Berburu Oleh-Oleh di Lembang
Walaupun tahun lalu saya dan suami masih bermukim di Bandung, tetap saja dinginnya hawa Lembang masih terasa menusuk tulang. Hembusan nafas kami yang menyerupai kabut tipis itu pun beradu, lantas menghilang. Seolah kami sedang mereka ulang adegan yang sering terjadi di drama-drama korea ketika kedua lakon tengah berjumpa kala musim dingin. Langit senja disinipun begitu indah, karena tidak terhalang oleh banyaknya gedung bertingkat. Namun, selepas matahari terbenam, temperatur bisa terus turun hingga 19 derajat celcius saja. Kalau sudah begitu, selimut plus minuman hangat menjadi penawar yang selalu dicari.
Cuaca dingin itulah yang membuat aneka buah dan sayur dapat tumbuh subur di dataran tinggi Lembang. Apabila pemukiman di perkotaan sangat padat penduduk, disini kita masih bisa menemukan hamparan kebun yang bersebelahan dengan rumah-rumah warga. Maka, cobalah bertandang ke sini ketika sedang masa panen. Sungguh pemandangan yang elok di mata ketika dapat menemukan tomat yang sudah memerah, selada yang merekah segar, juga jeruk yang ranum buahnya.
Hasil panen tersebut kemudian akan diangkut menuju pasar-pasar yang dipadati para pembeli. Pagi-pagi adalah waktu yang paling tepat untuk menyambangi Pasar Panorama Lembang, karena semua produk masih lengkap dan segar. Jika kita menyusuri tangga menuju ke bawah, kita akan dapat menjumpai berbagai produk segar mulai dari sayur, rempah, buah, juga daging dan ikan. Jangan sampai tersesat ya, karena pasar ini sangat luas. Penataan jongko-jongko belum diatur berdasarkan produk yang dijual sehingga semuanya masih bercampur jadi satu. Sementara itu menaiki tangga akan mengantarkan kita pada berbagai penjual elektronik, pakaian, dan kosmetik.
Saat menyusuri pasar, sesekali pedagang akan menawari kita untuk berbelanja di tempat mereka. Tapi ingat, harus tetap fokus dengan daftar belanjaan ya, alih-alih pengeluaran bisa jebol. Apalagi terkadang ada genangan air yang menghadang, jadi pandangan harus awas. Gunakan sandal jepit saja agar lebih nyaman untuk bergerak ke sana kemari.
Walupun begitu, asyiknya belanja disini adalah harganya yang lebih miring dibandingkan dengan di kota. Berbagai sayuran atau buah yang anti mainstream pun dapat kita jumpai disini. Terong belanda juga sawo yang jarang saya temui di Bandung banyak bertebaran di tempat ini. Saya yang tadinya hanya mengenal bayam dan kangkung saja, jadi bisa menjajal genjer, daun ubi, bahkan jantung pisang. Cabe gendot yang montok lagi hijau itu juga kerap menjadi buruan favorit para pelancong karena kekhasannya. Tumis cabe gendot ini dengan tahu kulit maka dijamin akan menjadi sajian yang sedap menggugah selera.
Setalah puas mengitari pasar, maka selanjutnya kita bisa singgah di sentra susu Lembang yaitu di KPSBU. Pecinta susu sapi akan dimanjakan lidahnya oleh berbagai olahan susu yang tersedia seperti susu pasteurisasi, yoghurt, tahu susu, hingga dodol dan kerupuk. Primadonanya tentu adalah susu murni. Gurihnya susu murni tentu jauh mengalahkan susu kemasan pabrik. Apalagi menyeruput lemak susu yang lembut itu, nikmat sekali rasanya. Meja dan kursi panjang berjejer rapi disini agar pengunjung bisa melepas lelah sambil menikmati aneka penganan. Aroma ketan bakar yang wangi juga tidak mau kalah ikut menggoda tamu yang berkunjung. Sering kali mereka menyerah, kare akhirnya colenak pun turut serta memeriahkan meja makan.
Masih belum puas juga? Tenang, Lembang masih punya banyak oleh-oleh khas yang sayang untuk dilewatkan. Penikmat bolu tentu harus mencicipi Bolu Susu Lembang dengan tiga varian rasa yaitu original, susu, dan coklat. Ada juga Pia Sophia yang garing kulitnya tapi lembut isiannya. Es mambo juga cocok sekali untuk melepas dahaga setalah seharian berwisata. Sebelum pulang, mampir dulu ke Tahu Tauhid untuk menyantap tahu legendaris ini. Air di Lembang ini konon sangat cocok untuk memproduksi tahu dengan citarasa yang enak.
Ah, siapa yang tidak betah berlama-lama menjelajahi Lembang kalau suguhannya adalah suasana yang masih asri dan sejuk begini. Hidangan apapun yang dinikmati di sini akan terasa lebih sedap karena suasana yang nyaman. Jadi setidaknya, dengan membawa pulang berbagai buah tangan membuat rindu akan Lembang menjadi terobati dan tentunya menyiapkan rencana untuk menjelajahinya lagi di tanggal merah selanjutnya. Selamat liburan!
*ditulis untuk challenge nulisyuk batch 27













