Kenapa saya harus menulis blog?
Sebagai seorang pribadi introver yang irit bicara, saya tetaplah seorang wanita yang memiliki kebutuhan untuk mengeluarkan puluhan ribu kata tiap harinya. Untuk itulah, menulis menjadi pilihan saya untuk mencurahkan berbagai pikiran dan perasaan yang sedang melanda diri. Lagipula menulis itu ada proses editing. Berbeda dengan berbicara yang sekali jeplak tidak bisa ditarik kembali. Menulis membutuhkan proses kontemplasi agar hasilnya sarat makna dan mudah dicerna.
Awalnya, saya hanya senang menulis untuk diri sendiri saja. Karena dengan menulis, saya merasa jauh lebih tenang dan rileks. Inilah manfaat yang saya rasakan dari menulis yaitu sebagai self-healing. Menulis membuat beban dan permasalahan yang sedang saya hadapi tampak lebih sederhana, seolah seperti terurai dari gumpalan kusut tak berbentuk. Saya menjadi paham tentang apa yang sebenarnya saya rasakan dan pikirkan. Entah itu adalah rasa takut, khawatir, atau cemas. Emosi-emosi itu lebih jelas dibanding dengan hanya sekadar melabelinya dengan rasa sedih atau galau.
Hingga suatu saat pernah terbersit di benak saya bahwa saya bukanlah seorang komunikator ulung yang mampu bercerita dengan gaya kharismatik di depan para pendengarnya. Namun, seorang penulis juga tidak kalah hebat memesonanya di mata saya. Tulisan itu tidak akan lekang oleh zaman yang silih berganti. Ia akan kekal menjadi sebuah karya, bahkan walau si penulis telah tiada sekalipun.
Sungguh, menulis adalah investasi yang menguntungkan. Karena jika tulisan itu adalah berupa kebaikan, maka ia akan menjadi ilmu yang bermanfaat yang pahalanya akan terus mengalir tiada terputus. Lantas, saya tidak ingin melewatkan begitu saja kesempatan emas seperti ini. Saya yakin bahwa tiap tulisan akan menemukan pembacanya. Walaupun terkadang masih ada perasaan bahwa tulisan-tulisan saya begitu receh, tapi siapa tahu ada yang bisa ikut memetik hikmahnya juga bukan?
Maka, meski rasa minder kurang percaya diri masih sering membayangi, namun saya ingin selalu berusaha untuk memantaskan diri. Dengan begitu, tidak ada pilihan lain untuk terus belajar lagi dan lagi.
*ditulis untuk challenge nulisyuk batch 27










