Amazing Thing
It’s been a while~ Akhirnya aku menulis di sini lagi setelah hiatus (lagi) karena beberapa hal.
Oh iya, sekarang hidupku jauh berbeda daripada waktu aku menulis post terakhir sebelum post ini. Buanyak hal terjadi selama empat bulan terakhir dan aku merasakan banyak pengalaman yang luar biasa.
Sekitar awal Oktober 2017 petualangan baruku dimulai, suasana baru, lingkungan baru, semuanya baru. Banyak banget sebenarnya yang mau aku ceritakan tapi, di sini aku mau fokus sama satu hal dulu ya~
Tanggal 5 Oktober 2017 aku dapat tugas keduaku. Tugasnya agak nyeleneh nih karena enggak jelas tempatnya dimana. Jadi, aku ditugasin membuat tulisan tentang orang yang tidur di kolong jembatan daerah Manggarai. Aku yang baru sebulan di Jakarta bingung dong ini maksudnya mana, dan aku malah ke Stasiun Manggarai karena kukira jembatan yang dimaksud itu JPO (Jembatan Penyebrangan Orang) stasiun gitu hahaha. Ternyata salah besar, saudara-saudara. Akhirnya aku dikasih foto maksudnya jembatan yang mana dan aku langsung menuju ke situ.
Aku udah mikir negatif, aku takut ditolak sama mereka ketika aku bilang aku dari media dan ingin meliput. Tapi aku salah besar. Orang-orang di situ sangat welcome. Satu ibu-ibu umur 50an, yang jadi semacam pentolan di situ langsung menyambutku dengan sangat ramah. Dia bahkan kasih lihat aku KTPnya. Namanya Bu Rosiyah.
Setelah ngobrol sedikit, aku minta izin supaya bisa ikut melihat gimana sih tinggal di kolong jembatan itu. Akhirnya,aku ikut turun lewat tangga dari kayu gitu dan masuk ke kolong jembatan yang jadi tempat tinggal mereka. Menurutku, itu pengalaman yang keren banget.
Jadi, bawah jembatan yang ada besi-besi itu, mereka kasih kayu yang dikasih alas terpal bekas, entah bekas iklan partai, bekas iklan event. Mereka enggak punya kamar mandi. Agak ke tengah jembatan, mereka bikin kamar mandi terbuka yang ketika mereka butuh air tinggal lempar ember ke bawah pake tali, dan mandi masih pake baju begitu aja.
Bu Rosiyah ini kerja sehari-hari jadi pemulung. Kata dia, kalau lagi ada uang dia mandi numpang di deket kantor petugas penjaga palang kereta. Kalau enggak, ya itu tadi dia mandi pakai air kali dengan kondisi masih pake baju karena itu kamar mandi terbuka.
Jujur, di bawah kolong jembatan itu nyaman lho. Adem suasananya, walaupun di atas kita mobil motor lalu lalang. Tapi rasanya aku enggak mau pergi hahaha.
Sebenernya ada banyak yang Bu Rosiyah ceritakan padaku. Tulisanku tentang ini juga sudah ada di koran Republika edisi 6 Oktober 2017. Tapi di sini, aku mau menyoroti satu hal.
Bu Rosiyah cerita, dia sering kena razia. Beberapa rekannya ada yang kena razia dan langsung dibawa sama petugas Dinas Sosial. Biasanya, orang yang dibawa sama DInsos kalau sudah tua akan dimasukan ke panti jompo. Bu Rosiyah ini, enggak mau itu terjadi.
Aku masih ingat banget, beliau bilang, “masih bisa mulung kok malah disuruh tinggal di panti jompo.”
Bagi aku, itu pernyataan yang wow banget. Kalau aku jadi dia, aku bakal lebih milih tinggal di panti jompo daripada gak jelas tinggal di kolong jembatan bisa kena razia enggak bisa mandi nyaman dan harus jadi pemulung biar bisa makan. Jelas, di panti jompo hidupnya akan lebih terjamin. Tapi, enggak. Bu Rosiyah memilih untuk hidup bebas sebagai pemulung daripada di panti jompo.
Alasannya sederhana, beliau ingin hidup bebas. Tapi di balik alasan sederhana itu, aku bisa lihat semangat dan jiwa muda di ibu-ibu umur 56 tahun ini. Bahkan mungkin, jiwaku kalah muda sama beliau. Kadang aku males, kadang aku ingin tidur aja di rumah. Tapi Bu Rosiyah ini, she lives her life doing what she wants. Bagiku, dialah yang “hidup” sesungguhnya.
Dari sini, aku juga mikir. Ketika kita mau menolong seseorang, kita harus tahu sebenernya ini orang butuh enggak sih ditolong? Apakah standar hidup kita bisa kita terapkan ke orang lain? Dan ternyata, dari obrolanku sama Bu Rosiyah, itu sama sekali enggak bisa. Niat mengumpulkan orang tua terlantar di panti jompo punya tujuan yang baik. Tapi bagi sebagian mereka, itu bukan kebahagiaan. Bisa-bisa Bu Rosiyah malah stress kali kalau enggak diizinkan bekerja menjadi pemulung. Ia merasa dirinya masih sangat mampu buat bekerja.
Temen-temen bisa sih melihat kondisi Bu Rosiyah ini dari berbagai sudut pandang. Mungkin ada yang enggak setuju dengan sudut pandangku tentang kehidupan Bu Rosiyah. Tapi di sini, aku pikir kita bisa lihat sisi positifnya. Bahwa, jangan mau kalah sama Bu Rosiyah, yang sudah 56 tahun tapi tetap ingin bekerja dan enggak mau hidup bermanja-manja terus. Bagiku, pelajaran yang aku dapat dari Bu Rosiyah ini sangat amazing dan keren. Semoga beliau sehat terus dan selalu bahagia.













