Novel: Hujan
Tentang persahabatan. Tentang Cinta. Tentang Melupakan. Tentang Perpisahan. Tentang Hujan
---
Baru saja aku menyelesaikan satu novel, dari sekian banyak list buku yang ingin dibaca. Akhirnya ada yang selesai juga. Rasanya sepert flashback mengenang hobi masa lalu yang beberapa waktu kebelakang sempat pudar dan teralihkan oleh riuhnya dunia maya dalam jiwa smartphone. Dan ya, aku mendapatkan pengalaman itu kembali. Sebuah fantasi tentang sosok lain yang aku telusuri dalam setiap halaman dan kata yang tertulis. Seakan menjadi orang lain.
Novel ini adalah sebuah novel lama karta Tere Liye yang bahkan sudah pernah aku lihat covernya sejak masuk asrama di tahun 2015 lalu. Dan baru 2019, tepatnya hari ini aku selesai membacanya. Sebuah novel yang manis dan sedikit membuat sesak, karenanya aku tuliskan agar suatu saat bisa aku baca kembali resensinya.
---
Lail adalah tokoh utama dalam cerita ini, seorang anak berusia 16 tahun kala itu, saat bencana alam berhasil membuat hidupnya berbalik 180 derajat. Bencana itu membuat ia menjadi seorang yatim piatu, pada saat yang bersamaan, ia kehilangan Ibu di kereta bawah tanah, dan kehilangan Ayah di suatu kota yang sudah pasti tersapu sempurna oleh bencana. Bersyukur, di tengah goncangan keras di kereta bawah tanah ia bertemu dengan Esok, seorang anak laki-laki dengan usia 2 tahun lebih tua dari Lail menyelamatkannya. Esok menjadi sosok kakak yang senantiasa mejaga Lail saat Lail merasa sudah tidak punya apa-apa. Saat Lail berada di titik terlemah dalam kehidupannya.
Esok juga ditinggalkan, ia ditinggalkan oleh keempat orang kakaknya pada goncangan hebat di kereta bawah tanah. Kini ia hanya bersama Ibu, beruntung Ibu Esok masih selamat di Toko Kue, namun dengan sepasang kaki yang tak lagi dapat menapaki bumi.
Masa-masa pemulihan setelah bencana bukan hal yang mudah, mereka terbiasa hidup di pengungsian. Tapi tidak apa, Lail bersyukur memiliki sosok kakak seperti Esok yang selalu bersamanya. Sampai sekitar satu tahun, kehidupan masyarakat mulai bangkit kembali, setiap orang belajar untuk membangun kembali kehidupan seperti sedia kala. Termasuk Esok, karena kecerdasannya, Ia diadopsi oleh Wali Kota untuk tinggal dan diberi pendidikan terbaik olehnya, juga Sang Ibu, akan diobati dengan teknologi pengobatan terbaik yang pernah ada. Tentu siapa yang tidak ingin? Bagian tersulit adalah menyampaikan kabar perpisahan pada Lail. Tidak mudah memang, tapi bersyukur Lail bisa menerima dengan baik.
Selepas Esok pergi ke Kota, Lail dan pengungsi lain dipindahkan ke asrama pembinaan. Disana kehidupan menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan pengungsian. Satu hal lain yang Lail syukuri adalah ia dipertemukan dengan Maryam. Gadis dengan rambut kribo yang kemudian menjadi pengutuh dalam cerita novel ini. Maryam adalah seorang gadis petualang, di asrama semula ia mengambil ekskul membuat kue dengan Lail, namun ia bosan dan memilih untuk mendaftar jadi Relawan Organisasi. Saat itu, negara masih dalam kondisi sulit pasca gunung meletus dua tahun lalu, sehingga relawan masih banyak dibutuhkan di beberapa sektor, terutama sektor 1-3. Lail dan Maryam menjadi relawan termuda, dua orang gadis dibawah usia 18 tahun berhasil masuk jajaran relawan hingga kemudian atas pengorbanan dan dedikasinya mereka diberi Penghargaan Relawan Tingkat Pertama.
Sudah lama sekali sejak Lail tidak bertemu dengan Esok. Ada rindu yang hadir, namun seringkali ia tepis, karena ia bukan siapa-siapa. Kenapa ia harus mengharapkan? Logikanya begitu. Tapi perasaannya menolak, ia terus berharap dan harapan itu yang membuat ia hidup. Esok adalah sosok terpenting dalam hidupnya saat ini. Untuk mengurangi kerinduan dan pikiran macam-macam mengenai Esok, Lail senang mengisi waktu kosongnya dengan berbagai kesibukan. Baginya itu baik, terutama untuk perasaannya.
Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa.
Beberapa orang menyukai hujan, termasuk Lail. Percakapan antara Lail dan Maryam membuat aku pribadi mengiyakan dalam hati kenapa hujan seindah itu untuk dinantikan, kira-kira begini katanya
“Lail, kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun?” “Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” Itu masuk akal. “Nah, itulah kenapa kamu selalu suka hujan selama ini. Aku sekarang paham. Karena setiap kali menatap hujan, kamu bisa mengenang banyak kenangan bersama, baik itu hal indah ataupun tidak.”
