Bakemonogatari. Satu dari sedikit judul yang akan terlintas di kepala saya jika seseorang hadir dengan pertanyaan “anime favorit lo apa?”. Unik, aneh, beda, bahasa yang tinggi, mungkin itu imaji yang lahir dari anime satu ini. Seninya benar benar berbeda.
Ketika anime lain “hanya” menyuguhkan karakter cantik-ganteng mereka kemudian menggerakkannya, Bakemonogatari memiliki ide yang diluar itu semua. Mereka menyisipkan tulisan-tulisan aneh, terkadang bercampur gambar atau foto. Terkadang membuat penonton bingung dan di paksa berfikir. Terkadang memiliki simpangan arti.
Terlebih tulisan itu hanya bertahan maksimal satu detik. Membuat saya harus berkali kali menekan tombol sakral pada keyboard saya, tombol spasi. Benar benar luar biasa.
Bakemonogatari kembali berhasil membuat saya berdecak kagum ketika sampai di episode 12. Cerita yang biasanya di penuhi oleh keanehan (dalam arti sebenarnya), vampir, hantu, dan hal hal lain yang membuat tegang, tiba tiba berubah di satu episode ini. Tiba tiba terasa hangat, romantis, dan sederhana. Berawal dari perjalanan Hitagi Senjougahara, Bapaknya yang tidak disebutkan namanya, dan Koyomi Araragi, hingga petuah singkat dari yang tertua, dan diakhiri oleh menikmati bintang berdua. Hubungan mereka yang sepanjang cerita digambarkan sedikit, atau bahkan cukup aneh, berubah seketika menjadi sederhana dan romantis.
Tak ketinggalan dengan ciri khas penyampaian visualnya yang malah menggunakan kata, mereka menambahkan ini setiap kali Araragi, karakter pria, mengedip.
Kembali mengedip.
Dan kembali mengedip.
Seperti mengingat nama, dalam susunan lengkap, dalam huruf kapital, dan dalam huruf kecil, seseorang yang benar benar dicintainya, hingga menyadari betapa luar biasa dan pentingnya dia.













