Bergegas Ke Timur, Pulau Sumbawa
Minggu pagi.
Kartu pos bergambar Rinjani itu sudah tersimpan rapat-rapat di dalam sebuah kotak bernama kenangan. Setiap savana, tiap hutan, pasir, dan batu bersiul menjadi lagu dalam kotak musik, yang tersisa hanya ampas kopi di dasar gelas. Masih pagi yang sama. Pagi dengan Matahari menyembul dari atap rumah Pak Nursaat. Pagi ketika kami harus bergegas menuju timur, Sumbawa.
Pak Cip melajukan mobil dengan kecepatan sedang, mengantar kami ke tujuannya masing-masing. Ade dan Apip ke bandara, saya dan Bulan akan diantar ke pusat kota untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel menuju Sumbawa Besar, sedangkan Drian dan Angga akan diantar ke Rumah Singgah Lombok di Mataram. Oiya, Pak Nursaat, tuan rumah kami, turut serta mengantar ke kota.
Roda-roda menyisir rumah-rumah di sepanjang jalan, bukit yang tak melulu hijau, kadang biru, atau cokelat, terlihat berlari dari balik jendela mobil. Di belakang sana, ada kisah yang menjulang 3726 meter di atas permukaan air laut, berusaha tidak ada lagi di sekeliling. Tarikan napas yang menjadi kabut ketika meninggalkan jejak sepatu dengan sol yang lepas. Tidak boleh ada yang terganggu ketika waktu lewat.
Dan ketika lagu reggae Bob Marley menjadi lagu yang sama, tidak pernah ganti, atau memang hanya ada itu, suka atau tidak suka ya pasti akan suka, mengalun dari alat putar mobil. Tapi yang pasti, diputar dengan volume mentok.
***
Laut tetap biru seperti biasa ketika kami melintas di sisi kirinya yang berkelok. Laut yang masih seperti rahim ibu ketika menjadi samudera. Laut itu yang menunggu ketakutan saya untuk bergabung bersama alun dan gelombangnya.
“Siapa yang mau ke Gili?” tanya Pak Cip di balik kemudi ketika kami sampai di simpang Sengigi. “Tidak ada, Pak.” jawab Bulan cepat. “Sebagian besar GIli sudah tidak bisa dinikmati lagi. Sudah penuh dan sumpek.” Bulan melanjutkan. Saya, yang belum pernah mengunjungi Gili, diam mendengarkan obrolan ringan antara Pak Cip dan Bulan. Ya, tidak baik ketika segela sesuatunya udah berlebihan. Pariwisata memang seperti pisau bermata ganda. Di satu sisi, baik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal, tapi di pihak lain ada pertanyaan muncul, bagaimana bisa menikmati keindahan sebuah tempat yang sudah penuh sesak. Sampah adalah hal yang pasti ada.
Dari simpang Segigi, mobil melaju naik masuk ke dalam pegunungan. Jalan meliuk dengan pohon-pohon besar di kanan dan kiri berjajar menutup pandang seperti biasa. Kera-kera berbaris menunggu lemparan makanan atau sampah dari yang lewat. Bah! Sampah lagi. Kenapa masih banyak orang membuang sampah sembarangan? Ini jalan bukan tempat sampah!
Kami sempat makan siang bersama di Warung Cahaya 2 di seberang gerbang bandara. Nasi Balap Buyung. Ooh la la … Kami semua, tanpa kecuali, makan dengan lahap. Entah karena enak atau kami memang lapar. Sepertinya keduanya.
Kami berpisah di depan shuttle tempat saya dan Bulan akan melanjutkan perjalanan ke Sumbawa menggunakan travel bus. Minggu pagi tidak mau menunggu untuk sedikit lagi saja menikmati Rinjani. Hanya angin saja yang mungkin bisa kembali ke sana, tapi kita berpisah.
***
Duduk di dalam mini bus menunggu rantai pembatas masuk ke kapal dibuka, di Pelabuhan Khayangan, seperti menunggu jam yang teus berputar ke kanan. Entah sudah kapal ke berapa yang sudah berangkat, namun kami masih di pelabuhan. Kapal yang akan mengantarkan kami ke salah satu dari 18.306 pulau yang dimiliki negeri ini. Rantai pembatas pada bagian motor roda dua sudah dari tadi dibuka. Lalu kami kapan dapat giliran? Beberapa orang lalu lalang.
Senja tak mau menunggu pengagumnya untuk menikmati emasnya. Hari sudah petang. Ingin sekali menikmati senjakala itu di atas geladak kapal, melihat bagaimana ia hilang ditelan garis cakrawala. Tapi siapa yang berhak mengatur kehendak?
Senja sudah surut ketika saya dan Bulan duduk di atas geladak, ketika kapal menjauh dari labuhan. Segelas kopi yang terbeli di kantin ikut duduk menikati angin. Angin di sini berbeda dari sebelumnya. Angin tanpa kabut putih dan kadang kelabu. Angin di sini adalah sepoy nyiur yang berjajar di pantai seperti pagar. Selamat tinggal, Lombok.
***
Dalam remang langit hitam malam dan temaram bulan, kami bercakap ringan. Bercakap menutup segala ketakutan akan laut. Takut tenggalam. Atau takut mabuk. Atau takut hanyut. Bah! Di laut tidak bisa hanyut.
