Sebentar lagi Indonesia bakal melakukan pemilihan umum capres dan cawapres. Banyak bersebaran kampanye-kampanye dimana-mana, termasuk di dunia maya. Tahun 2009 setahu saya internet belum sebooming ini karena remaja-remaja pada masa itu juga belum lama mengenal internet waktu mereka kecil. Sekarang pengguna internet bertambah. Karena mereka yang dulunya tahun 2009 masih anak-anak dan gak ngurusin pemilu, tahun ini udah jadi pemilih pemula. Termasuk saya.
Well, saya disini gak mau mengomentari visi misi, merakyat atau tegas, melanggar janji atau melanggar ham para capres-capres yang maju itu. Tetapi saya cuman prihatin dengan majunya internet ini, cara-cara kampanye banyak yang salah. Sebagian besar kampanye yang saya lihat di internet, selalu memojokkan satu pihak. Selalu menjelek-jelekkan satu pihak dan menutup mata akan kejelekan pihak yang dia dukung.
Sebenarnya, kita harus pilih yang mana? Nomor satu atau nomor dua? Silakan aja pilih yang mana yang menurut kamu baik. Karena jujur aja, mereka berdua sama-sama baik. Sama-sama punya misi yang jelas dan terstruktur. Cuman kembali lagi ke kita, mau pemimpin yang seperti apa?
Saya menganalogikan milih capres sama milih cowok. Sebagian besar cewek di dunia ini pastinya setuju dong suka cowok yang romantis dan humoris? Tapi masalahnya susah mencari cowok yang punya dua komponen itu di dalam dirinya. Sekarang pilihannya menjadi: mau punya cowok yang romantis atau humoris?
Rakyat Indonesia memimpikan pemimpin yang tegas dan tidak lenjeh tapi juga kenal dekat sama rakyatnya atau istilahnya sekarang ini "merakyat". Cuman kenyataannya sekarang dua capres kita ini tidak ada yang memiliki unsur dua-duanya itu. So? Apa yang harus kita lakukan?
Jawabannya satu. Selera. Selera setiap orang berbeda-beda dan selera dipengaruhi oleh beeerrrbagai macam faktor dari kehidupan orang tersebut. Kayak tadi, mau cowok romantis apa humoris? Terserah aja. Mau pemimpin tegas apa merakyat? Terserah aja. Gak bisa memaksakan kehendak orang lain punya pendapat yang sama kayak kita kan?
Yang bikin saya sebal adalah banyak cyber war yang alay dan kamseupay karena dilatarbelakangi oleh berbeda pandangan soal capres. Gak hanya itu, tersebar black campaign dimana-mana. "Si Anu itu gini. Mau apa presidennya kayak gitu? Makanya pilih si Una aja!" gitulah intinya pendapat orang-orang ST tuh. Saya pengen jawab, "emang si Una udah perfect? gak kan? gak usah sok menjelek-jelekkan satu capres." HIH
Pada dasarnya, jujur aja nih ya, capres 2014 ini dua-duanya jelek. Tapi dua-duanya bagus. Sama saja yang jadi presiden siapa aja. Kita harus saling mendukung walaupun berbeda pandangan. Gak usahlah jelek-jelekin capres lain, toh capres jagoanmu juga busuk. Semuanya busuk. Semuanya pun harum. Jangan sampai banyak kerusuhan dan orang-orang polos pada terluka cuman gara-gara beda pandangan gini. Saling menghargai lah, kalau mau dihargai balik. Jangan nyindir-nyindir dan bikin panas pendukung lain. Pilih capresmu berdasarkan hati nurani. Lihat media informasi yang netral. Yang memihak buang aja dulu. Kalaupun ada yang memihak, kita harus cerdas. Jangan hanya menampung informasi dari satu sumber saja. Usahakan netralkan otak kita terlebih dahulu, dan baru berpikir mana yang cocok sama hati kita. Jangan kemakan kampanye hitam yang sesat dan mencuci otak. Gitu.