Perempuan dan Teror Pernikahan
Sering kita melihat , teman-teman yang mengikuti sebuah kuis di sebuah media sosial lalu membagikan hasilnya pada lini masa. Kuis bisa bermacam-macam, tentang menebak kepribadian, tentang siapa pasangan hidup kelak, dan ada pula tentang kapan akan menikah. Kuis itu seolah tuhan yang bisa menebak garis hidup seseorang. Dari mereka yang mengikuti kuis —yang tidak tahu juntrung kebenarannya— itu, ada yang meng-amini jika hasilnya baik, ada pula yang menganggap kuis itu beserta seluruh hasil yang terkandung di dalamnya hanyalah lelucon belaka, tetapi ada pula yang terlihat begitu putus asa, terlebih mengenai hal terakhir. Anehnya, yang sering mengikuti kuis itu, adalah perempuan.
Apakah begitu putus asanya seorang perempuan yang sudah menginjak usia 30 tahun tetapi belum menikah? Apakah di usia yang tidak mau dikatakan tua tetapi sudah sering pikun tersebut, belum juga menemukan jati diri? Baiklah, anggap saja orang yang mengikuti kuis itu sedang iseng, mumpung tidak ada bos di kantor. Tapi iseng kok sering?
Loh kok nyinyir?
Pernikahan memang menjadi teror bagi sebagian orang, baik perempuan maupun laki-laki yang masih melajang. Terlebih, ada anggapan bahwa perempuan kalau sudah terlalu tua tidak laku, “perawan tua” istilahnya, lalu malu jika seorang perempuan menyandang predikat “perawan tua”. Belum lagi, anggapan lain bahwa kalau terlalu lama, nanti tidak bisa punya anak. Tidak berhenti di situ, ada sebuah hukuman tanpa peradilan yang dijatuhkan kepada perempuan jika pasangan suami istri yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. “Perempuan mandul.” Duh, kasihan sekali jadi perempuan.
Tidak perlu malu jika menyandang “perawan tua” di pundak. Malahan seharusnya bangga karena masih diberi kesempatan untuk menjadi “liar” dan pintar lebih leluasa. Masih bisa keluyuran sendiri tanpa harus sibuk menjawab pesan “kamu lagi di mana?”, “sedang apa?”, “bersama siapa?”, “sudah makan belum?”, “kok tidak angkat telepon?”, “kamu di mana sih?”, “kamu tahu tidak sih kalau aku… ah?”, dan blab bla bla yang panjang sekali. Di beberapa saat, mendapati diri kita dalam kesendiran itu menyenangkan. Kita juga semakin mengenali diri sendiri, jadi tidak usah menggantungkan hidup kepada kuis. Kadang kala, menjadi Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta asyik juga.
Perihal anak, kata siapa anak itu harus lahir dari rahim sendiri? Selalu angkat kedua topi kepada perempuan-perempuan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, dalam hal ini, biologis. Hal itu tidaklah mudah. Tidak perlu bertanya apa alasannya, kita hanya perlu untuk menghormati.
Anak-anak di panti asuhan punya hak yang sama sebagai manusia. Mereka yang terasingkan oleh keluarga sendiri atau diasingkan oleh keadaan berhak mendapatkan kasih sayang orang tua.
Pertanyaan “kapan menikah” yang sering dilontarkan para orang tua saat hari raya juga menjadi sebuah beban mental. Bukannya kita bergembira menjalin silaturahmi, tetapi malah ada rasa ketakutan menjelang hari raya, mempersiapkan hati tebal se-tebal 25 cm seperti dinding rumah-rumah belanda, menjawab teror yang menerkam, meradang, dan menerjang bagai puisi Chairil Anwar.