“Muka lo stress banget,” ucap Bulan sembari tertawa ringan. Saya, yang ditebak raut ketakutan hanya meringis.
Hening di sini pun berbeda dengan hening di atas sana sebelumnya. Hening yang hanya terdengar baling-baling kapal mengoyak air laut, hening bunyi cerobong kapal mengeluarkan asap hitam ke udara. Tersapu oleh angin menuju entah ke mana. Hening dengan ketakutan akan laut yang dalam.
Cukup banyak orang yang berada di geladak ini. Ada yang berdiri mematung memandang laut yang, kali ini tak tampak birunya. Ada yang berswafoto, ada pula yang tidur. Saya pun ikut tertidur, setelah obat anti mabuk yang sebelumnya saya konsumsi bekerja pada tubuh. Membiarkan Bulan menikmati udara laut sesuka-hatinya.
***
Saya melirik arloji di lengan, waktu menunjukkan pukul tujuh malam waktu setempat, ketika kami akhirnya bersandar di Labuhan Poto Tano Sumbawa. Perjalanan tinggal seperempat, dari Poto Tano, kami melanjutkan menuju Sumbawa Besar. Sebetulnya badan kami sudah lelah, tapi gong sudah dibunyikan sejak bebarap jam lalu, tanda lakon masih dimainkan untuk tiga jam ke depan, menuju Sumbawa Besar.
Alangkah panjangnya menanti suara gong tanda henti perhelatan. Di luar jendela mobil yang tampak hanya gelap dengan kilas tebing-tebing kars putih yang sudah digali. Jalan pun terasa tak beraturan iramanya. Sedang Dalam Perbaikan, begitu tulisanya pada papan-papan menunjuk di pinggir jalan. Harus bergiliran berjalan.
Tapi kita tidak tahu, huruf-huruf apa yang terbaca ketika terang menyerang pada tempat ini? Indah? Biru? Panas? Atau gersang? Di atas ciptaan Tuhan, saya, kamu, kalian, tak berhak lagi atas kata-kata.
Tiga jam berlalu dan gong tanda henti sudah ditabuh. Bunyinya seperti teriakan goal pada pertandingan bola. Pertandingan yang sedang disaksikan oleh beberapa orang pemuda, dengan layar besar, di halaman depan hotel kami menginap di Sumbawa Besar.
Kami diantar menuju kamar oleh salah satu pemuda yang sedang asyik menonton pertandingan bola tadi, setelah kami melapor ke receptionist. Pemuda yang wajahnya sangat berciri khas raut Indonesia Timur, hitam dengan rambut keriting yang, kali ini dia gimbal.
Seperti menemukan barang berharga ketika kami akhirnya melihat kasur. Sudah lima hari kami tidak bertemu kasur, karena sebelumnya, hari kami ditemani oleh kantong tidur dan matras. Itu pun sudah Puji Tuhan, masih mending dibanding harus tidur di atas tikar. Tidak terbayang seperti apa.
Secara berbarengan saya dan Bulan melompat ke atas kasur yang, sebenarnya, tidak begitu empuk. Tapi tidak apa, yang penting kasur. Meluruskan kaki dan tangan sambil mengolet. Nikmat sekali. Seperti surga. Tapi ini bukan surga. Lagian, saya belum pernah ke surga. Jadi, saya batalkan, ya, ucapan saya ‘seperti surga’ tadi. Saya juga kurang suka jika ada orang menggambarkan sebuah keindahan itu seperti surga. Hanya orang baik yang sudah meninggal, pernah ke surga.
***
Saya berjalan bertelanjang kaki, menuju ke minimarket yang berada di samping hotel. Di dalam, saya mengambil gelas kertas kecil dan menyeduhnya dengan susu cokelat panas, lalu kembali ke kamar. Saya duduk di beranda, menikmati susu cokelat panas tadi dengan udara yang berbeda; udara pesisir.
Di sini tidak ada gunung. Rinjani sudah berada jauh di barat, yang tersisa adalah kartu pos kenangan di dalam kotak musik. Kartu pos dengan gambar savana, gambar hutan dan kabutnya yang kelabu, gambar jalan pasir dengan kemiringan 45°, gambar si keparat batu itu. Semua tersimpan dalam kotak musik.
Bulan temaram di atas langit. Deru suara kendaraan cukup bising terdengar. Motor-motor ngang ngeng seperti sedang beradu cepat. Ada apa dengan orang-orang itu? Kalau mau balapan ya jangan di jalan raya dong. Sana, pergi ke sirkuit, atau ke tong setan sekalian. Tidak bisa ya membiarkan orang melamun? Berisik!
Susu cokelat tinggal setengah. Saya masih diam melamun membayangkan apa saja dan entah apa. Atau kembali ke Rinjani, dengan Segara Anak yang toskanya tidak karuan bagusnya, dengan Barujari yang setia dengan asap tipis ke angkasa, dengan hutan Senaru yang tanpa tanda baca. Dengan batu yang kepar… Ah, sudah lah. Tidak usah dibahas melulu. Susu sudah habis, mending saya segera mandi dan lanjut tidur, karena esok ada laut yang menunggu ketakutan lain untuk mengalun bersama ombaknya.











