim Tuhan kepada saya untuk menyelamatkam perjalanan. Ada bekas luka gatal alias gudig alias budug yang ada di kakinya. Tentu kehidupan santri sangat menjunjung tinggi nilai kolektivisme, dan handuk yang dipakai bersama adalah indikator kebersamaan ini. Termasuk kolektif menggaruk sendiri atau garuk garukan. Hahaha. Hal ini yang membuat saya begitu yakin. Bukan saya mau mengejek atau mengumbar aib orang tapi setelah saya dekatkan kaki saya ke kaki adik ini, oh ternyata tidak jauh berbeda. Tato Emping memang abadi. Xixixi.
Nah, saya mantapkan hati. Adik ini turun, sayapun ikut turun dengan mantap dan muka tegar senantiasa. Kubayarkan uang sejumlah yang adik keluarkan. Ini plagiatisme yang berfaedah dan alhamdulillah. Tiba di Cipasung dengan sentosa di perempatan Mukatamar.
Namun, sebagai wujud terimakasih. Saya mendekat dan bertanya dengan senyum merona.
“Dek, pesantren komplek mana?” Tanya saya.
“Saya komplek dekat masjid” jawab dia.
Haha, saya kembali terselamatkan. Teman saya berkumpul disana.
“Ayo dek, bareng sama saya”.
Hahaha
Cipasung, 17 Juli 2017












