Di Sudut Ruang
Pada suatu Senin sore, Aruna, memilih untuk bekerja dari sebuah kafe di Jakarta Selatan, menikmati kebebasan Work From Anywhere (WFA). Wanita berambut panjang tersebut duduk di meja sudut ruangan dekat jendela, agar dapat mengamati kerumunan di luar sambil menyeruput kopi kesukaannya.
Pandangannya tertuju pada orang-orang yang berlalu-lalang, membayangkan kehidupan mereka yang penuh misteri dan beragam cerita, berbeda dari kehidupannya sendiri.
Setelah beberapa jam tenggelam dalam pekerjaannya, Aruna merasa puas dengan hasil yang dicapainya. Ia mulai merapikan meja dan laptopnya, menyimpan laptop dan buku catatannya ke dalam tas. Ketika ia berdiri untuk meninggalkan kafe, sebuah suara familiar tiba-tiba memanggil namanya.
“Aruna!” seru seseorang.
Aruna menengok, mencari sumber suara. Dari antara kerumunan pengunjung kafe, muncul seorang laki-laki berkemeja abu-abu dengan senyum lebar dan penuh semangat. Itu adalah Adit, teman kuliahnya yang sudah lama tidak bertemu.
“Adit!” sahut Aruna, agak terkejut namun senang. “Hai, sudah lama enggak ketemu. Lagi apa di sini?”
Aruna meraih tangan Adit, bersalaman dengan hangat. Kemudian, ia kembali duduk dan mempersilakan Adit untuk duduk di kursinya.
“Lagi hangout aja, abis dari kantor, Na. Biasalah. Gue sama teman kantor ke sini. Itu, anaknya masih pesen kopi.” Adit menjelaskan sambil menunjuk ke arah barista yang sibuk membuat kopi. Adit adalah teman kuliah Aruna yang sekarang bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
“Oh iya? Sama teman atau teman?” Aruna bertanya dengan nada menggoda.
“Teman beneran, Na. Cowok, kok.” Adit menjawab dengan santai, lalu berdiri dan melambaikan tangan ke arah seorang pria yang sedang berdiri di antrian kasir.
“Wait, gue panggil dulu anaknya.”
Adit berjalan menghampiri temannya. Sementara itu, Aruna mengecek ponselnya untuk memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.
Tak lama kemudian, Adit kembali bersama seorang pria yang tampak familier bagi Aruna. Pria itu membawa secangkir kopi di tangan kanannya, dengan langkah yang mantap menuju meja mereka.
“Aruna, ini temen gue, namanya Ravi. Programmer juga, kita satu divisi.”
Aruna menoleh dan sedikit terkejut. Ternyata pria yang bersama Adit adalah Ravi, teman sekelasnya saat SMA. Wajahnya masih sama seperti yang Aruna ingat, dengan senyum yang manis yang khas dan mata lebarnya yang selalu tampak ramah.
“Hai, Aruna. Gue Ravi. Inget gue enggak?” Ravi menyapanya dengan senyum hangat sembari mengulurkan tangan untuk berjabat. Aruna meraih tangan Ravi sambil membalas pertanyaan Ravi dengan anggukan pelan.
Adit menatap kedua temannya dengan bingung. Melihat raut wajah Adit, Aruna kembali tertawa, sementara Ravi menyengir lucu, menampilkan gigi putih rapihnya.
Adit, yang masih belum menyadari, bertanya, “Kalian saling kenal?”
Aruna tersenyum dan mengangguk. “Iya, Dit. Dulu kita pernah satu kelas di SMA.”
“Wah, kenal deket berarti ya?” Adit berkomentar sambil tertawa.
Aruna kembali tersenyum dan melirik Ravi. “Enggak juga, gue cuma sebentar di SMA itu, cuma 6 bulan. Tapi kita sempat DM-DM-an ya, Rav, setelah lulus SMA? Tapi terus lost contact, soalnya IG gue sempet ke-suspend pas itu.”
Ravi mengangguk. “Oalah, IG lo suspended? Kirain emang deactive akun karena enggak mau contact sama gue lagi, Na.” Ravi berkata sambil tertawa kecil, merasa sedikit lega mengetahui alasan sebenarnya.
Mereka bertiga akhirnya bergabung dalam satu meja untuk berbincang-bincang, membicarakan hal-hal ringan sembari menikmati suasana kafe yang semakin ramai.
