Bulan Desember
Tak pernah terpikir sebelumnya, namun hanya beberapa firasat yang selalu mengangguku. Bukan hanya satu atau dua hari, tapi lebih dari dua hari firasat selalu menghantuiku. Bukan bernegatif thinking, tapi sepertinya memang itu akan terjadi, bahkan terjadi sangat cepat menurutku.
Hanya menunggu waktu yang terus berjalan, hari demi hari, dan akhirnya tengggg! Tepat pertengahan bulan, saat pagi tiba aku sangat menantikan senja tiba, entah kenapa aku tidak sabar menanti sore hari, menantikan waktu untuk mengungkapkan semuanya.
Saat senja tiba, aku bersiap bergegas keluar dari meja kerjaku. Dan ya, kau dan aku saling berhadapan berbincang sambil minum sebotol Aqua untuk berdua, setelah sekian lama berbincang, tiba giliranku untuk berbicara, entah kenapa tanganku gemetaran saat ingin membicarakan itu, tapi kuberanikan untuk mengatakannya.
Sakit? iya. Sedih? pastinya. Aku tidak menyalahkannya, aku tidak menghakimi nya, hanya saja sedikit kecewa dan sakit yang luar biasa. Bukan masalah alasan, aku mengerti jika alasanmu baik dan aku yakin kau pasti akan melakukannya walaupun tidak segampang yang ku pikir.
Kenapa tidak dari dulu kau mengatakannya? hingga membuat ku teramat sangat terhipnotis oleh sosokmu? apa kau menunggu saat dimana, aku sedang benar2 mencintaimu? lalu kau tinggalkan, dengan alasanmu yang membuatku sangat luluh. sedangkan kau? menurutku, kau sudah tidak lagi menyayangiku bukan? rasa itu sudah tidak ada sejak lama kan? Sudahlah, aku tau semuanya, walaupun Rabb-ku lebih tau.
Dengar. Aku sudah memaafkanmu, walaupun tidak mudah. Dan maaf caramu menyakitiku masih kuingat dengan jelas. Ya, setiap inchi dan rumitnya kisah yang kau sengaja bersamanya.
Teruntuk kamu mas, ah tidak, maksudku mantan, semoga kau tak menyesal dikemudian, tapi tunggu, aku tidak mengatakan bahwa aku lebih baik darinya. Hanya saja, keadilan di dunia masih berlaku bukan?
Bukan dendam, melainkan perihal keadilan Tuhan.
Salam,
-perempuanyangberbeda-