Pernikahan memang sebuah legalitas awal manusia untuk ber-anak pinak, membentuk keluarga, merunut silsilah, dan menciptakan peradaban. Tetapi, pernikahan bukan sebuah prestasi. Tidak menikah pun bukan sebuah aib. Bukan berarti pernikahan itu tidak penting, malahan pandanglah pernikahan itu sesuatu yang sakral. Bayangkan, mengucap janji kepada Tuhan. Menikah satu kali saja seumur hidup, maka jangan sembarangan supaya tidak menyesal. Pernikahan juga tidak bisa menjadi ukuran kebahagiaan seseorang, tetapi jadikan pernikahan itu hal yang bisa membuat bahagia. Lagi-lagi, angkat topi untuk perempuan-perempuan yang memutuskan tidak menikah.
Ada orang bilang supaya jangan pilih-pilih cari pasangan. Mbelgedhes! (Saya sebenarnya ingin mengumpat kata lain, tapi itu jorok). Pasangan ya harus dipilih, sama seperti memilih teman. Kadang kita merasa, semakin bertambahnya usia biasanya lingkup pertemanan semakin terbatas, karena prioritas, kesibukan, dan banyak hal lain. Bisa dihitung dengan jari siapa saja teman yang masih berkomunikasi secara dekat dengan kita. Itu sangat manusiawi. Tidak perlu khawatir kehilangan banyak teman, bertemanlah dengan orang-orang yang bisa memberi energi positif.
Kita berhak memilih. Misalnya saja, sebagai perawan tua akhirnya “ditembak” juga oleh lelaki, tetapi si perawan ini merasa tidak suka, tidak cocok, dan tidak nyaman. Ya sudah, jangan diterima. Jangan karena keinginan memiliki pasangan yang begitu besar seperti bahtera Nuh lalu menerima gombalan seorang lelaki. Jangan se-putus asa itu lah. Mau garing seumur hidup?
Sebagai perempuan, seharusnya memiliki kesadaran penuh akan kulitas diri sendiri terlebih dahulu, hal yang menjadi dasar untuk mencari kualitas pasangan, harus punya kriteria. Bukan secara fisik, tetapi lebih kepada pribadi, misalnya nyaman diajak ngobrol, membahas ini-itu secara serius atau hanya guyon, atau melakukan kekonyolan bersama dan menertawakan kekonyolan itu. Bahkan, kalau sudah cocoknya mengalahkan sepasang sepatu, hanya lihat-lihatan saja bisa tertawa. Itu cocok atau gila?
Seperti yang dikatakan tadi, pernikahan itu sekali seumur hidup. Jadikan kehidupan setelah akad pernikahan itu menjadi sesuatu yang bermakna dan membuat kita menjadi pribadi yang berkembang bukan malah menurun. Saling mendukung satu sama lain, bisa memberi masukan-masukan, dan bisa berkomunikasi dengan nyaman dan nyambung, membiacarakan banyak hal, itung-itung bisa berkarya bersama. Masalah sukses, belakangan saja, biar orang lain yang menilai. Tidak sukses pun tidak apa, tidak akan gila. Yang penting jangan pernah menyesal karena pernikahan. Hapus semua pandangan bahwa seseorang dikatakan mapan jika sudah menikah. Mapan itu apa sih?
Perempuan itu dilahirkan dengan naluri dan hati yang lembut, penuh dengan pertimbangan, dan itulah yang membuat perempuan menjadi sosok yang kuat. Kalau diibaratkan sebuah bangunan rumah, perempuan itu adalah tiang-tiang kolom rumah yang bisa membuat berdiri. Kolomnya ambruk, ya rumahnya ikut luluh lantah. Perempuan itu juga harus pintar, kerena dengan pintar, kita bisa menghadapi segala sesuatu yang serba patriarki.
