Lima: Jawaban dari Allah
4 September 2016, dia datang ke rumah, sendirian!
Jadi begini ceritanya…
Sepekan setelah proses taaruf, murabbi menghubungi saya dan bertanya bagaimana keputusan saya. Namun saya belum bisa memberikan jawaban karena orangtua saya pun masih belum memberi keputusan. Saat itu, setalh istikharah selama sepekan, saya mengatakan pada orangtua, bahwa saya siap menikah dengan orang ini, tapi keputusannya saya serahkan pada Papa sebagai wali. Apapun keputusan orangtua saat itu akan saya terima.
Murabbi saya saat itu bertanya, “Ukh apakah orangtua berkenan kalau ikhwan ini silaturrahim ke rumah?”
Saya jawab, “Sepertinya memang begitu amah kehendak orangtua. Orangtua pengen tahu orangnya dulu, baru kemudian bisa memutuskan.”
Malam itu juga laki-laki nekat itu berangkat ke Solo. Jam 2 pagi dia berangkat sendirian dari Bungurasih ke Tirtonadi, dari Tirtonadi naik ojek sampai depan rumah saya, dan tidak pakai acara nyasar! (Cerita ini saya tahu setelah menikah dan tanya ke dia). Wow! Setiap orang yang hendak berkunjung ke rumah saya (kalau sebelumnya belum tau jalannya, bahkan temen saya saja sudah berkali-kali main juga) biasanya bakal nyasar-nyasar dulu. Rumah saya di pelosok desa, tidak ada nama jalan, dan tidak dilalui jalur angkutan apapun. Kemudahannya untuk sampai di rumah saya bisa jadi pertanda dari Allah.
16 September 2016, dia dan keluarganya silaturrahim ke rumah.
Pertama kalinya saya bertemu dengan ayah, ibu, serta kakak kandungnya. Menurut ceritanya, ibu dulu tidak setuju ketika dia menceritakan tentang saya dan keluarga saya. Dalam pandangan ibu, kalau mau menikah ya calonnya dibawa ke rumah dulu, dikenalin dulu. Ayah yang kemudian dengan bijak berkata, “yasudah kita silaturrahim kesana dulu.” Setelah menikah ibu juga cerita, “Saya tanya itu nis sama tetangga. Eh tetangga bilang Sukoharjo tempatnya teroris-teroris. Duh, piye iki.” Saya hanya tertawa mendengar cerita-cerita ibu. Hal yang sama juga terjadi dengan orangtua saya. Mama dan Papa saya cenderung menolak, karena alasan jauh dan sama sekali tidak kenal dan tidak ada kenalan yang mengenalnya. Orangtua saya inginnya yang dekat saja, kalaupun jauh, paling jauh hanya Jogja, tidak sampai Jawa Timur atau Jawa Barat.
Dan hari itu menjadi pertemuan kedua saya dengannya, tapi tetap tidak ada cakap di antara kami. Saya hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah, ibu, dan kakaknya. Dia pun memilih diam, hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan keluarga saya (pakdhe-pakdhe saya).
Sepekan setelah itu, saya masuk opname di Rumah Sakit untuk operasi abses.
Ini yang kemudian juga membuat saya berpikir, beginikah cara Allah menjawab dan memutuskan apa yang terbaik untuk saya?
Sebenarnya sudah sejak saya di Surabaya, tanggal 14 September 2016, saya sudah merasa ada yang tidak enak. Badan rasanya sakit, sampai-sampai skripsi saya pun berhenti sejenak. Tepat pada saat itulah orangtua telpon dan mengatakan hari Jum’at dia dan keluarganya akan datang ke rumah. Saya yang saat itu sedang sibuk-sibuknya mengerjakan proposal skripsi akhirnya membeli tiket kereta untuk pulang esok hari. Saya pikir saya cuma masuk angin, dan benjolan yang ada mungkin hanya karena kejedot atau ketabrak sesuatu tapi saya tidak sadar, sehingga saya biarkan rasa sakit itu.
Dia datang hari Jumat, hari Sabtu saya masih sempat untuk pergi keluar, dan hari Minggu saya benar-benar tidak bisa jalan. Akhirnya saya bilang ke orangtua bahwa ada benjolan yang sakit dan mengganggu sekali. Esok harinya, saya datang ke dokter, dan dokter bilang itu hanya infeksi. Saya diberi beberapa resep dan jika 5 hari belum sembuh, maka diminta kembali. Tidak sampai 5 hari, ternyata sakitnya semakin menjadi dan saya semakin tidak bisa apa-apa. Sholat, makan, semuanya di kasur. Sholat pun sambil miring karena saya tidak bisa duduk atau telentang.
Hari Kamis, orangtua akhirnya membawa saya ke dokter spesialis bedah. Dokter mengatakan bahwa ada abses dan tindakan satu-satunya hanya operasi. Saat itu juga saya harus opname dan menjalani berbagai pemeriksaan. Sambil terus saya pikir-pikir, rasanya saya tidak akan pulang kalau dia dan keluarganya tidak datang ke rumah, dan kalau saya tetap di Surabaya, entahlah nasib saya seperti apa. Di tengah rasa sakit yang saya rasakan, saya terus berdoa, memohon pada Allah agar diberi petunjuk dan kemantapan hati bila memang Allah menakdirkan saya menikah dengannya.
Akhirnya, orangtua saya pun menghubunginya, mengatakan bahwa proses ini insha Allah bisa dilanjutkan. Kedua keluarga akhirnya menyepakati tanggal untuk dilaksanakan khitbah. Saya sendiri sempat tidak percaya, secepat inikah?!
8 Oktober 2016: Khitbah
Masih terekam dalam ingatan saya, pagi-pagi rumah sudah tertata rapi dengan lampu menyala, saudara-saudara berkumpul, nasi liwet khas Solo pun siap untuk dihidangkan. Saya mengenakan baju milik Mama ketika akad nikah 24 tahun yang lalu. Kira-kira pukul 10, keluarga calon besan yang berangkat dari Madura datang. Segera setelah melakukan ramah tamah, pakdhe saya memulai acara khitbah. Saya masih di ruang keluarga, menunggu dengan perasaan dag dig dug. Ketika akhirnya pakdhe mempersilakan saya keluar, saya hanya bisa tertunduk dengan perasaan campur aduk.
“Mas Anggit, bener ini yang namanya Mbak Nisa yang mau dinikahi?,” tanya Pakdhe.
Saya tidak melihat, tapi sepertinya dia mengangguk.
“Nduk, Anakku, ini ada laki-laki yang datang melamarmu. Karena kamu sudah dewasa, kamu berhak memutuskan sendiri. Kalau iya, boleh bilang iya atau diam saja sambil mengangguk,” terang Pakdhe yang amat bijaksana.
Saya masih menunduk, dengan lirih saya ucapkan bismillaahirrahmaanirrahim, kemudian saya anggukkan kepala perlahan. Setelah itu ibu memasangkan cincin di jari manis saya, dan saya pun mencium tangan ibu. Saya kembali masuk ke dalam kamar ketika rangkaian khitbah selesai. Acara dilanjutkan dengan makan siang khas Solo yaitu nasi liwet, setelah hidangan pembuka berupa sop manten.
Sesaat setelah khitbah selesai, terasa ada beban di pundak saya. Saya sudah dikhitbah orang, sudah tidak boleh main-main aneh-aneh lagi, harus bisa menjaga perasaannya dan keluarganya. Sebentar lagi saya jadi istri, bekal apa yang saya punya? Seberapa banyak ilmu yang harus saya siapkan?










