Wanita difoto ini bernama Rusnani, aku biasa memanggilnya Ibu. Ia lahir di Purworejo, 1 Oktober 45 tahun silam. Ia dilahirkan dari keluarga petani yang sederhana di sebuah desa yang jaraknya sekitar 40 menit dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari lahir ia sudah hidup sederhana bersama keenam saudara kandungnya. Fisiknya saat ini memang terlihat seperti ibu-ibu pada umumnya, tapi saat ia masih duduk di sekolah dasar ia sering memanjat pohon kelapa untuk kemudian hasilnya di jual dipasar. “Lumayan buat jajan”, katanya. Kehidupan masa kecil dan mudanya berbeda dengan apa yang kurasakan saat ini. Jadi, jika seorang Rizky Ariningtyas bisa makan, tidur dan sekolah dengan enak, itu semua berkat usaha kerasnya dan juga bapak.
Sejak kecil, ia bisa dikatakan sebagai gadis yang tomboy, rajin dan pemberani. Ia menyelesaikan sekolah menengah pertamanya disalah satu sekolah terbaik di kota itu dengan hasil yang baik, lalu kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru Olahraga –saat ini setara dengan SMK- dimana mayoritas muridnya adalah laki-laki. Ia menamatkan pendidikan di sekolah olahraga itu dengan nilai yang memuaskan, tidak kalah dengan teman laki-lakinya. Mengenyam bangku sekolah dimana murid laki-laki adalah mayoritas, membuat ia memiliki banyak teman laki-laki, tapi ia hanya memiliki satu orang pujaan hati yang lantas sekarang kupanggil dengan sebutan ‘Bapak’.
Ibu adalah orang yang gesit, cekatan, mandiri, berani, sederhana, cuek, dan ramah. Ia mudah akrab dengan banyak orang, tidak heran jika ia memiliki banyak teman. Ia kini memiliki 3 orang anak perempuan yang tentu saja memiliki karakter berbeda. Dalam mendidik anak-anaknya, ia selalu menerapkan prinsip ‘Semuanya Punya Allah’. Ia mengajarkan kesederhanaan dan selalu menekankan kejujuran dan kemandirian. Ia selalu menasehati anak perempuannya agar menjadi pribadi yang cekatan dan mandiri, harus bisa dan terbiasa melakukan banyak hal supaya tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Prinsip demokrasi berlandaskan agama ia terapkan juga dalam mendidik anak-anaknya di dalam rumah. Ia tidak pernah memaksakan apapun kepada anaknya. Anak-anaknya diberi kebebasan untuk memilih, tugasnya hanya sebagai advisor dan controller. Syarat yang ia berlakukan untuk mendapatkan kebebasan tersebut adalah nilai sekolah yang baik dan tidak pernah meninggalkan shalat. Terlihat sederhana, bukan? Tapi jujur saja, untuk mendapatkan nilai sekolah bagus itu tidak mudah. Setidaknya untukku.
Jarak umur kami sekitar 24 tahun, tapi terkadang kami sering mengolok-olok satu sama lain. Selain itu, ia adalah salah satu orang yang sering ku ajak bercerita tentang banyak hal. Kami sama-sama suka berbicara, ya walau porsiku justru lebih banyak. Obrolan kami tak terbatas. Aku sering bercerita tentang sekolah, kegiatan, makanan, teman-teman bahkan tentang laki-laki yang dekat denganku. Iya, sebagai sesama wanita kami sering bertukar cerita tentang laki-laki. Ia selalu berpesan untuk tidak mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah. “Sama ibu juga jangan sayang-sayang banget, jadi nanti kalau ibu meninggal jadi lo gak sedih-sedih amat,” tambahnya. Selain itu kami berdua memiliki kesukaan mendengarkan musik. Aku mulai mengenal MLTR, Michael Jackson, Westlife, Celinedion, Koes Plus dan Scorpion ketika umurku menginjak 4 tahun. Sekarang giliran aku yang mengenalkan lagu-lagu dari One Direction, Simple Plan, Coldplay, Demi Lovato, Taylor Swift, dll kepada ibuku. Kami berdua bukanlah tipikal orang yang romantis, yang pandai mengungkapkan kata-kata puitis penuh cinta. Tanpa kata-kata puitis, kami berdua tahu bahwa kami saling mencintai dan mendoakan satu sama lain.










