Ujungan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara yang digelar pada musim kemarau berkepanjangan dengan tujuan untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan. Tongkat pemukul terbuat dari rotan yang diameternya sebesar ibu cari kaki dewasa dengan panjang sekitar 80 cm.
Konon ujungan ini bermula dari suatu peristiwa cekcok mulut antara para among tani yang kadang-kadang sampai berujung pada bentrok fisik. Cekcok yang berujung pada bentrok fisik itu terjadi karena perebutan air pada musim kemarau panjang. Pada suatu ketika, para among yang bentrok memperebutkan air ini dibawa ke pengadilan desa dan diadili oleh seorang demang. Oleh demang mereka justru disuruh melakukan sabetan (ujungan) saja, dengan harapan Tuhan akan merasa belas kasihan dan segera menurunkan hujan.
Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan seringkali dipandang sebagai pembawa berkah karena hujan yang turun memberikan kehidupan bagi makhluk hidup dan mengairi persawahan. Sebaliknya, musim kemarau yang berkepanjangan dianggap musibah karena sawah-sawah menjadi kering karena tak terairi dengan baik. Hasil panen pun merosot.
Muncullah berbagai ritual sebagai wujud permohonan kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan. Jadi, tidak hanya suku-suku Indian di Amerika yang kondang akan ritual pemanggil hujan, sejumlah daerah di Indonesia juga memiliki upacara khusus untuk memohon datangnya hujan. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Ojug atau Ojung
Source : Ojung, Desa Blimbing, Bondowoso
Ritual pemanggil hujan ini berkembang di Desa Klabang, Bondowoso, Jawa Timur. Biasanya, Ojung diawali dengan pagelaran tari topeng kuna dan rontek singo wulung. Dua tarian ini sebenarnya mengisahkan tentang Jung Sek atau demang yang bertugas menjalankan pemerintahan di Bondowoso. Dalam melaksanakan tugasnya, Jung Sek dibantu oleh pengikutnya yang bernama Jasiman dan murid-muridnya. Jung Sek juga dibantu oleh seekor singa untuk membantu mengusir penjajah.
Uniknya, para pemain mengenakan pelindung dari karung goni pada bagian badan dan kepala untuk melindungi diri dari pukulan rotan, namun ada juga yang hanya bertelanjang dada. Umumnya, Ojung diadakan untuk memohon kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan serta mengusir hal-hal yang jahat dan nasib buruk.
Ujungan
Tradisi ini berkembang di daerah Purbalingga dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Sepintas tradisi ini mirip dengan Ojung. Tradisi ini merupakan adu pukul rotan yang juga diawali dengan tarian dan iringan dari sorak sorai penonton. Bedanya, pemain Ujungan menggunakan penahan pada sebelah tangannya. Ujungan yang dilakukan sekitar bulan September ini biasanya diadakan dalam jumlah ganjil, misalnya satu, tiga, atau lima kali hingga hujan turun.
Gedup Ende
Bali juga memiliki ritual untuk memanggil hujan yang disebut Gedup Ende. Tradisi ini juga mirip dengan Ujungan dan Ojung. Gedup artinya memukul. Tradisi ini menggunakan sarana berupa rotan sepanjang 1,5 - 2 meter. Sementara itu, ende adalah tameng yang terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan dan dianyam sehingga berbentuk bundar. Adu pukul ini memiliki wasit yang disebut saye. Saye-lah yang menentukan berakhirnya sbeuah pertandingan jika salah satu pemainnya dalam posisi terdesak atau dinyatakan kalah.
Cambuk Badan
Tradisi ini banyak berkembang di daerah Tulungagung, Jawa Timur dan Boyolali, Jawa Tengah.
Cambuk Badan juga bisa disebut Tiban. Tradisi ini berawal dari pencarian bibit prajurit yang tangguh dan perkasa. Namun, kini tradisi ini kini diadakan untuk memohon kepada Yang Mahakuasa untuk menurunkan hujan. Tradisi ini kemudian berkembang di daerah Blitar, Trenggalek, Kediri, dan Ponorogo.
Cowongan
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Dewi Sri atau Dewi Padi akan membantu menurunkan hujan melalui upacara cowongan. Dewi Sri akan datang melalui pelangi yang turun ke bumi untuk membantu memberikan kemakmuran dan kesejahteraan.
Tradisi ini berasal dari kata "cowong" atau therok, cemong, dan perong, yang dalam bahasa Jawa Banyumasan diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan seseorang untuk menghias wajah.
Tradisi ini berkembang di daerah Desa Plana Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Cowongan hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang diidentikkan dengan sosok bidadari. Ritual ini biasanya diadakan pada musim kemarau atau sekitar bulan September - Oktober.
Sumber : Harian Kompas, hlm.45 | Klasika | 23 Maret 2013