Buat apa juga berusaha sempurna demi orang lain? Manusia harusnya bisa menghargai dirinya sendiri.
Versha, Nona Teh dan Tuan kopi
[Karna beberapa hal harus dimulai dari bagian terkecil, dari diri sendiri.]

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from Australia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Spain
seen from Malaysia
seen from China
seen from France
Buat apa juga berusaha sempurna demi orang lain? Manusia harusnya bisa menghargai dirinya sendiri.
Versha, Nona Teh dan Tuan kopi
[Karna beberapa hal harus dimulai dari bagian terkecil, dari diri sendiri.]
Honest Review for Nona Teh dan Tuan Kopi: Parak by Crowdstroia
Gue mau jujur di sini. Like, jujur sejujur-jujurnya tentang tulisan gue.
Parak itu buat gue pribadi kayak bukan apa-apa dibanding Arkais.
Bukannya gue nganggep jelek, sih. Tapi... ya gitu. Masih mentah. Gue aja kaget ternyata ada yang suka. Paling kaget pas gue di kampus ketemu teman dari fakultas lain, tiba-tiba dia teriak udah baca Parak dan nungguin banget Arkais terbit. Like, wow, gue kaget cerita dengan skill tulisan gue yang cupu itu bisa disukain orang. Maksudnya, bukannya meremehkan diri sendiri. Tapi yah... gimana ya jelasinnya. Kayak, lo udah tiga tahun nulis rutin dan tiba-tiba lo baca cerita lo tiga tahun lalu, terus lo spontan, “Buset gue alay banget, apaan nih drama abis, apa sih tulisan sok asik ini mah” atau semacamnya. Dan gue yakin ini normal dialami penulis-penulis lain. Soalnya, gue juga ngalamin ini ketika ngelihat gambar-gambar gue semasa SD dan membandingkannya dengan gambar gue sekarang. Kayak geli sendiri gitu hahaha.
Makanya pas waktu editing Parak itu kayak... gue bingung harus gimana. Kalau mau ngikutin keinginan terdalam sih, gue mau nulis ulang aja semua dari awal. Tapi, gue tahu itu makan waktu, dan sebenarnya nggak terlalu worth it juga buat gue untuk stuck di karya-karya lama. Dalam arti, iya gue tahu itu masih banyak kekurangan. Teh dan kopi di Parah berasa cuma tempelan, Regen rada kekanakan, beberapa hal nggak masuk akal (karena pas SMA itu gue rasanya mau masukkin semua ide yang muncul di NTdTK, nggak gue pilah-pilih dulu mana yang oke dan mana yang kurang cocok). Gue bisa aja ngubah cerita dalam arti gue tulis ulang, tapi ntar bakal makan banyak waktu. Kalau kata mbak Shireishou, pada akhirnya nggak ada tulisan yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah tulisan yang sudah selesai. Jadi... gue memilih untuk merelakan Parak beserta segala “kekurangannya”. Karena kekurangan-kekurangan ini at least mengingatkan gue bahwa karya pertama gue nggak bisa langsung sempurna. Seenggaknya pembaca gue juga bisa sadar bahwa tulisan gue berkembang secara bertahap, nggak seketika bagus.
But Arkais is a different case, tho.
Gue kayak... merasa mengalami pendewasaan diri sebelum menulis Arkais. Alasan gue bikin Taklik di Wattpad itu karena gue egois. Gue tuh mau nulis cerita tentang pernikahan tapi yang angsty, dan gue rasa Varsha dan Regen bisa jadi medium. Oleh karena itu gue bikin Taklik yang nyambung dari ujung konflik Arkais. Cuma, setelah gue pikir-pikir, itu jatohnya gue menulis sesuai keegoisan gue, bukan sesuai karakterisasi para tokoh.
Itulah kenapa, Arkais is a different case.
Cara gue memandang sesuatu sekarang dengan cara gue di masa tiga tahun lalu itu udah beda. Di SMA, gue masih kepengaruh standar masyarakat. Masih mikir tokoh utama wanita karier yang belum menikah itu belum bahagia karena belum menemukan belahan jiwa dia. Si tokoh utama wanita karier ini merasa kosong, dan kekosongannya belum diisi oleh lelaki cinta sejati dia.
Gue yang sekarang nggak suka dengan premis kayak gitu.