***
Setelah pertemuan itu, Ravi sering menghubungi Aruna. Mereka mulai bertukar pesan lebih sering, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.
Suatu hari, Ravi mengajak Aruna untuk bertemu lagi dengan dalih “WFA bareng” di sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat mereka pertama kali bertemu kembali.
Mereka duduk di sudut ruangan, dengan laptop dan secangkir kopi di meja untuk masing-masing. Awalnya, mereka berbicara tentang pekerjaan mereka. Namun, obrolan segera meluas ke topik lain yang lebih ringan, seperti musik yang mereka sukai. Kembali mengingat obrolan mereka sebelum lost contact.
“Na, masih suka Nirvana? Seinget gue, lo dulu suka banget sama Nirvana, MCR, apa lagi ya itu?” tanya Ravi sambil menyeruput kopinya. Ia teringat betapa bersemangatnya Aruna ketika berbicara tentang band-band favoritnya saat masih remaja.
Aruna tertawa kecil, mengingat masa lalu mereka. “Masih, kok. Sekarang selera musik gue tambah K-pop juga, sih.”
Ravi ikut tertawa. “Ternyata emang ya, semua akan Korea pada waktunya. Gue juga kok, Na. Selain musik-musik keras kayak dulu yang sering gue kasih ke elo, gue sekarang juga banyak nikmatin lagu Korea. Anyway, gue agak lupa, deh. Gue pernah tanya ke elo enggak sih, kenapa lo bisa suka lagu alternative-rock sampai pop-punk begitu, Na?”
Aruna merenung sejenak, mengingat masa-masa ketika ia mulai tertarik pada musik-musik tersebut. “Hm, kenapa ya? Gue lupa juga sih.” Aruna menyeruput kopi dengan pelan sembari membuang wajah sebagai upaya dalam menutupi kebohongan kecilnya.
Ravi menduga, “Gue tebak, karena pernah punya pacar dengan selera musik begitu ya?”
Aruna tertawa, pandangannya semakin mendalam, mengingat masa-masa remajanya. “Hahaha, kurang lebih begitu sih, Rav.”
“Gue sering nemu sih, kalo cewek kebanyakan memang begitu. Karena pernah punya mantan dengan selera musik begitu jadi kebawa.”
Aruna menggeleng, sambil tersenyum tipis. “Kalau gue lebih tepatnya karena pernah naksir sama cowok dengan selera musik yang begitu, Rav. Gue cari tahu selera musiknya, cari tahu di YouTube, eh ternyata gue suka juga musik yang alt-rock, pop-punk, metal, begitu-gitulah.”
Ravi tersenyum menggoda, menatap Aruna dengan mata memicing bermaksud meledek Aruna. “Oh ya? Teman kuliah lo ya, Na?”
Aruna menggeleng sambil tertawa pelan, “Hahahaha, kita putus aja obrolan yang itu, takut orangnya tahu.”
“Lah, kan kita berdua aja ini,” Ravi membalas dengan sedikit bingung.
Mendengar ucapan Ravi, Aruna menatap Ravi sambil tersenyum. Di balik percakapan ringan ini, ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai terungkap.
“Loh, Na.” Ucapan Ravi terjeda. Ia sedikit mengangkat alis kanannya, sembari menatap dalam retina Aruna.
“Na, yang lo maksud itu… gue ya?” Ravi akhirnya menyadari maksud ucapan Aruna. Raut wajahnya berubah, ekspresinya menyatakan keterkejutan dan senang menjadi satu hingga mimik wajahnya menjadi aneh.
Aruna tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri. “Rav, muka lo lucu banget. Iya, dulu gue naksir lo sih. Thanks ya, berkat lo, selera musik gue jadi keren banget gini.” Aruna sedikit menepuk tangan Ravi, mengungkapkan terima kasihnya melalui tepukan tersebut.
Ravi menggeleng-gelengkan kepala, menyadarkan diri dari rasa terkejut sekaligus senangnya mendengar pengakuan Aruna. “Na, kenapa enggak bilang sih? Dulu waktu jaman DM-DM-an itu, gue belum berani confess, Na. Lo tau sendiri, posisi gue belum kerja, gue saat itu juga belum kuliah, sedangkan lo udah kuliah.”
