#repost from @arimacswilander Ojung. #ojung culture#bondowoso#east java#culture#2012 ======================================= Follow dan tag @_humaninterest di foto yang kamu upload Gunakan hastag #_humaninterest https://www.instagram.com/p/BxQmfUCHGju/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1d1dqgyy5dq86
#repost from @ruliscahyani_ Tradisi ojung adalah sejenis permainan tradisional yang bersifat religius-magis, Permainan yang berasal dari madura ini mempertemukan keahlian bertarung dan kanuragan, seni tradisi ini melibatkan dua orang yang beradu fisik dengan menggunakan media rotan sebagai alat pemukul. Awalnya, tradisi ini diadakan dengan tujuan untuk meminta turunnya hujan agar desa terhindar dari kekeringan ketika musim kemarau panjang. Namun dengan seiring berjalannya waktu pada era modern ini tradisi ojung menjadi sebuah hiburan bagi masyarakat. Walaupun permainan ini mengandalkan kekerasan.tapi tak satupun orang merasa tersakiti. #lumajang #senitradisional #ojung #madura #instanusantara #instalumajang #iamnikon ======================================= Follow dan tag @_humaninterest di foto yang kamu upload Gunakan hastag #_humaninterest https://www.instagram.com/p/BxQlvtOHYl3/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=9fxi4lwyv5th
Gelar Ojung untuk Minta Hujan TONGAS - Warga Dusun Gunung Tugel, Desa Curah Tulis, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo menggelar tradisi ojung, sebagai tradisi untuk meminta hujan.
Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan seringkali dipandang sebagai pembawa berkah karena hujan yang turun memberikan kehidupan bagi makhluk hidup dan mengairi persawahan. Sebaliknya, musim kemarau yang berkepanjangan dianggap musibah karena sawah-sawah menjadi kering karena tak terairi dengan baik. Hasil panen pun merosot.
Muncullah berbagai ritual sebagai wujud permohonan kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan. Jadi, tidak hanya suku-suku Indian di Amerika yang kondang akan ritual pemanggil hujan, sejumlah daerah di Indonesia juga memiliki upacara khusus untuk memohon datangnya hujan. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Ojug atau Ojung
Source : Ojung, Desa Blimbing, Bondowoso
Ritual pemanggil hujan ini berkembang di Desa Klabang, Bondowoso, Jawa Timur. Biasanya, Ojung diawali dengan pagelaran tari topeng kuna dan rontek singo wulung. Dua tarian ini sebenarnya mengisahkan tentang Jung Sek atau demang yang bertugas menjalankan pemerintahan di Bondowoso. Dalam melaksanakan tugasnya, Jung Sek dibantu oleh pengikutnya yang bernama Jasiman dan murid-muridnya. Jung Sek juga dibantu oleh seekor singa untuk membantu mengusir penjajah.
Uniknya, para pemain mengenakan pelindung dari karung goni pada bagian badan dan kepala untuk melindungi diri dari pukulan rotan, namun ada juga yang hanya bertelanjang dada. Umumnya, Ojung diadakan untuk memohon kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan serta mengusir hal-hal yang jahat dan nasib buruk.
Ujungan
Tradisi ini berkembang di daerah Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Sepintas tradisi ini mirip dengan Ojung. Tradisi ini merupakan adu pukul rotan yang juga diawali dengan tarian dan iringan dari sorak sorai penonton. Bedanya, pemain Ujungan menggunakan penahan pada sebelah tangannya. Ujungan yang dilakukan sekitar bulan September ini biasanya diadakan dalam jumlah ganjil, misalnya satu, tiga, atau lima kali hingga hujan turun.
Gedup Ende
Bali juga memiliki ritual untuk memanggil hujan yang disebut Gedup Ende. Tradisi ini juga mirip dengan Ujungan dan Ojung. Gedup artinya memukul. Tradisi ini menggunakan sarana berupa rotan sepanjang 1,5 - 2 meter. Sementara itu, ende adalah tameng yang terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan dan dianyam sehingga berbentuk bundar. Adu pukul ini memiliki wasit yang disebut saye. Saye-lah yang menentukan berakhirnya sbeuah pertandingan jika salah satu pemainnya dalam posisi terdesak atau dinyatakan kalah.
Cambuk Badan
Tradisi ini banyak berkembang di daerah Tulungagung, Jawa Timur dan Boyolali, Jawa Tengah.
Cambuk Badan juga bisa disebut Tiban. Tradisi ini berawal dari pencarian bibit prajurit yang tangguh dan perkasa. Namun, kini tradisi ini kini diadakan untuk memohon kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan. Tradisi ini kemudian berkembang di daerah Blitar, Trenggalek, Kediri, dan Ponorogo.
Cowongan
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Dewi Sri atau Dewi Padi akan membantu menurunkan hujan melalui upacara cowongan. Dewi Sri akan datang melalui pelangi yang turun ke bumi untuk membantu memberikan kemakmuran dan kesejahteraan.
Tradisi ini berasal dari kata "cowong" atau therok, cemong, dan perong, yang dalam bahasa Jawa Banyumasan diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan seseorang untuk menghias wajah.
Tradisi ini berkembang di daerah Desa Plana Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Cowongan hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang diidentikkan dengan sosok bidadari. Ritual ini biasanya diadakan pada musim kemarau atau sekitar bulan September - Oktober.
Sumber : Harian Kompas, hlm.45 | Klasika | 23 Maret 2013