Halo selamat malam, Kapt!
Semoga kau masih mengizinkanku menggunakan panggilan itu, tapi kujanji ini akan jadi yang terakhir. Maaf mengganggu kesibukanmu, tapi sempatkanlah 10 menit waktumu untuk membaca suratku untuk yang terakhir kalinya ini :)
Aku tak tahu bagaimana aku harus memulai isi surat ini. Saat ini aku sedang mendengarkan sebuah lagu dan tiba-tiba teringat padamu. Hanya ingat, tidak lebih. Mengingatmu secara tiba-tiba lantas membuat jemariku ingin menari-menari dan inilah yang kulakukan, menulisakanmu sebuah surat (lagi) untuk yang terakhir kalinya. Jujur aku tidak suka kata akhir, bagaimanapun bentuknya. Tapi kurasa inilah kata yang pas untuk kutuliskan.
Baiklah aku tidak tahu apa yang akan kutulis, jadi mari kita mulai dengan bertanya kabar. Bagaimana kabarmu, kapt? Aku yakin kau baik-baik saja dan tentu bahagia dengan wanitamu. Oiya, tentang kau dan wanitamu, aku belum sempat mengucapkan selamat dan meminta pajak hehehe. Belikanlah aku sekotak susu sebagai tanda perpisahan dan pajak jadian kalian hehehe :p
Entah kau ingin tahu atau tidak, tapi akupun baik-baik saja, sama seperti dirimu. Akupun bahagia dengan semua yang sedang kulakukan, sama bahagianya sepertimu saat ini. Entah kau peduli atau tidak, tapi aku tidak pernah lagi menangisimu, bahkan saat aku tahu kau sudah memiliki seorang wanita disisimu. Entahlah, tapi aku merasa lega saat kau memiliki kekasih. Jangan tanya kenapa karena akupun tidak menemukan alasannya.
Kurasa ini tepat satu tahun kita berhenti berkomunikasi. Aneh memang, kita seperti mengakhiri sesuatu yang bahkan tidak pernah kita mulai. Kau seperti pergi menghilang, padahal kau tidak pernah tingga. Sampai detik ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kita. Mereka bilang kau pergi, tapi aku tahu kau tak pernah tinggal karena aku bukan rumahmu. Kau tak pernah menjadikanku rumahmu,bahkan berniat menetap pun tidak, kau hanya berkunjung sejenak. Mereka bilang kau meninggalkanku, tapi kurasa kaupun tak punya tanggung jawab untuk tetap berada di sisiku dan menjagaku. Maka untuk segala kerumitan dan apa yang mereka katakan, aku mohon maaf dari lubuk hati yang terdalam.
Sesungguhnya di dalam kepalaku tertimbun jutaan tanda tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Di kepala (dan hati) ku tertimbun pula milyaran kata yang ingin kusampaikan padamu, tapi kemudian aku sadar bahwa tanda tanya itu tidak akan mengubah apapun antara kita. Mau kubiarkan itu semua lenyap dihempaskan oleh waktu. Pertanyaan dan kata-kataku itu mungkin tak lagi ingin kau dengar karena kau sudah terlanjur memberikan jarak yang terlampau jauh di antara kita. Kita sudah berjarak cukup jauh, terlalu jauh, bahkan sangat jauh. Aku bahkan tidak mengerti kenapa kita bisa berjarak sejauh ini. Untuk jarak yang sudah terlampau jauh ini, kuminta kau untuk tidak terus menjauh. Kurasa ini sudah cukup, lagipula aku tidak akan mendekat padamu (dan wanitamu) jika kau tak mengizinkanku. Aku menagih sebuah hal yang sering kau katakan tentang yang dinamakan silaturahmi. Aku rasa kau tahu bahwa itu penting, bukan?
Oiya aku lupa untuk mengatakan ini, tapi semoga kau tidak kecewa mendengarnya. Aku tidak sungguh-sungguh menghapus foto-foto kau dan aku. Iya, aku memang menghapus fotomu tapi aku tidak menghapus fotoku yang berada di sampingmu. Kurasa aku tak perlu menghapusnya, bukankah kenangan itu tidak perlu dihapus? Ia hanya perlu ditutup rapat-rapat dan disimpan dengan rapi, sebagai penanda bahwa kisahnya pernah ada. Mungkin kelak akan kutunjukkan foto kau dan aku kepada anak-anakku, sebagai tanda bahwa kau pernah hadir sesaat dalam hidup ibu mereka. Boleh kan?
Untukmu yang pernah membuat hatiku berbunga, selamat berbunga-bunga dengan wanitamu. Aku turut bahagia untukmu, karena itulah yang selalu kuinginkan. Jangan lupa untuk terus melakukan hal yang dapat membuatmu bahagia.
Untukmu yang pernah sangat kupercaya, terimakasih telah mengajarkanku untuk lebih berhati-hati menitipkkan hati.
Dan untukmu yang pernah kucintai, dulu aku menyayangimu sepenuh hati. Jika kau berharap aku membencimu, maka kau boleh kecewa karena sedikitipun tidak pernah aku berniat untuk membencimu. Kecewa, iya. Marah, iya. Sedih, iya. Tapi tidak lebih dari itu. Dulu aku mencintaimu sepenuh hati, tapi kurasa sepenuh apapun cintaku itu tidak akan pernah cukup untukmu. Maka, aku berhenti. Kelak kau akan menemukan seseorang yang akan membuat merasa cukup dicintai, dan tentu saja itu bukanlah aku.
Satu lagi, aku dan juga kau belum sempat mengatakan salam perpisahan, the worst goodbye is the one that never said or never explained. Jadi dengan surat ini, aku ingin mengucapkan selamat tinggal, Kapt! Terima kasih banyak telah menorehkan tinta berbagai warna di dalam buku kehidupanku. Terima kasih banyak telah memberikanku banyak pelajaran berharga. Sungguh aku banyak belajar makna kesabaran darimu. Mohon maaf karena tidak pernah bisa menjadi teman yang baik. Mohon maaf juga untuk semua kesalahan yang kuperbuat.
Semoga kau selalu bahagia.