Pulang
1 Langkahnya tanpa ragu berlalu, tak merasa peduli untuk sekedar memastikan aku beranjak dari dudukku. Tanpa sadar tertunduk pandanganku menatapi ujung sepatu, bagaimana semua bisa berubah secepat ini? Aku mengedarkan pandanganku untuk menemukan dia yang sedang berkelakar dengan teman-teman sepermainannya. Aku terus mengedarkan pandanganku, demi menemukan dia yang kemudian tertegun menatap langsung ke kedua bola mataku. Akupun tidak mengalihkan pandanganku, demi bisa lebih lama menatap sepasang mata teduh yang aku rindukan beberapa bulan belakangan. Kami saling menatap, jika bisa berlebihan mungkin dia bisa melihat seluruh isi hatiku dengan pandangan mata yang tidak berpaling seperti itu. Tapi, apa itu dimatanya? Aku melihat kegusaran. Sinar teduhnya meredup digantikan mendung yang aku tidak mengerti apa artinya. Melihatnya begitu sangat mengusikku. **************** 2 “apa tinggal di surabaya begitu berat?”ujarku tanpa menatap langsung kepadanya yang kini duduk di sampingku, kami duduk-duduk di bawah pohon dekat kantor pos. Suasana siang ini teduh, seperti pancaran matanya yang amat kusukai. Ia menghela nafas berat, seperti bersiap akan bercerita tentang sesuatu yang membebaninya.
“saya rindu rumah...dan rindu kamu” ucapnya memberi sedikit jeda, namun tetap saja aku gagal mencerna jawabannya. Aku bahkan takut kalau salah dengar dan menoleh untuk meyakinkan pendengaranku, barusan seperti ia menyebutkan sesuatu tentang rindu rumah dan merindukanku.
“kamu tidak salah dengar, apa yang kamu dengar tadi memang sesuatu yang saya rasakan..” ujarnya lagi seakan bisa membaca pikiranku, aku menatap entah kemana. Kemana saja asal jangan wajahnya, sensasi aneh menjalari tanganku, sesaat aku merasa seperti kesemutan. Sedetik kemudian bibirku membentuk senyuman tanpa kusadari. ***************** 3 Hari beranjak gelap, angin berhembus tanpa permisi mulai menggelitik pori-pori. Beberapa menit lalu, kami masih saja duduk berdampingan tertegun dengan pikiran kami masing-masing. Begitulah cara aneh kami untuk melepaskan rindu. Saat aku ingin beranjak dan mengajaknya juga, ia menahanku untuk tetap tinggal. Ia menatapku sendu memintaku untuk bertahan seperti itu sedikit lebih lama. Tangannya bahkan berubah dingin. Namun, aku masih menemukan kehangatan di balik senyum tipisnya. Aku menurut saja.
“saya tidak tahu kapan lagi saya bisa bersama kamu seperti ini... jadi saya mohon jangan pergi sekarang, tetap disini setidaknya sedikit lebih lama... saya hanya minta itu saja...” Matanya semakin redup ditambah temaram senja. Ada jarak yang tidak bisa disangkal, meski kini kami duduk bersebelahan. Kami hanya duduk diam tanpa saling bicara, entah mengapa hari ini dia berubah menjadi sangat pendiam.
********************* 4 Jalanan mulai sepi, agaknya kami sudah terlalu lama duduk tanpa melakukan apa-apa. Pesta reuni sudah usai sejak beberapa jam yang lalu, bahkan teman-teman kami bahkan tidak merasa perlu mencari kami yang tidak juga kembali ke tengah-tengah pesta. Agaknya mereka memahami bahwa kami butuh waktu untuk kami sendiri.
“kapan kamu akan kembali kesini lagi? Seharian bersama kamupun rasanya masih belum cukup, dar...” tanyaku retoris, bulan purnama menggantung sempurna di langit pekat. Haedar hanya menoleh tanpa bicara apapun, sinar matanya begitu sendu, berkilat dalam keremangan pencahayaan bangku taman ini. Mengapa sedari tadi pancaran matanya begitu mengganggu perasaanku?
“tidak bisakah jika saya tidak perlu menjawabnya? Saya pun tidak tahu kapan saya bisa kembali menemui kamu,Han...” ujarnya menunduk murung. Bukan maksudku untuk membuatnya merasa sedih setelah lama kami sudah tidak bertemu, hanya saja sesuatu yang janggal tentang gelagat Haedar hari ini, membuatku tidak tahan untuk menanyakan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum terjadi.
