Kata “nyinyir” sebenarnya bermakna sama dengan cerewet. Sifat nyinyir seringkali dikaitkan dengan ibu-ibu dan nenek-nenek. Akan tetapi, dewasa ini kata “nyinyir” lebih sering digunakan untuk menggambarkan sifat suka mengomentari kehidupan, tindak tanduk, ataupun sifat orang lain. Berhubung penggunaan bahasa adalah kesepakatan bersama, apakah sebaiknya tim penyusun KBBI memperbaharui makna kata “nyinyir” dalam penyusunan edisi selanjutnya?