Karena, hidup ini bukan cuma perkara cinta asmara. Kita bisa kok, hidup bahagia as a single. Kebahagiaan itu bisa datang dari mana aja. Ada keluarga, ada teman, kita juga bisa appreciate ourselves dengan melakukan hobi, dress nicely, berpetualang ke tempat yang belum pernah kita datangi, mencoba hobi baru, something like that. Appreciate every little thing in our life is the key to be happy. Bersyukur dengan apa yang ada, maka kita akan merasa kita hidup dalam kecukupan dan bahagia. Bahagia nggak melulu tentang cinta asmara. Makanya di sisi lain, gue merasa bersyukur gitu “NTdTK: Parak” baru bisa diterbitin beberapa tahun setelah ceritanya tamat, nggak seketika terbit setelah ditamatin di Wattpad. Karena di masa-masa gue menunggu Parak di-edit, gue merasa mengalami perkembangan mental LOL. At least gue udah keluar dari dogma standar masyarakat tentang kebahagiaan. Jadi konten di Parak versi cetak menurut gue udah lebih matang daripada yang versi Wattpad. Kalau NTdTK Parak versi Wattpad itu, gue suka tulisannya yang (mungkin) ngalir, tapi gue yang sekarang nggak akan suka kontennya yang terlalu menghamba cinta, yang menganggap seolah apabila Varsha belum menikah, maka dia sebenarnya merasakan kekosongan yang perlu diisi. Gue yang sekarang mungkin bakal tutup cerita NTdTK Wattpad versi 2013 di chapter kelima karena gue nggak suka isi kontennya.
Kalau bicara Parak, sebenarnya gue merasa it’s a good book, tapi bisa lebih baik karena masih banyak kekurangan. Seandainya gue pembaca baru cerita Crowdstroia, terus pertama baca karyanya Troia adalah Parak, mungkin gue bakal jujur kasih 2.5 bintang buat Parak. Cukup menghibur, tapi nggak cukup buat bikin gue merasa tercengang dan takjub.
Sementara buat Arkais?
Kita lihat nanti. Yang jelas, I put more effort for Arkais.
- Troia
Segenggam harapan sekejap tak tahu arah ia bingung untuk mengekspresikan jiwa tujuannya tak lagi ada hanya semangat yang menjadi modal utama segenggam harapan sekejap berhenti berpikir semula tak mau peduli pada takdir tapi ia mengerti apa yang harus ditelusuri sebuah badai yang selalu menghampiri segenggam harapan sekejap tak mau berjalan hanya seperti air di dalam kolam tak mau kemana-kemana karena seseorang yang ia anggap penting namun ternyata membawa kesedihan
terinspirasi dari novel NTdTK
NTdTK: Parak, Dibuang Sayang part #3
“Oh, ya, soal nama kopi yang belakangnya ‘o’ biasanya dicampur susu, saya mau meluruskan aja,” ujar Regen, membuat Varsha menoleh ke arahnya. “Betul, memang biasanya dicampur susu. Tapi, nggak semua nama kopi yang belakangnya ‘o’ itu pakai susu, contohnya americano sama espresso.”
Varsha menyipitkan mata, terlihat agak skeptis. “Americano sama espresso bedanya apa?”
“Kalau espresso itu kopi yang dikonsentrasikan, jadi bikinnya pakai alat atau mesin yang bisa atur tekanan, dan rasanya lebih ‘tebal’ dari kopi seduh biasa. Kalau udah dihidangkan, di bagian atas secangkir espresso ada foam berwarna keemasan yang namanya crema. Sementara americano itu espresso yang dicampur air panas.”
Bibir Varsha membentuk bulatan. “Pak Re suka banget sama kopi, ya?”
“Bisa dibilang begitu.” Regen membuka tutup kopi dalam papercup-nya agar panas yang tersimpan di dalam bisa keluar. Aroma kopi tercium nikmat di udara. “Tapi, saya lebih suka kopi yang pahit, sih. Kalau kopi kalengan dan botolan yang biasa dijual di minimarket itu rasanya kayak kopi mainan.”
“Kopi mainan,” ulang Varsha sambil terkekeh. “Sebenernya, saya juga lebih suka teh yang rasanya orisinal tanpa pakai gula. Ini saya beli karena emang lagi pengin yang segar-segar aja,” Varsha mengangkat minumannya.
“Itu green tea bukan, sih?” tanya Regen setelah mereka masuk lift, matanya menunjuk ke arah minuman yang Varsha genggam. “Matcha itu green tea, bukan?”
Varsha menatapi minumannya. “Hmm… iya dan enggak sih, Pak. Lebih tepatnya, matcha itu bubuk daun teh hijau, tapi bukan daun teh hijaunya.”
“Intinya, matcha itu teh hijau yang udah dijadikan bubuk?”
“Iya. Kalau kita mengonsumsi teh hijau, abis diseduh, daunnya jadi ampas. Sementara kalau mengonsumsi matcha itu sama aja kita mengonsumsi teh hijau secara keseluruhan, karena nggak ada ampasnya.”
“Ach so,” kepala Regen terangguk. “Kamu suka teh?”
“Bisa dibilang begitu,” jawab Varsha, membeo jawaban Regen tadi sambil tersenyum. Pintu lift pun terbuka di lantai yang mereka tuju. Varsha keluar duluan sebelum Regen, lalu berjelan ke arah wing yang sama. “Pak Re, VP[1] yang namanya Pak Aksel itu sekeluarga sama Bapak?”