“maafkan saya Haedar... mungkin saya terlalu merindukan kamu, makanya saya menanyakan hal itu kepada kamu....”balasku mencoba membuat Haedar mengangkat wajahnya dan menatap kepadaku, benar saja perlahan Haedar mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk dan perlahan mengalihkan pandangannya kepadaku. Raut wajah Haedar yang hangat, betapa aku sangat merindukannya. Seperti itu saja, hanya saling menatap untuk beberapa saat hingga kemudian kudengar Haedar berucap lirih,
“saya tahu... saya tahu kamu merindukan saya. Maka itu saya kembali untuk bertemu kamu....” ********************************** 5 Kami berjalan pulang beriringan, langkah-langkah kaki kami tanpa direncanakan berubah perlahan saat hampir mencapai jalanan dekat rumahku. Kendaraan lalu-lalang seakan lenyap dalam keheningan, yang ada hanya tinggal aku dan Haedar. Langkahnya ragu, berbanding terbalik dengan langkah kakinya pagi ini kala pertama bertemu kembali denganku. Hingga detik ini aku belum memperoleh jawaban atas pancaran matanya yang sendu mengusikku.
“sudah sampai...” ujarnya lirih seraya tengadah menatap ke arah rumahku. Hatiku mencelos, kenapa waktu berpisah datang begitu cepat? Aku mencoba tersenyum meski aku yakin senyum ini adalah senyum paling canggung yang bisa aku berikan untuk Haedar sebagai hadiah perpisahan.
“haedar....”
“saya senang bisa bertemu dengan kamu hari ini... terimakasih sudah menjalani hidup kamu dengan baik selama saya tidak ada. Setelah ini akan ada hari-hari panjang dimana kamu dan saya akan saling merindukan. Saya harap kamu akan tetap menjalani hidup kamu dengan baik, meski saya tidak ada di dekat kamu lagi...” ujarnya seraya meraih jemari dan menatapku dalam. Aku tahu ada sesuatu yang tidak benar dari ucapan Haedar barusan. Haedar tersenyum. Senyum yang begitu pedih, sebuah jejak air mata tercetak jelas di wajah tegasnya. Bahkan saat melihat Haedar menangis begitu, tidak ada yang bisa aku lakukan, aku membeku tak mampu meraih wajah Haedar untuk sekedar menghapus air matanya. Hanya bisa berdiri dan menatap Haedar. Haedar tidak pergi. Haedar masih disini. Haedar masih ada di hadapanku, namun aku merasakan jarak yang begitu nyata memisahkan kami berdua. *********** 6 Haedar tidak pernah kembali sejak itu. Pada dasarnya ia tidak pernah datang ke Pesta Reuni itu. Haedar yang ku temui hari itu memang mungkin hanya imajinasi yang kupaksakan. Aku sudah membaca surat kabar nasional pagi itu, sebuah berita di sudutnya tentang sebuah kecelakaan maut yang menewaskan semua penumpang Bis Surabaya- Semarang masuk ke jurang di wilayah perbatasan. Kabar terakhir yang dikirim Haedar bahwa ia akan pulang hari itu juga sudah kuterima sejak seminggu sebelumnya. Sejak awal semuanya sudah begitu jelas, namun semuanya ini terlalu tiba-tiba. Seharusnya aku sudah tahu bahwa Haedar tidak pernah datang ke reuni itu, perubahan sikapnya yang begitu drastis, semua perkataannya yang begitu janggal, harusnya aku bisa membaca pertanda. Haedar pulang untuk terakhir kalinya, untuk membayar rinduku.
“......saya senang bisa bertemu dengan kamu hari ini... terimakasih sudah menjalani hidup kamu dengan baik selama saya tidak ada. Setelah ini akan ada hari-hari panjang dimana kamu dan saya akan saling merindukan. Saya harap kamu akan tetap menjalani hidup kamu dengan baik, meski saya tidak ada di dekat kamu lagi....”
Pertandanya begitu jelas, kalimat terakhir Haedar yang diucapkannya diiringi air mata yang tak sempat aku hapuskan. Kalimat terakhir yang tidak aku pahami maksudnya. Kini yang ada hanya aku yang akan lebih merindukan Haedar, lebih merindukannya dari pada yang biasa aku lakukan.
FIN