Bukan hal yang mudah untuk Lail menyimpan perasaan pada Esok. Esok pun sama. Lail terus bertumbuh, begitu pun perasaannya. Esok sesekali memberi kabar lewat telpon, sesekali. Lebih dari itu, mereka bertemu disaat libur semester. satu kali dalam satu tahun, pertemuan itu rasanya berharga, meski 1 jam tidak sebanding untuk menumpuk rindu satu tahun kemudian. Esok memang sibuk, ia menjadi pemuda dengan kemampuan brilian. Di kampus ia terlibat dalam proyek nasional juga rahasia untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim yang ekstrim. Hal ini membuat Lail tahu diri, bahwa Esok sedang berjuang untuk esok. Beruntung, Maryam selalu tahu apa yang sedang terjadi pada temannya, berkali-kali Maryam menemukan Lail sedang melamun atau bahkan berdiam diri. Maryam selalu jadi teman yang baik untuk berbagi cerita,
“Kamu tahu, Lail, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta jika mengalaminya..
“Kamu tahu, Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga tentang menunggu, Lail, Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu...”
Namun pada bagian menunggu, biar aku tambahkan ungkapan seorang teman yang sampai saat ini masih disimpan dalam catatan,
Jangan menunggu waktu yang tepat. Karena waktu tidak akan pernah tepat untuk orang yang menunggu. Ah bagian ini seringkali aku akui itu benar.
Pada masa ini, Maryam selalu menggoda Lail. Begitupun saat Maryam sedang membaca buku kemudian ia menggoda Lail dengan sebuah penggalan kalimat yang ia pikir cocok untuk jadi gurauan bagi Lail,
“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.”
Selepas membaca kutipan itu, lagi-lagi aku mengangguk tanpa komando. Seakan membenarkan kalimat tersebut. Bahwa orang-orang yang hadir akan mengalami seleksi alam, ada yang tetap tinggal dan ada yang memutuskan untuk pergi. Lebih sedikit lagi dari yang tinggal tersebut adalah yang menetap dalam hati dan tinggal dalam hidup kita. Tentu tidak mungkin semua orang tinggal dalam hidup kita, terlalu riuh. Beberapa hanya datang untuk transit, bukan untuk menetap.
Tak terasa, Lail sudah ditingkat akhir perkuliahan, ia bahkan sudah resmi memiliki lisensi perawat. Pada suatu kondisi, Lail dihadapkan pada saat terberat setelah kehilangan orang tuanya, yakni kehilangan Esok. Sebentar lagi akan ada kapal yang mengangkut 10ribu penduduk negara untuk tinggal di luar angkasa mengingat kondisi bumi yang sudah tidak aman untuk ditinggali. Keputusan ini juga didasari pelestarian manusia, bahwasanya manusia tidak boleh punah. Ia perlu mencari suaka.
Hanya 1 orang dari 50 ribu yang akan berangkat meninggalkan bumi. Esok sebagai salah satu tim perancang tentulah jadi salah satu diantaranya. Namun tidak dengan Lail. Tepat sebelum kapal itu berangkat beberapa jam lagi, Lail akhirnya menyerah. Ia tidak siap untuk ditinggalkan oleh Esok. Akhirnya ia pergi ke pusat saraf untuk menggunakan teknologi modifikasi ingatan. Disana ia bertemu dengan seorang perawat bernama Elijah. Sudah menjadi bagian dari prosedur disana bahwa sebelum ingatan itu dihapus, maka seseorang perlu memetakan terlebih dahulu pengalaman dan kenangannya. Pada kenangan tersebut ia akan terkategorisasi menjadi kenangan bahagia (berwarna biru), biasa aja (kuning), dan kenangan menyedihkan (merah). Pada titik merah lah, Lail ingin menghapus kenangannya. Kehilangan dan perpisahan adalah dua topik utama dalam kenangan berwarna merah Lail. Meski hal ini dianggap sebagai solusi, sebelum prosedur dimulai, Elijah kembali mengingatkan Lail,
“Ratusan orang pernah berada di ruangan ini. Meminta agar semua kenangan mereka dihapus. Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”
Mendengar hal ini, Lail menjadi teringat perkataan Ibu Esok di Toko Kue beberapa waktu kebelakang,
“Kita selalu dipertemukan dengan kehilangan. Tapi tidak mengapa. Toh semua akan kalah oleh waktu. Ibu belajar banyak bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri.”
Dengan jawaban mantap akhirnya prosedur modifikasi ingatan itu dilakukan. Jika hal ini berhasil. Maka secara sempurna semua memori yang menyedihkan akan terhapus, termasuk memori tentang Esok. Lail ingin menghapusnya.
---
Novel ini menghadirkan plot twist yang luar biasa menarik. Perlu membaca keseluruhan cerita agar tau bagaimana akhir kisah Lail dan Esok. Sebuah novel yang bagus sekali, terutama bagi orang-orang yang memaknai lebih dalam makna perpisahan, kehilangan dan melupakan. Dengan novel ini rasanya saya seperti dinasihati akan banyak hal. Seperti diingatkan akan banyak hal. Membawa sebuah memoar yang hangat kembali masuk ke dalam dada, membungkus kenangan-kenangan dalam bentuk yang lebih baik untuk diterima.
Mari kita tutup ulasan ini dengan mengutip ungkapan terakhir dari Maryam,
“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.”
Terima kasih Tere Liye! Terima kasih Zafira Zahrah atas bukunya :)
Sabtu, 26 Oktober 2019
