Regen terdiam, tengah merangkai jawaban yang tepat untuk silsilah keluarganya yang agak rumit. “Let’s say, dia itu adik sepupu saya sekaligus anak dari Pak Hardana,” ujarnya, merujuk pada CEO perusahaan. Matanya lalu melirik Varsha. “Kenapa? Dia bikin ulah ke kamu?”
“Enggak, kok. Anaknya baik, tapi…,” Varsha melipat bibir, menimang kata yang tepat untuk mendeskripsikan Aksel, “dia sangat aktif.”
“Sangat aktif,” ulang Regen, tak bisa menahan senyum. “Itu cara kamu untuk bilang bahwa dia urakan?”
“Tapi, dia emang begitu. Playful, blak-blakan.”
“Iya. Tapi saya harap, hanya karena dia anak CEO, dia nggak semena-mena sama kamu sebagai atasannya.”
“Enggak, Pak. Aksel nggak sampai buat ulah yang bikin saya kerepotan.”
Regen hanya bergumam. Tak lama, mereka akhirnya sampai pada belokan menuju ruang kerja Varsha.
“Saya duluan ya, Sha. Auf wiedersehen[2],” ujar Regen.
Varsha mengangguk. “Auf wiedersehen.”
[1] Vice President: jabatan di bawah Head of Division
[2] Sampai jumpa
NTdTK: Parak, Dibuang Sayang part #4
Harusnya dia tidak tertarik kepada Regen. Biasanya pun, Varsha tidak pernah tertarik kepada pria seperti Regen, yang cenderung kaku, agak otoriter, dan terlihat banyak menyembunyikan sesuatu. Dia justru biasanya menghindari lelaki seperti itu, dan cenderung menjadikan lelaki seperti Regen teman saja. Varsha menyukai lelaki humoris dan terbuka. Regen jelas jauh sekali dari kriteria itu. Tapi, kenapa sekarang dia justru tertarik kepada Regen?
Varsha tak menampik. Regen memang memiliki karismanya sendiri. Tapi, dia sudah biasa bertemu lelaki seperti Regen. Bukankah pria seperti Regen itu tipikal?
NTdTK: Parak, Dibuang Sayang part #2
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Regen berbalik, lalu berjalan keluar. Sang perempuan mengerjap. Dengan tenang berjalan di belakang Regen menuju basement untuk mengambil mobil.
Ia mengamati punggung Regen di depannya, merasakan ketenangan asing yang meski terdengar mengagetkan, juga membuatnya merasa nyaman. Sudah bertahun-tahun Varsha bekerja kantoran, bertemu berbagai macam manusia dan atasan dengan ragam kepribadian. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang eksentrik dan mengerti bagaimana cara berurusan dengan mereka. Tapi, Regen, dia… ganjil. Varsha tak mampu menerka apa tepatnya yang membuat laki-laki itu terasa demikian. Impulsifnyakah? Atau auranya yang tenang dan seperti menyimpan sesuatu?
NTdTK: Parak, DibuangSayang part #1
Varsha ikut membawa mobilnya keluar kantor tak lama kemudian. Titik-titik air mulai jatuh di atas kaca mobilnya kala ia meninggalkan tempat kerjanya. Ia tak bisa melihat apakah sedang mendung atau tidak di atas langit yang kelam. Malam menghanguskan awan yang hanya bisa terlihat ketika ada cahaya. Langit yang merinaikan rintik kemudian menderaskannya. Menggebu menjadi badai. Petir merobek langit, menerangi malam dalam sekejap. Tanpa pikir panjang, Varsha menepi sejenak di dekat halte sampai hujan agak reda. Pikirannya agak berkabut.
Bertemu dengan Regen membuka sesuatu dalam dirinya yang selama ini ia simpan rapat. Hanya perlu satu pertanyaan—satu impulsivitas untuknya agar bisa teringat kembali. Varsha menggigit bibir, mencengkeram setir mobilnya, meletakkan dahi di atas setir. Matanya pedih dan rasanya, palu tak kasatmata memukul keras dadanya. Cangkang baja yang telah ia bangun pun tercakar, ada bunyi decitan nyaring di dalam sana.
Regen itu siapa?
Varsha ingin bercerita dan bertanya. Namun, satu-satunya orang yang dia butuhkan kini justru sudah tak ada lagi di dunia.
Mendadak, dia rindu ibunya.
NTdTK: Parak, Dibuang Sayang part #6
Sederhananya, ia tidak mau terseret sedemikian jauh.
Kali ini, Regen benar-benar mengambil langkah yang menurut Varsha riskan. Yang secara tak sadar membuatnya menginjakkan kaki di teritorial Varsha, dan akan sulit keluar tanpa merasa bersalah. Rasa takut menyergap itu sudah biasa. Tapi kali ini, rasa takut yang Varsha hadapi terasa lebih mencekak.
Varsha tidak mau terseret lebih dalam lingkaran hidup Regen. Karena itulah ia menghindar. Karena itulah ia menjauh. Dan karena itulah, ia tidak mau menemui Regen di Jerman.
Entahlah. Ia hanya... takut diseret lebih dalam.