Empat: Kali Pertama Bertemu Dengannya
Sabtu, 27 Agustus 2016 di Sidoarjo, di rumah seorang ustadz yang menjadi perantara kami.
Hari itu terjadwal untuk melakukan proses taaruf dengan seorang laki-laki yang saat itu saya belum mengenalnya sama sekali kecuali melalui proposalnya. Saya berangkat naik uber ditemani murabbi saya. Rumah ustadz tersebut cukup jauh ternyata, dan kami pun sempat nyasar-nyasar dulu sebelum akhirnya menemukan rumah beliau (ternyata setelah menikah, doi juga cerita kalo waktu itu bingung nyari alamat ustadznya dan nyasar juga, wkwk). Sesampainya disana, saya sholat ashar. Setelah sholat, saya keluar dan… jeng jeng…sudah duduk lelaki tak dikenal itu. Saya lupa persisnya dia memakai pakaian warna apa, bagaimana tampilannya, karena jujur saja saya tidak begitu berani melihat ke arahnya.
Ustadz memulai forum taaruf itu dengan singkat, kemudian mempersilakan kami untuk bertanya jawab. Hening beberapa saat. Saya diam, dia pun juga masih bungkam. Kemudian ustadz berujar, “loh ayo silakan ditanyakan apa yang ingin diketahui. yasudah silakan yang ikhwan memulai dulu.”
Akhirnya dia pun mulai membuka suaranya, memperkenalkan diri secara singkat, kemudian melempar pertanyaan pada saya.
“Anti dari SMP kan jauh dari orangtua, tinggal di asrama, bagaimana hubungan dengan orangtua sampai saat ini?” kurang lebih begitu pertanyaannya.
Surprisingly, berbicara dengan orang ini tidak lantas membuat saya jadi rendah diri, deg-deg an, takut, grogi, dan lainnya (berbeda ketika proses taaruf dengan orang sebelumnya yang mana ketika berhadapan saja saya sudah takuuut sekali, jadi merasa tidak nyaman ketika berdiskusi). Bisa dibilang taaruf sore itu berjalan lancar, dengan sesekali ustadz dan murabbi saya menimpali ketika kami sama-sama diam. Dia bertanya cukup banyak, mulai dari hubungan dengan keluarga, kondisi keluarga, planning saya setelah menikah, setelah lulus, metode pendidikan anak, buku-buku yang saya baca, sampai makanan favorit saya. Saya menjawab sesuai dengan bagaimana adanya (dan parahnya lagi nyeplos-nya saya keluar juga, wkwk, dikira dia bakal ilfeel eh ternyata malah mau lanjut :’D), saya lebih sering diam, paling hanya beberapa pertanyaan penting yang saya ajukan kepadanya.
Menjelang Maghrib, taaruf itu akhirnya diakhiri dengan kesepakatan, seminggu setelah itu kami akan memberi jawaban apakah taaruf itu akan dilanjutkan ke proses yang lain (khitbah) atau dihentikan dan apa-apa yang kami ketahui melalui proses taaruf itu cukuplah bagi kami saja. Seusai shalat Maghrib saya dan murabbi kembali pulang ke Surabaya. Murabbi saya banyak menasehati dan menceritakan pengalaman taaruf dan pernikahan beliau ketika kami dalam perjalanan Sidoarjo – Surabaya malam itu.
Sesampainya di kosan, saya menghubungi orangtua di rumah dan menceritakan bagaimana proses taaruf yang telah dilakukan. Saya juga minta tolong orangtua saya untuk istikharah juga, karena sepertinya orangtua sedikit syok ketika mendengar berapa penghasilannya dan rasa-rasanya ingin menolak. Tapi saya katakan pada orangtua (terlebih sebenarnya menasehati diri sendiri, agar perkara akhirat lebih diutamakan, agar agama dan akhlak yang menjadi patokan utama, bukan hanya berpatokan pada seberapa besar gaji atau kepunyaannya), “matematika nya Allah sama manusia kan beda, Ma. Istikharah dulu aja, kalo memang hasilnya dilanjutkan, ya kita terima dan jalani prosesnya dengan ikhlas, kalau ngga ya berarti belum sekarang waktunya nisa menikah.”
Selama sepekan itu saya sempat ragu-ragu. Banyak sekali hal yang saya pikir-pikir ulang, saya timbang-timbang, saya hitung-hitung, pokoknya di kepala rasanya penuh sekali. Setelah sholat istikharah beberapa kali pun rasanya saya masih bimbang, apalagi orangtua juga begitu, belum sreg kalau belum ketemu dengan orangnya langsung. Beberapa hari sebelum ‘deadline’ saya memberi keputusan apakah proses itu akan dilanjutkan atau tidak, saya mengunjungi ibu kosan baru untuk mengambil kunci kamar. Surprise! Saya duduk di ruang tamu, disana ada TV menyala, menayangkan acara kajian pagi, dan entahlah kenapa dari semua tema kajian yang ada tema saat itu adalah soal pernikahan! Ibu kosan mencari kunci cukup lama, dan seolah-olah ustadz di TV itu sedang memberi ceramah pada saya, berbicara pada saya, menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya, menjawab keragu-raguan dan kebimbangan saya tentang pernikahan.
Ya Allah, was that Your sign?