Aruna tersenyum lembut, mengingat masa-masa lalu mereka yang terasa jauh namun juga dekat. “Yah, yaudahlah Rav, udah lama juga. Santai aja kalau sekarang.”
Ravi penasaran, “Kalau boleh tahu, dari kapan lo naksir gue, Na?”
Aruna mengetuk-ketukkan jarinya di dagu, tanda berpikir mendalam. Ia mencoba mengingat kembali saat-saat mereka di sekolah, walau hanya sebentar.
“Kayaknya dari jaman lo jelasin soal asimtot di depan kelas deh, Rav.” Aruna akhirnya mengungkapkan dengan nada penuh nostalgia.
Ravi memperlihatkan senyum lebarnya, matanya mengerjap cepat, membuat bulu matanya ikut bergerak. Aruna selalu iri dengan bulu mata dan alis tebal Ravi. Bagi Aruna, kombinasi keindahan wajah Ravi dan segala ekspresi yang dibuat Ravi selalu tampak lucu.
“Astaga, Aruna, itu jaman gue masih kacau banget.” Ravi mengatakan dengan suara rendah, merasakan kembali ketidakpastian yang ia rasakan saat itu. Saat itu, Ravi hanyalah siswa SMA biasa yang bahkan tidak bisa menjelaskan apa itu ‘garis asimtot’. Buat Ravi, saat itu merupakan kejadian memalukan yang seharusnya tidak diingat oleh orang lain.
Aruna tertawa kecil, mengenang kembali momen-momen itu. “Lo lucu waktu jelasin asimtot. Penjelasan lo bener, tapi lo enggak percaya diri buat jelasin, dan itu lucu banget.”
Ravi terdiam sejenak, lalu tertawa bersama Aruna. Tawa mereka mengalir ringan dan bebas, menandakan betapa berartinya kenangan-kenangan lama itu. Ravi merasa sedikit lega dan lebih nyaman saat mendengar bahwa kenangan yang mungkin dianggapnya memalukan ternyata diingat dengan senyuman.
“Kalau sekarang, gue masih lucu, Na?” Ravi bertanya, menatap Aruna dengan tatapan penuh harap. Ia penasaran apakah kesannya saat ini sama seperti dulu.
Aruna terdiam sejenak, menatap Ravi dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Mereka berdua saling bertukar pandang, merasakan suasana yang lebih akrab dan hangat di antara mereka. Dalam keheningan sejenak itu, mereka seperti menyadari kedekatan yang baru terjalin, sebuah koneksi yang terasa lebih dalam dan lebih berarti daripada sebelumnya.
Mata Aruna menyoroti setiap detail ekspresi Ravi, merasakan kehangatan dari kejujuran dan keterbukaan yang baru saja terungkap. Sementara itu, Ravi merasa seperti dia baru saja menemukan kembali bagian dari dirinya yang selama ini hilang. Ada sesuatu yang sangat spesial dari momen ini — sebuah perasaan bahwa mereka berdua benar-benar saling memahami, tidak hanya sebagai teman lama tetapi sebagai individu yang telah berkembang dan berubah.
Suasana di kafe yang semakin malam membuat percakapan mereka terasa semakin intim. Keramaian di sekeliling mereka seperti menghilang, dan hanya ada mereka berdua yang merasa terhubung dengan cara yang sangat pribadi. Setiap tawa, setiap senyuman, dan setiap kata terasa lebih berharga, seolah mereka baru saja menemukan kembali bagian dari diri mereka yang telah lama hilang.
“Gue rasa, lo masih lucu, Rav. Bahkan lebih dari dulu. Ekspresi lo, gaya bicara lo, cara senyum lo, hm… kayaknya hampir semuanya lucu.” Aruna akhirnya menjawab dengan penuh kehangatan.
“Tapi yang sekarang lebih gue suka adalah sikap percaya diri lo. Lo juga sekarang lebih mature dan itu bikin lo jadi lebih menarik, Rav.”
Ravi tersenyum lembut, Aruna membalas senyuman Ravi juga tidak kalah hangat. Momen-momen kecil seperti ini, yang mungkin tampak sepele bagi orang lain, ternyata sangat berarti bagi mereka. Ini adalah kesempatan untuk mengeksplorasi kembali hubungan yang lama terputus dan membangun sesuatu yang baru dari dasar yang telah ada.