Jangan letih untuk belajar. Belajar bisa dari mana saja, buku, film, musik, bahkan traveling. Benar jika ada pepatah mengatakan buku adalah jendela dunia. Siapa yang bisa menyangka bahwa hanya dari buku roman kita bisa belajar sejarah yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Apa yang kalian ketahui soal Kartini di sekolah dulu? Dia hanyalah pahlawan emasipasi perempuan Indonesia. Itu saja. Emansipasi itu apa sih? Coba bacalah buku Pramoedya, kalian akan tahu siapa Trinil itu seseungguhnya, apa yang menjepitnya sehingga ia melawan dengan pena. Kalian akan tersadar, seorang perempuan akhirnya bisa menjadi arsitek, jurnalis, atau dokter adalah hasil perjuangnya, ada sosok-sosok seperti Susi Pudjiastuti dan Sri Mulyani. Kalian akan mengerti, bahwa Kartni adalah seorang gadis yang memiliki pemikiran lebih maju melampaui masanya. Kartini membuat perempuan punya pilihan, jika saja ada seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga itu karena pilihan hidupnya, tidak ada satu orang pun dapat menghakimi. Buku membuat kita menjadi pribadi yang cerdas dan kuat.
Kita juga dengan mudah menangkap pengetahuan dari sebuah musik dan film. Kita bisa belajar mengenai sebuah generasi, budaya, dan pergerakannya melalui film Easy Rider atau 24 Hours Party People. Kita juga bisa belajar sejarah dengan mudah melalui film GIE atau Banda The Dark Forgotten Trail. Musik dan film, mengajarkan kita menjadi pribadi yang menghargai proses, menjadikan kita pribadi yang dinamis.
Lalu, berjalan-jalanlah. Mendatangi tempat-tempat baru di pelosok negeri, menanjak gunung, menyelam, bisa memperkaya batin kita. Bertemu dan berbincang dengan penduduk lokal yang hidup jauh dari kota bisa memberi pemahaman lain tentang manusia. Alam yang lugas dan manusia yang begitu sederhana dan jujur itu menjadikan kita manusia yang seutuhnya dan menghargai kehidupan lebih dari apa pun; humanis.
Buku, musik, dan travel, adalah hal-hal yang bisa membuat kita tersadar, begitu beruntungnya kita masih bisa menikmati itu lebih dari orang lain. Masih bisa diberi kesempatan untuk “liar” dan pintar. Cakrawala itu terlalu luas jika kita hanya diam dan tidak berbuat apa-apa menunggu pujaan hati datang dan memikirkan kapan nikah.
Dengan menjadi perempuan yang memiliki kecerdasan dinamis dan humanis, kita bisa menghadapi teror yang mengoyak sepi —lagi-lagi bagai Chairil Anwar, bisa menegakkan dagu menyambut hari raya dan menjawab dengan baik pertanyaan “kapan nikah?”, “kapan punya anak?”, “kapan gendong cucu?”, atau bahkan “kapan mati?”. Pertanyaan yang seolah tidak akan pernah habis. Bisa memutus segala mata rantai predikat negatif perempuan lajang dan tidak lagi merasa putus asa. Isi hari-hari lajang dengan hal-hal kreatif, otak bisa lumutan kalau kita tidak mendatangi pameran buku, menonton film di bioskop dan menonton konser musik, dan bisa-bisa depresi kalau tidak sering jalan-jalan. Barangkali, bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat dan negara. Barangkali lho ya.
Jadi, santai saja, Sis, yang penting rekening.
Tidak usah iri dengan orang lain yang sudah menikah atau mapan. Belum tentu mereka lebih baik dan lebih bahagia. Setiap orang punya zona waktu sendiri-sendiri. Ada orang yang menikah di umur 25 lalu bercerai di 35, ada yang menikah di umur 45 tetapi menghabiskan seumur hidupnya bersama. Ada pula orang yang sudah mapan di usia 35 dan meninggal pada 65 tahun, tetapi ada pula orang yang baru bisa mapan di usia 55 dan meninggal pada 95. Lagi-lagi, mapan itu apa sih?
Tuhan tidak pernah salah dan selalu tepat pada waktuNya. Tidak ada kata terlalu cepat dan tidak ada pula istilah terlambat. Nikmati waktumu, nikmati tubuhmu, nikmati hidupmu. Berdamailah dengan dirimu sendiri, wahai perempuan.












